April 16, 2014

Pengaruh Kemampuan Numerik, Kemampuan Logika Abstrak Dan Aktivitas Belajar Matematika
Terhadap Prestasi Belajar Matematika


Contoh Tesis Pendidikan Matematika Pengaruh Kemampuan Numerik, Kemampuan Logika Abstrak Dan Aktivitas Belajar Matematika
Terhadap Prestasi Belajar Matematika
Siswa Kelas XI

Latar Belakang Masalah

Ide manusia tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada pengetahuan dan pengalaman masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa matematika hanya perhitungan yang mencakup tambah, kurang, kali dan bagi, tetapi ada pula yang melibatkan topik-topik seperti aljabar, geometri dan trigonometri. Banyak pula yang beranggapan bahwa matematika mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan berfikir logis. Salah satu kecenderungan yang menyebabkan sejumlah siswa gagal menguasai dengan baik pokok-pokok bahasan dalam matematika yaitu siswa kurang menggunakan logika dalam menyelesaikan soal atau persoalan matematika yang diberikan. Kesulitan siswa biasanya terletak pada aspek imajinasi, artinya siswa kurang bisa mengekspresikan imajinasi ke dalam bentuk nyata. Dari sini terlihat bahwa kemampuan logika abtrak itu diperlukan guna mencapai hasil yang lebih baik di dalam menyelesaikan suatu persoalan. Stephivan Goe dalam Filosofi Pendidikan mengatakan bahwa yang menjadi masalah besar dalam pendidikan matematika adalah membangkitkan rasa percaya diri siswa terhadap kemampuan numerik dan logika dan daya kreativitas siswa dalam memecahkan soal.

Prestasi belajar matematika dipengaruhi oleh banyak faktor. Secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Salah satu faktor internal selain kemampuan numerik dan kemampuan logika abstrak yaitu aktivitas. Pada proses belajar mengajar yang berlangsung di kelas, siswa dituntut aktivitasnya untuk mendengarkan, memperhatikan dan mencerna pelajaran yang diberikan oleh guru. Dalam perkembangannya kegiatan belajar mengajar saat ini berorientasi pada siswa (student center), jika siswa tidak terlibat aktif maka siswa akan mengalami kesulitan dalam proses belajar mengajar.

 

B. Identifikasi Masalah

Dari uraian latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, masalah- masalah yang timbul dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Rendahnya prestasi belajar matematika siswa, ada kemungkinan disebabkan 
adanya kekeliruan dalam pemahaman dan penerapan konsep.

2. Masih rendahnya prestasi belajar matematika, ada kemungkinan disebabkan masih rendahnya kemampuan numerik siswa, sehingga perlu diketahui apakah 
kemampuan numerik mempengaruhi prestasi belajar matematika siswa.

3. Masih rendahnya prestasi belajar matematika, ada kemungkinan disebabkan masih rendahnya kemampuan logika abstrak siswa, sehingga diketahui apakah 
kemampuan logika abstrak mempengaruhi prestasi belajar matematika siswa.

4. Ada kemungkinan perbedaan aktivitas belajar siswa dapat menyebabkan perbedaan prestasi belajar matematika siswa.

 

E. Perumusan Masalah

Berpijak pada identifikasi masalah dan pembatasan masalah maka untuk memperjelas permasalahan yang akan diteliti maka dirumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah kemampuan numerik yang lebih tinggi dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan numerik yang lebih rendah?
  2. Apakah kemampuan logika abstrak yang lebih tinggi dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan logika abstrak yang lebih rendah?
  3. Apakah aktivitas belajar matematika yang mendukung dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada Aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung?
  4. Adakah interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik dan kemampuan logika abstrak terhadap prestasi belajar matematika?
  5. Adakah interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik dan aktivitas belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika?
  6. Adakah interaksi yang signifikan antara kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika?
  7. Adakah interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik, kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika?

 

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui

  1. Apakah kemampuan numerik yang lebih tinggi dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan numerik yang lebih rendah
  2. Apakah kemampuan logika abstrak yang lebih tinggi dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan logika abstrak yang lebih rendah
  3. Apakah aktivitas belajar matematika yang mendukung dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung
  4. Ada atau tidak adanya interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik dan kemampuan logika abstrak terhadap prestasi belajar matematika
  5. Ada atau tidak adanya interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik dan aktivitas belajar mateamtika terhadap prestasi belajar matematika
  6. Ada atau tidak adanya interaksi yang signifikan antara kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika
  7. Ada atau tidak adanya interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik, kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika.

Metode Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian kausal komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IS SMA Negeri 1 Jepon tahun pelajaran 2006/2007, yang terdiri dari tiga kelas dengan jumlah siswa sebanyak 128 siswa. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari dua kelas yaitu kelas XI IS 1 dan XI IS 2 yang berjumlah 80 siswa dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan angket, yaitu tes kemampuan numerik dan tes kemampuan logika abstrak serta angket untuk aktivitas belajar matematika siswa.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. Sebagai persyaratan analisis data dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas dengan menggunakan metode Lilliefors, diperoleh sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal karena harga semua Lobs bukan merupakan anggota daerah kritik. Uji homogenitas dengan menggunakan metode Bartlett, diperoleh sampel berasal dari populasi yang homogen karena semua harga c2obs bukan merupakan anggota daerah kritik.

Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:

  1. Terdapat pengaruh yang signifikan kemampuan numerik terhadap prestasi belajar matematika (FA = 5.18 > 3.15=F0.05,2,62),
  2. Terdapat pengaruh yang signifikan kemampuan logika abstrak terhadap prestasi belajar matematika (FB = 12.45 > 3.15=F0.05,2,62),
  3. Terdapat pengaruh yang signifikan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika (FC = 35.05 > 4.00=F0.05,1,62),
  4. Tidak terdapat interaksi antara kemampuan numerik dan kemampuan logika abstrak terhadap prestasi belajar matematika (FAB = 0.73 < 2.52=F0.05,4,62),
  5. Tidak terdapat interaksi antara kemampuan numerik dan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika (FAC = 0.89 < 3.15=F0.05,2,62),
  6. Terdapat interaksi antara kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika (FBC = 5.28 > 3.15=F0.05,2,62),
  7. Tidak terdapat interaksi antara kemampuan numerik, kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika (FABC = 0.29 < 2.52=F0.05,4,62).

Dari hasil uji komparasi ganda dapat disimpulkan bahwa:

  1. kemampuan numerik tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan numerik rendah (F1..-3..=7.34 > 6.30=2F0.05,2,62) dan kemampuan numerik sedang menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan numerik rendah (F2..-3..=6.86 > 6.30=2F0.05,2,62 ),
  2. kemampuan logika abstrak tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan logika abstrak rendah (F.1.-.3.=17.53 > 6.30 = 2F0.05,2,62)
  3. aktivitas belajar matematika yang mendukung menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung
  4. untuk siswa yang mempunyai aktivitas belajar matematika yang mendukung: siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampua logika abstrak sedang (F11-21=19.04 > 11.837=5F0.05,5,62) dan siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampua logika abstrak rendah (F11-31=19.68 > 11.837 = 5F0.05,5,62);
  5. untuk siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak tinggi, siswa yang memiliki aktivitas belajar matematika yang mendukung menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung (F11-12=32.87 > 11.837=5F0.05,5,62);
  6. untuk siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak tinggi dan aktivitas belajar matematika yang mendukung menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak sedang dan aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung (F11-22=27.61 > 11.837=5F0.05,5,62) dan juga menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak rendah dan aktivitas belajar matematika tidak mendukung (F11-32=55.92 > 11.837=5F0.05,5,62);
  7. untuk siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak sedang dan aktivitas belajar matematika yang mendukung menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak rendah dan aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung (F21-32=13.15 > 11.837=5F0.05,5,62).

