" />

April 2, 2015

Kebijakan Penerapan Hukuman Disiplin Bagi Pegawai Negeri Sipil

Latar Belakang Masalah Penegakan Hukum

Upaya yang tegas untuk menegakkan disiplin PNS secara menyeluruh dan terpadu juga telah dilakukan. Dengan tidak mengurangi ketentuan dalam peraturan perundang-undangan pidana, PNS yang melakukan pelanggaran disiplin dijatuhi hukuman disiplin oleh pejabat yang berwenang menghukum. Di dalam lingkungan Pemerintah Kota/ Kabupaten biasanya disediakan suatu organisasi yang mengurusi masalah kepegawaian, baik yang menyangkut hak dan kewajiban sebagai Pegawai Negeri Sipil, yaitu Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Keberadaan badan tersebut diharapkan dapat menjadi wadah pelayanan terhadap semua PNS di lingkungan Pemerintah Kota Surakarta. Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang diembannya, organisasi ini turut pula melaksanakan upaya-upaya pembinaan Pegawai Negeri Sipil secara menyeluruh dan terpadu.

Badan Kepegawaian Daerah (BKD) adalah pelaksana teknis dari kewenangan daerah dalam melaksanakan pengurusan administrasi kepegawaian. Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (UUPD) yang kemudian direvisi/ diubah dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka kewenangan kepegawaian dalam bidang penegakan disiplin adalah kewenangan dari daerah. Berangkat dari kenyatan ini, maka penulis tertarik mengetahui lebih jauh tentang Kebijakan Penerapan Hukuman Disiplin Bagi Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kota Surakarta.

Perumusan Masalah

  1. Mengapa kebijakan pelaksanaan hukuman disiplin terhadap PNS di lingkungan Pemerintah Kota Surakarta berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 belum berjalan efektif?
  2. Kendala hukum apa yang terjadi dalam penerapan hukuman disiplin terhadap PNS Di Lingkungan Pemerintah Kota Surakarta?

Tinjauan Pustaka

  1. Penegak Hukum
  2. Teori Tentang Sistem Hukum

Menurut Lawrence Meir Friedman, seorang ahli sosiologi hukum dari Stamford University mengemukakan mengenai Tiga Unsur Sistem Hukum (Three Element of Legal System).

  • Struktur Hukum (legal structure)
  • Substansi Hukum (legal substance)
  • Kultur hukum (legal impact)

Metode Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian non doktrinal (socio legal research) karena dalam penelitian ini, hukum dikonsepkan sebagai manifestasi makna-makna simbolik perilaku sosial sebagaimana tampak dalam interaksi mereka, dengan mengambil lokasi penelitian di Pemerintah Kota Surakarta.

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan dokumenter guna mendapatkan data primer dan data sekunder.

Analisis datanya menggunakan analisis kualitatif.

Kesimpulan

  1. Kebijakan pelaksanaan hukuman disiplin terhadap PNS di lingkungan Pemerintah Kota Surakarta berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 belum berjalan efektif, disebabkan oleh faktor-faktor:
  2. Komponen struktur hukum, dapat diidentifikasi bahwa Tim Penyelenggara dan Pembantu Pelaksana Penyelesaian Kasus-Kasus Kepegawaian yang dibentuk dengan Keputusan Walikota Surakarta Nomor : 800.05/01-L/1/2009, dalam melakukan tugas yang berkaitan dengan memproses penyelesaian kasus-kasus kepegawaian sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 belum dapat bersikap profesional.
  3. Komponen kultur, adanya hambatan psikologis yung dialami anggota Tim Penyelenggara dan Pembantu Pelaksana Penyelesaian Kasus-Kasus Kepegawaian sebagi akibat adanya pengaruh dari dalam maupun dari luar dirinya, termasuk adanya pengaruh sosial.
  4. Kendala hukum yang terjadi dalam penerapan hukuman disiplin terhadap Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Peemrintah Kota Surakarta adalah :
  5. Berdasarkan aspek struktur, Tim Penyelenggara dan Pembantu Pelaksana Penyelesaian Kasus-Kasus Kepegawaian dalam melaksanakan tugasnya menangani dan menyelesaikan kasus pelanggaran kedisiplinan yang dilakukan oleh PNS di lingkungan Pemerintah Kota Surakarta belum dapat bersikap obyektif dan belum dapat bertindak adil.
  6. Berdasarkan aspek kultur, adanya kendala psikologis yang dihadapi Tim Penyelenggara dan Pembantu Pelaksana Penyelesaian Kasus-kasus Kepegawaian Kota Surakarta dalam menetapkan hukuman, yaitu adanya rasa “ewuh pakewuh” bilamana yang melanggar kedisiplinan adalah pejabat setingkat Kepala Dinas (SKPD), sehingga bilamana mungkin harus dihindari agar yang bersangkutan tidak terjerat hukuman dan dicari pelaksana teknis (bawahan) yang dianggap bertanggung jawab yang akan dijatuhi hukuman.

Intensitas dan Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Mahasiswa

Latar Belakang Masalah Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar

Mengingat pentingnya motivasi diharapkan dosen dapat memotivasi belajar mahasiswa dengan cara meningkatkan intensitas belajar mahasiswa dimana mahasiswa tidak hanya belajar dikelas. Melainkan ditambah belajar dilaboratorium yaitu melalui pembimbingan. Sehingga meningkatnya intensitas dan motivasi belajar terhadap mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar.