Incoming search terms:

Pengaruh Ketrampilan Hitung Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Ditinjau dari Interaksi Edukatif Siswa

Contoh Tesis Pendidikan Matematika ~ Pengaruh Ketrampilan Hitung Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Ditinjau Dari Interaksi Edukatif Siswa Kelas XI SMA

Latar Belakang Masalah

Dalam bidang pendidikan timbul suatu proses interaksi antara individu dengan lingkungan sosial dan budaya. Interaksi berarti hal saling melakukan, aksi, berhubungan, mempengaruhi Sikap seorang guru di depan siswa didasarkan atas interaksi edukatif aktif sehingga kegiatan itu merangsang dan menantang siswa untuk ikut terlibat penuh. Interaksi edukatif adalah interaksi belajar mengajar sehingga harus dibedakan dari bentuk interaksi yang lain. Penguasaan berbagai strategi belajar mengajar, pembinaan hubungan guru dengan siswa dan siswa dengan siswa akan sangat membantu terselenggaranya pengelolaan kelas yang baik. Pengelolaan kelas yang baik akan secara langsung memacu terjadinya interaksi belajar mengajar dari semua komponen yang terlibat di dalam proses belajar mengajar tersebut. Guru dan siswa mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari interaksi tersebut apabila diciptakan suatu hubungan atau interaksi yang mendasarkan pada tujuan pendidikan. Dengan demikian jelas bahwa hubungan aktif diperlukan dalam proses belajar mengajar sebagai salah  satu sarana yang menunjang tercapainya keberhasilan belajar siswa.

Jika siswa memiliki ketrampilan hitung yang tinggi dan didukung interaksi edukatif siswa tersebut kemungkinan akan memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik.

Hal inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Ketrampilan Hitung terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Ditinjau dari Interaksi Edukatif Siswa kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar.

A.    Identifikasi Masalah

Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut :

  1. Masih rendahnya tingkat keikutsertaan atau partisipasi para siswa dalam mengikuti pelajaran matematika yang menimbulkan rendahnya prestasi belajar matematika.
  2. Masih kurang lancarnya proses belajar matematika dalam mencapai tujuan pengajaran yang menimbulkan rendahnya prestasi belajar matematika.
  3. Masih kurangnya perhatian guru untuk menumbuhkan dan mengembangkan minat belajar matematika pada diri siswa yang menimbulkan rendahnya prestasi belajar matematika.
  4. Masih adanya guru matematika yang kurang memperhatilakan tingkat interaksi edukatif yang positif antara guru dan siswa yang mendukung keberhasilan proses pengajaran yang dapat menimbulkan rendahnya prestasi belajar matematika.
  5. Rendahnya prestasi belajar akan berakibat pada kemerosotan mutu lulusan sehingga perlu dikaji faktor-faktor penyebab dan upaya untuk mengantisipasi masalah tersebut.
  6. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam proses belajar. Dalam mempelajari matematika perlu dikaji faktor apa saja yang secara dominan mempengaruhi keberhasilannya.
  7. Sebelum mengikuti mata pelajaran setiap siswa telah memiliki kemampuan tertentu dalam bidang matematika yang tentunya berbeda-beda yang akan mempengaruhi keberhasilan siswa dalam mempelajari matematika pada pokok bahasan saat itu.
  8. Kemampuan khusus lain akan mempengaruhi keberhasilan siswa dalam mempelajari matematika sehingga perlu dikaji pengaruh dari ketrampilan hitung dalam menyelesaikan soal matematika.

 

B.    Pembatasan Masalah

Hasil belajar matematika sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor kognitif antara lain kemampuan umum, intelegensi, penalaran deduktif, penalaran induktif, kemampuan numerik, kemampuan verbal dan lain-lain. Dalam penelitian ini hanya akan diteliti faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap prestasi belajar matematika yaitu interaksi edukatif dan ketrampilan hitung. Agar penelitian terarah dan mudah dipahami maka perlu dibatasi permasalahannya sebagai berikut :

  1. Interaksi edukatif dibatasi pada interaksi antar guru bidang studi matematika dengan siswa dalam lingkungan sekolah atau dalam suasana edukatif/belajar.
  2. Ketrampilan hitung dibatasi pada ketrampilan hitung pada penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian.
  3. Prestasi belajar matematika diambil dari data nilai ujian akhir semester.

 

C.   Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang telah dikemukakan, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Apakah siswa yang mempunyai ketrampilan hitung tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika pada ujian akhir semester yang lebih baik dibandingkan siswa yang memiliki ketrampilan hitung sedang dan rendah ? Apakah siswa yang mempunyai ketrampilan hitung sedang menghasilkan prestasi belajar matematika pada ujian akhir semester yang lebih baik dibandingkan siswa yang memiliki ketrampilan hitung rendah ?
  2. Apakah siswa yang mempunyai interaksi edukatif tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika pada ujian akhir semester yang lebih baik dibandingkan siswa yang memiliki interaksi edukatif rendah ?
  3. Apakah ada pengaruh bersama ketrampilan hitung dan interaksi edukatif siswa terhadap prestasi belajar matematika pada ujian akhir semester ?

Incoming search terms:

Implementasi Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di SMP Negeri

Kebijakan pemerintah mengenai Sekolah Bertaraf Internasional didukung secara penuh seperti yang di cantumkan pada UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 50 ayat (3). SBI merupakan proyek prestisius, karena akan dibiayai oleh Pemerintah Pusat 50%, Pemerintah Propinsi 30%, dan Pemerintah Kabupaten/Kota 20%. Pada dasarnya kebijakan Sekolah Bertaraf Internasional merupakan langkah maju untuk memperbaiki kualitas pendidikan. Namun dalam pelaksanaannya, sampai sekarang ini masih terdapat masalah sehingga pelaksanaan program Sekolah Bertaraf Internasional tersebut tidak dapat berjalan dengan lancar.

SMP Negeri 1 Sukoharjo merupakan salah satu sekolah yang mengarahkan sekolahnya menuju sekolah yang berstandar internasional. Pelaksanaan program RSBI di SMP Negeri 1 Sukoharjo diharapkan dapat memberikan kontribusi yang baik terhadap mutu pendidikan di Indonesia. Dan dengan pelaksanaan program RSBI di SMP Negeri 1 Sukoharjo, maka sekolah dapat membekali lulusannya dengan memanfaatkan sumber-sumber yang ada dalam sekolah tersebut serta menciptakan lulusan yang berkualitas internasional. Dengan demikian alumni SMP Negeri 1 Sukoharjo mereka dapat melanjutkan serta diterima ke jenjang berikutnya yaitu SMA (Sekolah Menengah Atas) atau SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) yang favorit.

Perumusan Masalah

Perumusan masalah merupakan pernyataan mengenai permasalahan apa saja yang akan diteliti untuk mendapatkan jawabannya. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka dapat dikemukakan perumusan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah Implementasi Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional 
(RSBI) di SMP Negeri 1 Sukoharjo?
  2. Apa kendala-kendala yang dihadapi SMP Negeri 1 Sukoharjo dalam 
mengarahkan sekolahnya menuju bertaraf Internasional (SBI)?
  3. Usaha-usaha apa saja yang dilakukan SMP Negeri 1 Sukoharjo untuk 
mengatasi kendala tersebut?

 

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

  1. Mengetahui dan mengkaji Implementasi Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di SMP Negeri 1 Sukoharjo
  2. Mendeskripsikan kendala-kendala yang dihadapi SMP Negeri 1 Sukoharjo dalam mengarahkan sekolahnya menuju bertaraf Internasional (SBI)
  3. Mendeskripsikan usaha-usaha apa saja yang dilakukan SMP Negeri 1 Sukoharjo untuk mengatasi kendala tersebut.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan bentuk penelitian deskriptif kualitatif dengan strategi tunggal terpancang. Sumber data yang digunakan adalah informan, dokumen dan arsip, serta tempat/peristiwa. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling dan Snowball Sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancara, analisis dokumen dan arsip, serta observasi. Validitas data yang digunakan adalah trianggulasi data dan trianggulasi metode. Sedangkan Teknik analisis data menggunakan model interaktif mengalir.

Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :

Implementasi Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di SMP Negeri 1 Sukoharjo Tahun Ajaran 2009/2010 tertuang dalam delapan komponen yaitu,

  1. Standar kompetensi lulusan berupa input siswa dengan nilai 75, nilai KKM sedang berjalan menuju KKM ideal yaitu 75, mencapai nilai Ujian Nasional 75 setiap mata pelajaran untuk kelas RSBI, memenuhi SNP dan diperkaya keunggulan mutu lulusan dengan keunggulan tertentu yang berasal dari negara OECD atau negara maju lainnya
  2. Standar isi (kurikulum) menggunakan KTSP Plus ,
  3. Standar proses (proses pembelajaran) berupa pembelajaran yang menumbuhkan dan mengembangkan daya kreasi, inovasi nalar, dan eksperimen untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru, pembelajaran PAKEM, pembelajaran bilingual dan pembelajaran TI,
  4. Standar pendidik dan kependidikan yaitu guru dan karyawan sebagian besar sudah memiliki nilai TOEFL yang berstandar internasional dan Kepala sekolah juga sudah mencapai nilai yang sesuai dengan standar tersebut. Kepala sekolah sudah memenuhi syarat untuk menjadi kepala sekolah RSBI yaitu berpendidikan S2 dari perguruan tinggi yang terakreditasi A, telah mengikuti pelatihan kepala sekolah yang diakui pemerintah, dapat berbahasa inggris secara aktif dan memiliki visi internasional, mampu membangun jejaringan internasional, memiliki kompetensi manajerial serta jiwa kepemimpinan dan entreprenual (kewirausahaan) yang kuat,
  5. Standar sarana dan prasarana yaitu rata-rata rasio jumlah siswa 1:28, perpustakaan memiliki buku cetak untuk setiap mata pelajaran, laboratorium komputer memiliki jumlah komputer yang sesuai dengan jumlah siswa, memiliki buku referensi bagi guru, namun belum memiliki sistem penjaminan keselamatan kerja dalam unit kesehatan,
  6. Standar pembiayaan diperoleh dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah kabupaten, pemerintah propinsi dan Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah,
  7. Standar pengelolaan (manajemen) menggunakan manajemen mutu ISO versi 9001:2008,
  8. Standar penilaian berbasis TIK, melaksanakan ujian sekolah dengan bahasa pengantar bahasa inggris serta melakukan sertifikasi yang diadakan oleh Dirjen Dikdasmen;

Kendala-kendala yang dihadapi SMP Negeri 1 Sukoharjo dalam mengarahkan sekolahnya menuju bertaraf Internasional (SBI) yaitu

  1. Kekurangan dana,
  2. Kualitas SDM belum memenuhi standar dalam sekolah RSBI,
  3. Kurikulum sekolah (RSBI) yang belum memenuhi standar;

Usaha-usaha yang dilakukan SMP Negeri 1 Sukoharjo untuk mengatasi kendala dalam pelaksanaan rintisan sekolah bertaraf internasional yaitu

  1. Mengajukan proposal kepada pemerintah untuk mendapatkan dana pengembangan sekolah,
  2. Memberikan pelatihan- pelatihan untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik,
  3. Pengembangan proses dan isi dari referensi-referensi sekolah bertaraf internasional untuk mengembangkan kurikulum yang diterapkan pada proses pembelajaran.

Pengukuran kinerja Asuransi Jiwa dengan Metode Balanced Scorecard

Judul : Pengukuran kinerja Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 cabang Boyolali dengan metode balanced scorecard.

Asuransi AJB

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam era globalisasi saat ini persaingan bisnis meningkat sangat tajam. Banyak peluang bisnis yang muncul dari berbagai sektor, termasuk sektor jasa yang dapat memperluas kesempatan kerja. Persaingan bisnis yang begitu ketat menuntut perusahaan untuk lebih meningkatkan kinerjanya. Oleh sebab itu perusahaan dituntut melakukan perbaikan terus-menerus. Perusahaan akan dapat melakukan perbaikan bila perusahaan tersebut dapat mengukur kinerjanya dengan baik. Selain dapat melakukan perbaikan, pengukuran kinerja juga dapat digunakan untuk menilai keberhasilan perusahaan dengan membandingkannya dengan kinerja masa lalu.

Dalam sistem pengendalian manajemen, pengukuran kinerja perusahaan merupakan usaha yang dilakukan manajemen untuk mengevaluasi hasil-hasil kegiatan yang telah dilakukan untuk masing-masing pusat pertanggungjawaban, dengan jalan membandingkan hasil yang telah dicapai dengan target yang ingin dicapai.

Selama ini pengukuran kinerja yang banyak digunakan oleh perusahaan adalah pengukuran kinerja tradisional, yang hanya menitikberatkan pada ukuran keuangan. Ukuran keuangan saja tidak dapat memberikan gambaran yang riil mengenai keadaan perusahaan karena tidak memperhatikan hal-hal lain di luar sisi keuangan misalnya sisi pelanggan yang merupakan fokus penting bagi perusahaan dan karyawan, padahal dua hal tersebut merupakan roda penggerak bagi kegiatan perusahaan (Kaplan dan Norton, 2000: 7).

Untuk mengatasi keterbatasan pengukuran kinerja tradisional, Robert S. Kaplan dari Harvard Business School dan David P. Norton yang merupakan presiden Renaissance Solution, Inc., mengemukakan sistem pengukuran kinerja baru yaitu Balanced Scorecard. Balanced scorecard menerjemahkan misi dan strategi ke dalam berbagai tujuan dan ukuran, yang tersusun ke dalam empat perspektif: finansial, pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan (Kaplan dan Norton, 2000: 22). Balanced scorecard tidak hanya sebagai alat pengukur kinerja perusahaan tetapi merupakan suatu bentuk transformasi strategik secara total kepada seluruh tingkatan dalam organisasi. Dengan pengukuran kinerja yang komprehensif, tidak hanya mengukur aspek keuangan saja, tapi penggabungan ukuran keuangan dan non keuangan maka perusahaan dapat berjalan dengan lebih baik. Selain itu, empat perspektif dalam balanced scorecard juga memungkinkan keseimbangan antara tujuan jangka pendek dan jangka panjang.

Balanced scorecard terdiri atas kumpulan ukuran kinerja yang terintegrasi yang diturunkan dari strategi perusahaan dan mendukung strategi perusahaan secara keseluruhan. Sedangkan strategi adalah suatu teori tentang bagaimana perusahaan mencapai sasarannya (Garrison, 2005: 10). Ukuran kinerja berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain, karena setiap perusahaan mempunyai sasaran masing-masing. Dengan pengukuran kinerja yang baik, tidak hanya memperlihatkan ukuran keuangan saja, tapi penggabungan antara ukuran keuangan dan non keuangan maka perusahaan dapat menjalankan bisnisnya dengan baik.

Ditinjau dari system manajemen strategik, balanced scorecard dapat dikatakan sebagai intinya. Perusahaan dalam menghadapi lingkungan bisnis yang kompetitif memerlukan suatu perencanaan yang matang, tidak hanya berorientasi pada masa yang akan datang tapi juga harus bisa mengantisipasi perubahan dalam jangka pendek dan menengah. Oleh karena itu, memahami langkah-langkah manajemen strategik diperlukan untuk dapat menciptakan perencanaan yang matang untuk masa depan perusahaan. Mulyadi (2001:1) menyatakan, ”Balanced scorecard merupakan contemporary management tool yang digunakan untuk mendongkrak kemampuan organisasi dalam melipatgandakan kinerja keuangan.”

 

 

Tujuan pengukuran dalam balanced scorecard bukan hanya penggabungan dari ukuran-ukuran keuangan dan non keuangan yang ada, tapi merupakan hasil dari suatu proses dari manajer kepada bawahannya berdasarkan misi dan strategi perusahaan. Misi dan strategi tersebut harus bisa diterjemahkan dalam tujuan dan pengukuran yang lebih nyata.