Peta Sukses Belajar

Peta Sukses Belajar

Terdorong oleh kerangka pemikiran di atas, muncul ketertarikan untuk mengetahui pengaruh intensitas belajar dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa SI Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan. Penelitian yang relevan perlu dilakukan untuk menjawab ketertarikan tersebut. Dengan demikian, proses peningkatan prestasi belajar mahasiswa dapat dilakukan dalam koridor yang tepat

Rumusan Masalah

Masalah yang diharapkan dapat diselesaikan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Adakah hubungan intensitas belajar dengan prestasi belajar mahasiswa SI Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan?
  2. Adakah hubungan motivasi belajar dengan prestasi belajar mahasiswa SI Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan?
  3. Adakah hubungan antara intensitas belajar dan motivasi belajar dengan prestasi belajar mahasiswa SI Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan?

Landasan Teori Intensitas dan Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Mahasiswa

  • Pengertian Intensitas Belajar

Intensitas adalah frekuensi belajar yang dilakukan mahasiswa selama kurun waktu tertentu untuk memperoleh pengalaman/ pengertian secara maksimal. Secara harfiah, arti intensitas belajar adalah kuat lemahnya belajar. Intensitas belajar juga mengacu pada banyaknya kegiatan yang dilakukan mahasiswa, cara belajar secara intensif (Hudoyo. H, 1998:73)

  • Mengikuti Pelajaran

Hadir secara tertib, memperhatikan penjelasan guru dengan seksama, dan membuat catatan pelajaran dengan sebaik-baiknya merupakan cara-cara yang dikemukakan The Liang Gie (198573.

Metode Penelitian

Desain Penelitian ini yang digunakan adalah penelitian korelasional.

Penelitian ini dilakukan di STIKES Muhammadiyah Lamonganpada bulan Januari 2010, populasi seluruh mahasiswa s1 keperawatan angkatan II, populasi seluruhnya adalah 150 mahasiswa, jumlah sampel pada penelitian adalah 105 mahasiswa.

Teknik sampling menggunakan teknik simpel randoom sampling. Uji validitas menggunakan teknik korelasi product moment dengan taraf signifikan α = 0,05 Reliabilitas di hitung dengan menggunakan Alpha Cronbac.

Analisis data yang dilakukan dengan menggunakan program Statistical Program For Social Science (SPSS) for windows.

Kesimpulan Intensitas dan Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Mahasiswa

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Variabel intensitas (X1) memiliki nilai thitung (2,283) > nilai ttabel (1,990), maka keputusannya adalah menerima Ha dan H0 ditolak. Hal ini berarti variabel intensitas berhubungan signifikan terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa S1 Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan
  2. Variabel motivasi (X2) memiliki nilai thitung (4,930) > nilai ttabel (1,990), maka keputusannya adalah menerima Ha dan H0 ditolak. Hal ini berarti variabel motivasi berhubungan signifikan terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa S1 Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan Secara simultan variabel intensitas, dan motivasi berhubungan nyata (significant) terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa S1 Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan. Dikarenakan nilai Fhitung sebesar 23,822. Dengan menggunakan tingkat kepercayaan (confidence interval) 95% atau α = 0,05 maka dari table distribusi F diperoleh nilai 17,411. Dengan membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel, maka Fhitung (17,411) > Ftabel (3,09). Keputusannya adalah H0 ditolak dan Ha diterima artinya

Pembelajaran Remidial Mengunakan Peta Konsep Dan Teka – Teki Silang

Pembelajaran RemedialContoh Tesis~ Pembelajaran Remidial Mengunakan Peta Konsep Dan Teka – Teki Silang Ditinjau Dari Kreativitas Dan Aktivitas Siswa 

Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting bagi kehidupan suatu bangsa, karena kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan dan sumber daya manusia. Dewasa ini perkembangan dunia pendidikan menjadi sangat diperhatikan, terutama untuk menghadapi persaingan global yang semakin tinggi. Sekolah mempunyai peranan tinggi dalam meningkatkan tujuan Pendidikan Nasional. Pendidikan merupakan proses sistematik untuk meningkatkan martabat manusia yang memungkinkan potensi diri dapat berkembang secara optimal.

Salah satu masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata prestasi belajar siswa. Masalah  lain dalam bidang pendidikan di Indonesia yang juga banyak diperbincangkan adalah bahwa pendekatan dalam pembelajaran masih didominasi oleh peran guru (teacher centered). Guru lebih banyak menempatkan siswa sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik. Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada siswa dalam berbagai mata pelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh), kreatif, obyektif, dan logis.

Perumusan Masalah

Masalah pokok yang akan dikaji dalam penelitian ini, dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Apakah ada  pengaruh pembelajaran  remidial menggunakan peta konsep dan teka-teki silang terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas IX   SMP N 2 Batangan?
  2. Apakah ada pengaruh tingkat  kreativitas siswa dalam meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas IX SMP N 2 Batangan?
  3. Apakah ada pengaruh tingkat aktivitas siswa dalam meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas IX SMP N 2 Batangan?
  4. Apakah ada interaksi antara pembelajaran remidial menggunakan peta konsep dan teka-