AJB Bumiputera 1912 Cabang Boyolali merupakan perusahaan jasa yang bergerak dalam bidang asuransi dengan wilayah pemasaran kabupaten Boyolali. Saat ini AJB Bumiputera Cabang Boyolali belum memanfaatkan Balanced Scorecard untuk mengukur kinerjanya. AJB Bumiputera menggunakan tujuh item pengukuran kinerja, yaitu:

1. Perolehan nasabah

Semakin banyak nasabah yang diperoleh, maka kinerjanya semakin baik. Dengan kata lain, apabila kantor cabang tersebut dapat memenuhi target yang ditentukan oleh kantor pusat, maka kinerjanya dikatakan baik.

2. Perolehan premi

Semakin banyak premi yang diperoleh, maka dapat dikatakan bahwa kinerja yang dicapai semakin baik.

3. Biaya yang dikeluarkan

Biaya yang dikeluarkan, berbanding terbalik dengan kinerja, artinya semakin sedikit biaya yang dikeluarkan oleh suatu kantor cabang, maka kinerjanya semakin baik.

4. Setoran kantor pusat

AJB Bumiputera mempunyai aturan bahwa setiap kantor cabang harus mampu menyetor premi income ke kantor pusat. Semakin banyak setoran premi income, maka semakin baik kinerjanya.

5. Klaim

Bila semakin sedikit nasabah yang mengajukan klaim, maka dapat dikatakan kinerja perusahan atau kantor cabang semakin baik.

6. Persistensi

Suatu kantor cabang yang dapat mempertahankan atau bahkan meningkatkan perolehan income, maka kinerjanya semakin baik.

7. Growth (Peningkatan Pertumbuhan Premi)

Bila dalam satu tahun terakhir,terdapat peningkatan dalam prolehan premi, maka kinerja kantor cabang dikatakan semakin baik.

Metode pengukuran kinerja yang selama ini digunakan AJB Bumiputera bila dijabarkan dalam perspektif balanced scorecard, sudah memenuhi tiga perspektif, yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan (konsumen) dan proses bisnis internal. Dimana dalam tujuh item pengukuran kinerja yang selama ini telah digunakan AJB Bumiputera 1912, perspektif keuangan diukur dari perolehan premi, biaya yang dikeluarkan, setoran ke kantor pusat, dan klaim yang dilakukan oleh nasabah. Sedangkan perspektif konsumen diukur dari perolehan nasabah. Persistensi dan peningkatan pertumbuhan premi dapat dikatakan masuk dalam perspektif proses bisnis internal.

Penulis menawarkan pengukuran kinerja dengan metode balanced scorecard dengan alasan bahwa balanced scorecard mengukur perspektif non keuangan bukan hanya dari sisi pelanggan dan proses bisnis internal, tapi juga dari sisi proses pembelajaran dan pertumbuhan. Dimana perspektif ini sangat penting karena mengukur kinerja perusahaan dari faktor sumber daya manusia, sistem, dan prosedur organisasi yang berperan dalam pertumbuhan jangka panjang.

Pengukuran kinerja dengan menggunakan balanced scorecard pada AJB Bumiputera diharapkan mampu memberikan informasi yang menyeluruh mengenai kinerja perusahaan agar  dengan adanya informasi tersebut, manajemen dapat melakukan tindakan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan sehingga perusahaan dapat berjalan dengan lebih baik.

Atas dasar latar belakang masalah yang diungkapkan penulis di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”Pengukuran  Kinerja Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 Cabang Boyolali dengan Metode Balanced Scorecard Tahun 2008”.

 

B. Perumusan Masalah

Berdasar latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

”Bagaimana kinerja AJB Bumiputera 1912 Cabang Boyolali menurut kaidah pengukuran balanced scorecard tahun 2008?”

C. Tujuan Penelitian

Dalam setiap penelitian terdapat maksud dan tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti. Suharsimi Arikunto (2002: 51) menjelaskan bahwa,

“Tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yang menunjukkan adanya sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian selesai”. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: Untuk mengetahui bagaimana kinerja AJB Bumiputera 1912 Cabang Boyolali dengan menggunakan metode balanced scorecard tahun 2008.

D. Manfaat Penelitian

1. ManfaatTeoritis

Untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang akuntansi manajemen kaitannya dalam peningkatan kinerja perusahaan.

2. ManfaatPraktis

1. Bagi perusahaan, berguna sebagai sumbangan pemikiran bagi manajemen menerapkan konsep balanced scorecard sebagai alternatif pengukuran kinerja.

2. Bagi penulis, menambah pengetahuan dan kemampuan penulis mengenai pengukuran kinerja perusahaan dengan metode balanced scorecard.

3. Bagi penelitian selanjutnya, menambah bahan refrensi dan memberikan masukan bagi penelitian selanjutnya.

Incoming search terms:

Tesis Hubungan antara kreativitas dan persepsi peluang kerja dengan minat berwirausaha

Tesis Pendidikan Kewirausahaan – Tesis Hubungan antara kreativitas dan persepsi peluang kerja dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK tahun  diklat 2006/2007

Ide Berwirausaha

BAB I   PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Pendidikan   merupakan   wahana   untuk   mencerdaskan   kehidupan bangsa. Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, pemerintah telah berupaya membangun sektor pendidikan secara terarah, bertahap, dan terpadu dengan keseluruhan pembangunan kehidupan bangsa, baik dalam bidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, sosial, budaya maupun pertahanan dan keamanan.

Tujuan   pendidikan   menurut   Undang-Undang   Sistem   Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 adalah sebagai berikut:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang  bermartabat  dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

 Peranan pendidikan dalam pembangunan adalah mengembangkan pribadi-pribadi yang dibutuhkan oleh negara yang sedang membangun, yang pada gilirannya pribadi tersebut bisa mengubah masyarakat. Pribadi-pribadi yang  dibutuhkan  oleh  pembangunan  adalah  pribadi-pribadi  yang  berjiwa kritis,   jujur,   bertanggung   jawab,   memiliki   motivasi   yang   kuat   untuk berprestasi, memiliki keterampilan, profesional, serta berwawasan luas dan mendalam.  Pendidikan  merupakan  salah  satu  bidang  yang  memberikan  sumbangan yang sangat besar terhadap pembangunan sarana kehidupan, sehingga kehidupan manusia dari waktu kewaktu semakin baik.

Penyelenggaraan  pendidikan  di  Indonesia  dilakukan  melalui pendidikan informal, formal, dan nonformal. Pendidikan informal   adalah pendidikan  yang  diperoleh  seseorang  dari  pengalaman  sehari-hari  dengan sadar atau tidak, sejak anak lahir sampai mati, yang berlangsung dalam pengalaman sehari-hari. Pendidikan formal adalah pendidikan yang dilaksanakan secara teratur, bertingkat atau berjenjang dan mengikuti syarat- syarat  yang  jelas  serta ketat.  Pendidikan  formal,  biasanya dikenal dengan pendidikan sekolah. Pendidikan nonformal ialah pendidikan yang teratur dengan sadar dilakukan tetapi tidak mengikuti syarat atau peraturan yang tetap dan ketat.

Jenjang pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah,  dan  pendidikan  tinggi. Pendidikan  menengah  diselenggarakan untuk  melanjutkan  atau  memperluas  pendidikan  dasar  serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuannya lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi.

Pendidikan menengah terdiri dari :

  • pendidikan umum,
  • pendidikan kejuruan,
  • pendidikan luar biasa,
  • pendidikan kedinasan dan
  • pendidikan agama.

Salah satu bentuk pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 Pasal 15   menyebutkan bahwa “Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu”. Sebagai salah satu sekolah yang menghasilkan lulusan siap kerja dituntut untuk memiliki keterampilan untuk memasuki lapangan kerja, yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan sekolah kejuruan yang terdiri dari kelompok Bisnis dan Manajemen, program studi yang ada di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yaitu Akuntansi, Penjualan, dan Adimistrasi Perkantoran. Masing-masing program studi di   Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki tujuan khusus yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Sesuai dengan tujuan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yaitu menciptakan  tenaga  kerja  tingkat   menengah,   siswa  diharapkan  mampu mengisi  kebutuhan tenaga kerja pada  instansi pemerintah  maupun  swasta. Siswa SMK setelah lulus akan mencari pekerjaan sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Walaupun demikian tidak semua lulusan SMK mendapatkan pekerjaan,  sehingga dapat  menimbulkan pengangguran. Menurut  penelitian Depdikbud tahun 1994 yang dikutip oleh Rustini (2006: 43) :

“Baru 33,33% lulusan  SMK  yang  bekerja  sesuai  dengan  keahliannya,  selebihnya  yaitu 66,66% bekerja tidak sesuai dengan program keahlian yang selama ini ditekuninya atau bahkan masih menganggur”.

Sekolah Menengah Kejuruan sebagai lembaga kejuruan, juga diharapkan mampu menghasilkan individu yang mampu mengembangkan diri. Siswa diharapkan mampu menciptakan pekerjaan sendiri, apabila tidak mendapatkan  pekerjaan  di  instansi  pemerintah  maupun  swasta.  Kenyataan yang ada sekolah kejuruan belum mampu mewujudkan harapan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Wasty Soemanto (2002: 182)

“Pada saat-saat ini, kebanyakan  sekolah  kejuruan  kita  masih  berupaya  untuk  melatih  siswa menjadi tenaga-tenaga yang siap pakai bagi lapangan kerja tertentu.

Masalah utama dunia ketenagakerjaan adalah tidak sesuainya laju angkatan kerja dengan lapangan kerja yang tersedia. Dampaknya angka pengangguran  tiap  tahun  melonjak.  Dalam  20  tahun  terakhir  penyerapan tenaga kerja terus menurun. Tahun 2006 dari 106,28 juta jiwa angkatan kerja, yang terserap di bursa kerja hanya 95,18 juta jiwa, dan sisanya menganggur. Menurut litbang kompas Mei 2007 sebanyak 82,5% responden menilai pemerintah tidak memadai dalam menyediakan lapangan pekerjaan, dan hanya 1,5% responden yang menilai pemerintah memadai dalam menyediakan lapangan pekerjaan. (Kompas, 7 Mei 2007)

Menghadapi peluang kerja yang semakin sempit, mengharuskan individu  untuk  mampu  berpikir  kreatif.  Kreativitas sangat  diperlukan agar mampu mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi tanpa menggantungkan pada orang lain. Individu  yang kreatif akan tetap optimis untuk maju dan berhasil dalam hidup, walaupun dihadapkan dengan berbagai permasalahan. Pemikiran  yang  kreatif tidak  akan  takut  untuk  mencoba  hal-hal  baru  dan mengembangkannya, dan akhirnya bermanfaat bagi orang lain.

Kreativitas siswa dapat dikembangkan pada saat proses belajar berlangsung. Guru harus melibatkan kreativitas siswa, sehingga siswa tidak hanya menerima apa yang diberikan oleh guru. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya, dan siswa diberi permasalahan untuk diselesaikan. Kebiasaan yang ada pada pengajaran saat ini yaitu  guru  masih  mendominasi  pembelajaran,  sehingga  kreativitas  siswa kurang kurang berkembang. Hal ini sesuai dengan pendapat Wasty Soemanto (2002: 138) “Kebiasaan rutin yang masih dapat kita saksikan pada sekolah kita   adalah   guru   di   muka   kelas   berbicara,   menerngkan,   mendiktekan informasi, dan bertanya sedangkan murid memperhatikan, mendengarkan, dan mencatat”.

Kreativitas yang dimiliki siswa dapat dijadikan dasar untuk berwirausaha. Seorang wirausaha harus memiliki kreativitas dan keberanian tidak  bergantung  pada  oranng  lain,  keberanian  menghadapi  kondisi  dan sistuasi disekitarnya, percaya diri akan keberhasilan ide yang diciptakannya.

SMK juga membekali siswanya dengan pengetahuan kewirausahaan, yang berarti siswa diharapkan mampu mengembangkan usaha yang  bersifat  mandiri.  Keinginan untuk  mengembangkan wirausaha dikalangan siswa terus didorong agar siswa mempunyai keyakinan dan kepercayaan diri sehingga dapat membuka usaha sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Keinginan siswa untuk menekuni kewirausahaan mungkin timbul setelah dihadapkan dengan sedikitnya peluang kerja, sehingga siswa terdorong untuk mengembangkan usaha sendiri.

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas maka hubungan antara kreativitas dan persepsi peluang kerja dengan minat berwirausaha dipandang perlu diteliti dan dikaji lebih lanjut. Oleh karena itu, peneliti mengambil judul “HUBUNGAN  ANTARA KREATIVITAS DAN PERSEPSI PELUANG  KERJA  DENGAN  MINAT  BERWIRAUSAHA PADA  SISWA  KELAS   XI  SMK  TAHUN DIKLAT 2006/2007”.

Diklat Kewirausahaan

B.  Identifikasi Masalah

Berdasarkan masalah yang diuraikan di atas, peneliti mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:

  1. Sekolah  Menengah  Kejuruan  (SMK)  selain  diharapkan  mampu menciptakan tenaga kerja tingkat menengah, juga diharapkan mampu menciptakan individu yang mampu mengembangkan diri sebagi pencipta lapangan  kerja,  akan  tetapi  kenyataan  yang  ada  sekolah  menengah kejuruan belum mampu mewujudkan harapan tersebut.
  2. Siswa SMK setelah lulus akan mencari pekerjaan yang telah disediakan oleh instansi pemerintah maupun swasta, akan tetapi tidak semuanya mendapatkan pekerjaan yang diharapkan.
  3. Peluang kerja khususnya dibidang formal semakin sempit. Hal ini akan mempengaruhi  bermacam-macam  kesan  siswa  terhadap  peluang  kerja yang ada pada saat  ini. Berdasarkan kesan tersebut apakah siswa akan mengambil keputusan yang terbaik ataukah tidak.
  4. Kreativitas siswa dapat dikembangkan pada saat proses belajar mengajar berlangsung, akan tetapi pengajaran yang ada pada saat ini masih bersifat konvensional, sehingga kreativitas siswa kurang berkembang.

C.  Pembatasan Masalah

Dari identifikasi masalah yang disebutkan di atas tidak semuanya dibahas dalam penelitian ini. Masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini dibatasi pada:

  1. Peluang kerja khususnya dibidang formal semakin sempit. Hal ini akan mempengaruhi  bermacam-macam  kesan  siswa  terhadap  peluang  kerja yang ada pada saat  ini. Berdasarkan kesan tersebut apakah siswa akan mengambil keputusan yang terbaik ataukah tidak.
  2. Kreativitas siswa dapat dikembangkan pada saat proses belajar mengajar berlangsung, akan tetapi pengajaran yang ada pada saat ini masih bersifat konvensional, sehingga kreativitas siswa kurang berkembang.

Sedangkan  definisi  operasional  dari  pembatasan  masalah  tersebut adalah:

1.  Kreativitas

Kreativitas yang dimaksudkan disini adalah kemampuan yang baru dan asli, yang belum dikenal maupun suatu cara untuk memecahkan masalah baru yang dihadapi. Perlu dijelaskan bahwa dalam penelitian ini hanya ditekankan pada kemampuan siswa dalam berpikir kreatif.

2.  Persepsi Peluang Kerja

Persepsi peluang kerja yang dimaksudkan disini adalah kesan, tanggapan, atau pendapat siswa tentang peluang kerja yang disediakan oleh instansi pemerintah maupun sawasta.

3.  Minat Berwirausaha

Minat berwirausaha yang dimaksudkan disini adalah tanggapan siswa yang berupa sikap yang diikuti adanya kesadaran untuk memberikan perhatian, perasaan tertarik, dan perasaan senang terhadap wirausaha termasuk di dalamnya usaha-usaha untuk mempelajari dan terjun langsung di bidang tertentu.

D.  Perumusan Masalah

Berdasarkan  latar  belakang  yang  diuraikan  di atas  peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah ada hubungan antara kreativitas dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK  Tahun Diklat 2006/2007?
  2. Apakah ada hubungan antara persepsi   peluang kerja dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK Tahun Diklat 2006/2007?
  3. Apakah  ada  hubungan  antara  kreativitas  dan  persepsi  peluang  kerja dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK  Tahun Diklat 2006/2007?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian mengenai hubungan antara kreativitas dan persepsi peluang kerja dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK  tahun diklat 2006/2007 tersebut di atas adalah:

  1. Mengetahui ada tidaknya hubungan antara kreativitas dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK  Tahun Diklat 2006/2007.
  2. Mengetahui ada tidaknya hubungan antara persepsi peluang kerja dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK  Tahun Diklat 2006/2007.
  3. Mengetahui ada tidaknya hubungan antara kreativitas dan persepsi peluang kerja  dengan  minat  berwirausaha  pada  siswa  kelas  XI  SMK  Tahun Diklat 2006/2007.

Tag : Tesis Pendidikan Kewirausahaan

Incoming search terms:

Contoh Tesis Manajemen Komunikasi – Manajemen Komunikasi Program Corporate Social Responsibility Coca-Cola

Contoh Tesis Manajemen KomunikasiJudul Tesis MANAJEMEN KOMUNIKASI PROGRAM CSR (CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY) CCFI (COCA-COLA FOUNDATION INDONESIA) “RUMAH BELAJAR” di JOGJA STUDY CENTER (JSC) YOGYAKARTA

Pendahulaan Tesis

Di Tanah Air, debut CSR semakin menguat terutama setelah dinyatakan dengan tegas dalam UU PT No. 40 Tahun 2007 yang belum lama disahkan DPR. Disebutkan bahwa PT yang menjalankan usaha di bidang dan/atau bersangkutan dengan sumber daya alan wajib menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan (Pasal 74 ayat 1). Peraturan lain yang menyentuh CSR adalah UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Pasal 15 (b) menyatakan bahwa “Setiap penanaman modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan”. Meskipun UU ini telah mengatur sanksi-sanksi secara terperinci terhadap badan usaha perseorangan yang mengabaikan CSR (Pasal 34), UU ini baru mampu menjangkau investor asing dan belum mengatur secara tegas perihal CSR bagi perusahaan nasional. (Majalah Bisnis dan CSR, 2007)

Coca Cola Foundation Indonesia (CCFI) memulai prakarsa program Learning Center dengan memberikan bantuan material maupun teknis untuk mengembangkan dan memberdayakan perpustakaan umum menjadi sebuah ‘Rumah Belajar’ bagi masyarakat sekitarnya.

Sasaran dari program Learning Center ini adalah kelompok anak dan remaja usia 6-8 tahun. Mengingat usia tersebut memerlukan pijakan dan bekal yang kuat untuk dapat memperbaiki kualitas hidupnya dimasa mendatang. CCFI sampai tahun 2009, telah mengembangkan 29 Rumah Belajar yang tersebar di seluruh propinsi di Indonesia dimana salah satunya adalah Jogja Study Center (JSC) yang terletak di Kota Baru, Yogyakarta. (Document CCFI: 2006).

Didasarkan atas hal tersebut, maka penulis memfokuskan penelitian pada Manajemen Komunikasi Program CSR (Corporate Social Responsibility) CCFI (Coca Cola Foundation) “Rumah Belajar” di JSC (Jogja Study Center), Yogyakarta.

Rumusan Masalah

Secara umum, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

Sedangkan secara khusus ingin melihat:

  1. Bagaimana CCFI selaku komunikan melakukan manajemen komunikasi 
sehubungan dengan program CSR “Rumah Belajar” di JSC, Yogyakarta yang meliputi proses perencanaan (planning), pengorganisasian (Organizing), pelaksanaan (actuating), pengawasan (monitoring) dan evaluasi (evaluation).
  2. Bagaimana respon atau tanggapan dari komunikan (pengelola JSC, Bapusda dan Masyarakat) yang memperoleh manfaat dari program CSR “Rumah Belajar” dari CCFI.

Penelitian ini adalah adalah sebuah penelitian dasar deskriptif, bertujuan untuk mengetahui manajemen komunikasi CCFI dalam program CSR “Rumah Belajar” di JSC Yogyakarta yang meliputi proses perencanaan (planning), pengorganisasian (Organizing), pelaksanaan (actuating), pengawasan (monitoring) dan evaluasi (evaluation) dan ingin mengetahui respon atau tanggapan dari komunikan (pengelola JSC, Bapusda dan Masyarakat) yang memperoleh manfaat dari program CSR “Rumah Belajar” yang dilaksanakan oleh CCFI di JSC.

Metode Penelitian Tesis

Tesis ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor (1975) dalam Moloeng (2002), metodologi kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang dapat diamati. Jenis penelitian ini adalah studi kasus. Studi kasus merupakan salah satu metode penelitian ilmu sosial. Studi kasus berusaha menyoroti suatu keputusan atau seperangkat keputusan yaitu mengapa suatu keputusan diambil, bagaimana diterapkan dan apakah hasilnya (Frasier, 1998).

Studi kasus intrinsik adalah tipe studi kasus yang akan memahami situasi khusus tetapi tanpa dikaitkan dengan teori. Studi yang dilakukan karena peneliti ingin mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang suatu kasus khusus. Jadi, alasan pilihan atas kasus itu bukan karena ia mewakili kasus-kasus lainnya atau karena ia menggambarkan suatu sifat atau masalah khusus, melainkan karena dengan segala kakhususan dan kebersahajaannya kasus itu dalam dirinya memang menarik (Stake, 1994). Penelitian difokuskan terhadap program CSR “Rumah Belajar” yang dilakukan oleh CCFI PT Coca Cola di JSC (Jogja Study Center).

Metode Pengambilan Data 

Metode yang digunakan dalam tesis ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan.

Observasi digunakan untuk memperoleh data kualitatif dari manajemen komunikasi program CSR CCFI Rumah Belajar di JSC, sedangkan wawancara mendalam dan dokumen digunakan untuk menggali data kualitatif dari informan. Data hasil observasi dianalisis dengan deskriptif dan dimasukkan dalam beberapa kategori, sedangkan wawancara dan dokumen dideskripsikan dalam kata-kata atau ungkapan dan kemudian dimasukkan dalam kategori tertentu.

Kesimpulan Tesis Manajemen Komunikasi

Setelah melakukan analisis, penulis menarik kesimpulan, semua hal yang berhubungan dengan pelaksanaan sudah direncanakan sebagai program kegiatan dan sudah dikonfirmasikan oleh pihak CCFI. Tim JSC tinggal melaksanakan serangkaian kegiatan yang sudah direncanakan. Pada saat pelaksanaan, pihak JSC senantiasa memberikan informasi kepasa CCFI mengenai kegiatan yang dilaksanakan. Meskipun pihak CCFI tidak selalu bisa datang, tetapi pelaporan dan pemberitahuan selalu diinformasikan. Komunikasi selalu terjalin selainunutuk meminta informasi juga dilakukan untuk memberikan informasi.

Dari hasil kesimpulan, maka sarannya adalah selanjutnya untuk evaluasi dari masyarakat, masyarakat sangat terkesan dari program CSR CCFI “Rumah Belajar”. Bahkan karena keberhasilannya, konsep Rumah Belajar selanjutnya difasilitasi oleh pemerintah daerah sebagai program pembangunan di Kota Yogyakarta untuk dikembangkan di daerah lain, program rumah belajar yang dilaksanakan akan lebih maksimal, keterbatasan akan pengelolaan dan pelaksanaannya sudah terjawab, mereka hanya perlu memaksimalkan dan memberdayakannya sehingga sesuai dengan kebutuhan sebagai rumah belajar dan dikelola secara profesional.

Saran Tesis Manajemen Komunikasi

Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:

  1. Selanjutnya untuk evaluasi dari masyarakat, masyarakat sangat terkesan dari program CSR CCFI “Rumah Belajar”. Bahkan karena keberhasilannya, konsep Rumah Belajar selanjutnya difasilitasi oleh pemerintah daerah sebagai program pembangunan di Kota Yogyakarta untuk dikembangkan di daerah lain.
  2. Program rumah belajar yang dilaksanakan akan lebih maksimal, keterbatasan akan pengelolaan dan pelaksanaannya sudah terjawab, mereka hanya perlu memaksimalkan dan memberdayakannya sehingga sesuai dengan kebutuhan sebagai rumah belajar dan dikelola secara profesional

 

DAFTAR PUSTAKA

Black, 1994, The Essential of Public Relations, Kogan Page, London
Black, A. James and Dean, J. Champion, Metode dan Masalah Penelitian Sosial,

PT. Eresco, Bandung, 1992.

Efendy, 2002, Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung : Citra Aditya Bakti.

Frasier, 1998, The Practice of Public Relations, Seventh Edition, Prentice Hall, Upper Saddle River, New Jersey.

Griffin dan ebert, 1996, Bisnis, Prenhalindo, Jakarta.
H.B. Sutopo, Metodologi Penelitian Kualitatif, Sebelas Maret University Press,

Surakarta, 2002.

Hersey, L. And Blanchard, Ken, Manajemen Perilaku Organisasi, Pendayagunaan Sumber Daya Manusia, Terjemahan Agus Dharma, Erlangga, Jakarta, 1990.

Jefkins, Frank, Public Relations, 4th edition, Terjemahan Aris Munandar, Erlangga, Jakarta, 1992.

Karsidi, Ravik, Bahan Perkuliahan Program Komunikasi, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2007.

Kasali, Rhenald, Manajemen Public Relations, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998.

Kotler, 2005, Corporate Social Responsibility, John Wiley & Sons, Inc; Hoboken, New Jersey.

Kotler, Philip, Marketing Management, Millenium ed. New Jersey: Prentice Hall, Inc., New Jersey, 2000.

L. Wayne Pace, Brent D. Peterson dan M. Dallas Burnett, Techniques for Effective Communication

Manullang, M. Dasar-dasar Manajemen, Ghalia Indonesia, Bogor, 1985.

Matthew, 1992, Analisis Data Kualitatif, UI Press, Jakarta

Mulyana, Deddy, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003.

Demikian telah kami sajikan Contoh Tesis Manajemen Komunikasi. Contoh tesis lengkap yang tersedia di atas bisa dipesan melalui CS kami.

Incoming search terms:

Laporan Penelitian Tindakan Kelas | Upaya peningkatan penguasaan IPA melalui Metode Kerja Kelompok

Laporan Penelitian Tindakan Kelas – Judul lengkap dari laporan penelitian tindakan kelas ini adalah “Upaya peningkatan penguasaan IPA konsep energi dan perubahannya melalui metode kerja kelompok pada siswa kelas IV SDN”. Penelitian ini didasarkan pada pemahaman bahwa Metode pembelajaran merupakan salah satu komponen terpenting dalam perencanaan kegiatan pembelajaran karena metode pembelajaran merupakan sarana yang dapat membantu proses belajar siswa pendapat para ahli bahwa metode pembelajaran adalah cara atau jalan menyajikan atau melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.

Dalam pembelajaran Metode mempunyai pesan yang sangat penting untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan metode yang tepat siswa akan aktif dan terangsang untuk belajar.

Permasalahan Penelitian Tindakan Kelas

Untuk mencapai Kriteria ketuntasan belajar minimal perlu adanya upaya peningkatan kualitas dan prestasi pemahaman. Berkaitan dengan itu perlu juga adanya peningkatan. Kinerja guru dalam proses perbaikan pembelajaran. Agar tingkat prestasi beserta fungsinya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dapat tercapai maka penggunaan metode Kerja Kelompok diperlukan sehubungan dengan hal itu penulis sengaja mengangkat permasalahan dalam penelitian Tindakan kelas untuk proses perbaikan pembelajaran sebagai berikut :

  • Apakah penggunaan metode kerja kelompok dapat meningkatkan penguasaan konsep energi dan perubahannya pada mata pelajaran IPA bagi siswa kelas IV SDN?

Berawal dari akar permasalahan di atas maka dirumuskan suatu permasalahan dalam Penelitian Tindakan Kelas dalam kegiatan proses perbaikan pembelajaran adalah:

  • Sejauh mana tingkat penguasaan penggunaan metode kerja kelompok konsep energi dan perubahannya Mata pelajaran IPA bagi siswa kelas IV.

Langkah-Langkah Penyelesaian Penelitian Tindakan Kelas

Masalah yang telah dirumuskan pada rumusan masalah di atas dilakukan pemecahan masalah (pencarian solusi) dengan menyusun langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Membuat rencana perbaikan yang melibatkan siswa dikelompokkan 
dalam pembelajaran sebanyak 2 siklus,
  2. Membuat rencana kegiatan siswa yang memperhatikan 3 aspek
  3. ketrampilan proses yaitu mengamati, menggolongkan dan
  4. mendemonstrasikan.
c. Menyediakan media yang diperlukan.
  5. Melaksanakan pembelajaran perlaikan penilaian proes, refleksi 
sebanyak 2 siklus.
  6. Melaksanakan analisis kemajuan siswa

Langkah-langkah pemecahan masalah tersebut di atas dipilih karena sesuai dengan pembelajaran yang diisyaratkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Dengan diadakannya Penelitian Tindakan Kelas mengangkat masalah : “Upaya peningkatan penguasaan IPA tentang Konsep Energi Dan Perubahannya Melalui Metode Kerja Kelompok Bagi Siswa Kelas IV SDN ini diharapkan, dapat bermanfaat antara lain yaitu:

  • Bagi siswa sebagai peserta didik
    1. Mampu meningkatkan penguasaan terhadap materi energi dan 
perubahannya sehingga prestasi belajar meningkat.
    2. Mengembangkan motivasi siswa.
    3. Memperbaiki prestasi belajar IPA.
  • Bagi guru sebagai pendidik
    1. Dapat mengetahui kelemahan dan kekurangan dalam menyampaikan 
proses pembelajaran.
    2. Meningkatkan keproporsional guru dalam mengajar
    3. Mampu meningkatkan mutu prestasi serta kinerja guru.
  • Bagi Sekolah
    1. Penciptaan kondisi pembelajaran di sekolah.
    2. Membantu perkembangan sekali untuk peningkatan prestasi dan 
kriteria katentuan minimal pada sekolah tersebut.

Siswa Praktek Metode Kerja Kelompok

Metode Kerja Kelompok


 

Sagala (2006) mengatakan bahwa metode kerja kelompok adalah metode pembelajaran dimana siswa dalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditetapkan untuk diselesaikan secara bersama-sama.

Pada umumnya materi pelajaran yang harus dikerjakan secara bersama-sama dalam kelompok itu diberikan atau disiapkan oleh guru. Materi itu harus cukup komplek isinya dan cukup luas ruang lingkupnya sehingga dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang cukup memadai bagi setiap kelompok. Materi hendaknya membutuhkan bahan dan informasi dari berbagai sumber untuk pemecahannya. Masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan membaca satu sumber saja tentu tidak cocok untuk ditangani melalui kerja kelompok. Kelompok dapat dibentuk berdasarkan perbedaan individual dalam kemampuan belajar, perbedaan bakat dan minat belajar, jenis kegiatan, materi pelajaran, dan tujuan yang ingin dicapai. Berdasarkan tugas yang harus diselesaikan, siswa dapat dibagi atas kelompok paralel yaitu setiap kelompok menyelesaikan tugas yang sama, dan kelompok komplementer dimana setiap kelompok berbeda-beda tugas yang harus diselesaikan.

Metode kerja kelompok dapat diartikan sebagai bekerjanya sejumlah siswa, baik sebagai anggota kelas secara keseluruhan maupun sebagai anggota kelompok yang lebih kecil, untuk mencapai suatu tujuan tertentu secara bersama-sama. Oleh karena itu, kerja kelompok di dalam laporan penelitian tindakan kelas ini juga ditandai oleh: 1) Adanya tugas bersama; 2) Pembagian tugas dalam kelompok ; dan 3) Adanya kerja sama antara anggota kelompok dalam penyelesaian tugas kelompok.

 

Incoming search terms:

Tinjauan Mengenai Undang-Undang Telekomunikasi

Tinjauan Mengenai Undang-Undang Telekomunikasi – Seiring dengan kemajuan teknologi dan tuntutan jaman mengakibatkan banyaknya perubahan yang terjadi dibidang telekomunikasi. Perubahan ini tidak hanya terjadi dari segi teknologi pada alat-alat komunikasi tetapi juga terjadi perubahan pada peraturan-peraturan yang mengatur mengenai komunikasi, seperti halnya peraturan baru yang ditetapkan oleh pemerintah mengenai komunikasi yang ditegaskan kembali lewat Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi.

Dalam undang-undang telekomunikasi tersebut diatur segala hal yang menyangkut hubungan komunikasi, bahkan juga diatur mengenai definisi dari telekomunikasi itu sendiri seperti yang ditegaskan dalam Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Telekomunikasi bahwa yang dikatakan sebagai

Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman, dan/atau penerimaan dan setiap informasi dalam bentuk tanda-tanda, isyarat, tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui system kawat, optic, radio, atau system elektromagnetik lainnya.

Pengaturan mengenai alat komunikasi, perangkat Telekomunikasi, sarana dan prasarana Telekomunikasi, maupun segala sesuatu yang dapat mendukung terciptanya suatu jaringan Telekomunikasi tercantum dalam Pasal 1 butir 2, butir 3, dan butir 4 Undang-Undang Telekomunikasi.

Yang dimaksud dengan jaringan Telekomunikasi adalah suatu rangkaian perangkat Telekomunikasi dan kelengkapannya yang digunakan dalam rangka bertelekomunikasi (Pasal 1 butir 6 Undang-Undang Telekomunikasi).

Terdapat beberapa perbedaan antara Undang-Undang Perlindungan Konsumen dengan Undang-Undang Telekomunikasi, yaitu terletak pada subyek undang-undang tersebut. Dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen ditegaskan bahwa subyek undang-undang tersebut dinamakan dengan konsumen, yaitu setiap orang pemakai barang dan/atau jasa. Sedangkan dalam Undang-Undang Telekomunikasi Pasal 1 butir 9, butir 10, dan butir 11 ditegaskan bahwa istilah konsumen, seperti dalam Undang- Undang Perlindungan Konsumen, dinilai terlalu luas sehingga diganti menjadi tiga kategori konsumen, yaitu :

  1. Pelanggan adalah perseorangan, badan hukum, instansi pemerintah yang menggunakan jaringan Telekomunikasi dan/atau jasa Telekomunikasi berdasarkan kontrak,
  2. Pemakai adalah perseorangan, badan hukum, instansi pemerintah yang menggunakan jaringan Telekomunikasi dan/atau jasa yang tidak berdasarkan kontrak,
  3. Pengguna adalah pelanggan dan pemakai.

Teknik Pengumpulan Data Tesis Hukum

Teknik Pengumpulan Data Tesis Hukum – Teknik pengumpulan data yang dimaksudkan untuk memperoleh data dalam penelitian yang mendukung dan berkaitan dengan masalah yang akan dipaparkan dalam penelitian hukum ini meliputi :

  1. Studi kepustakaan (library research)
    Merupakan teknik pengumpulan data dengan mempelajari, membaca, dan mencatat buku-buku, dokumen, literatur, makalah, serta peraturan perundang-undangan atau keputusan yang erat kaitannya dengan pokok masalah yang dipergunakan untuk menyusun penulisan hukum.
  2. Studi lapangan (field research)
    Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan ditempat yang menjadi obyek penelitian. Dalam penelitian ini penulis mengumpulkan data-datanya dengan cara wawancara (interview) yaitu suatu proses tanya jawab lisan dalam mana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang satunya dan mendengar dengan telinganya sendiri. Interview ini dilakukan oleh penulis secara terbuka dengan memberikan pertanyaan secara langsung kepada pihak yang di percaya oleh penulis.
  3. Kuesioner
    Kuesioner adalah suatu teknik pengumpulan data cara untuk mendapatkan informasi dengan memberikan pertanyaan kepada responden mengenai masalah yang diteliti tanpa bertatap muka antara penanya dengan responden.

Incoming search terms:

Pengaruh Faktor – Faktor Kepuasan Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Bagian Produksi

Tesis Kepuasan Kerja - Pengaruh Faktor – Faktor Kepuasan Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Bagian Produksi.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Karyawan memegang peranan yang sangat penting dalam suatu perusahaan. Karyawan adalah pelaku utama dalam pelaksanaan kegiatan suatu perusahaan. Karyawan menjadi pelaku dalam suatu perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan. Antara karyawan satu dengan karyawan yang lain memiliki perbedaan dalam segala hal yang dirasakan dan dipikirkan yang dapat mempengaruhi diri mereka dalam melaksanakan pekerjaan. Menurut Hasibuan (2003: 202) ”Kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya”. Karyawan akan bekerja dengan sungguh-sungguh apabila keinginan mereka telah terpuaskan. Kepuasan yang mereka rasakan akan berdampak pada pekerjaan yang mereka kerjakan. ”Kepuasan kerja karyawan merupakan kunci pendorong moral, kedisiplinan, dan prestasi kerja karyawan dalam mendukun tujuan perusahaan (Hasibuan, 2003: 203)”. Kepuasan kerja yang tinggi akan membuat karyawan menjadi loyal kepada perusahaan atau organisasi.

Menurut Gibson, Ivancevich dan Donnelly (2000: 68) ”Kepuasan kerja dapat diukur melalui lima dimensi yaitu upah, pekerjaan, kesempatan promosi, penyelia (supervisor) dan rekan sekerja”. Kelima dimensi tersebut menjadi faktor kepuasan kerja karyawan.

Menurut hasil wawancara pra observasi yang dilakukan peneliti kepada karyawan bagian produksi PT. Sari Husada terdapat beberapa masalah yaitu karyawan bagian produksi PT. Sari Husada Klaten mempunyai upah yang sama, yang membedakan hanya pada tambahan upah yang didapat dari lembur kerja. Apabila karyawan tidak mengikuti lembur kerja maka mereka tidak akan mendapatkan upah tambahan dari lembur kerja. Kebanyakan karyawan lebih senang untuk mendapatkan lembur kerja agar mendapatkan tambahan upah dari lembur kerja yang dapat digunakan untuk menambah belanja kebutuhan sehari- hari.

 

 

Pekerjaan yang dilakukan karyawan bagian produksi PT. Sari Husada bermacam-macam ada yang bertugas mencampur adonan susu, mengemas, dan memberi label, inilah yang membuat karyawan merasa kurang adil dalam pembagian kerja dan merasa perlu diadakan rotasi pekerjaan agar meraskan pekerjaan yang berbeda. Kesempatan promosi yang ada pada karyawan produksi berbeda-beda tergantung pada kinerja pekerjaan yang mereka lakukan. Apabila kinerja mereka baik maka akan mempunyai kesempatan promosi yang lebih besar daripada karyawan yang kinerjanya kurang. Karyawan bagian produksi PT. Sari Husada merasa kurang dalam hal kesempatan meraih posisi yang lebih tinggi sehingga mereka kurang puas dengan apa yang mereka dapatkan.

PusatTesis melayani jasa pembuatan tesis untuk informasi lebih lanjut hubungi CS kami di :

0852.2588.7747(AS)
0857.0.1111.632 (IM3)

Incoming search terms: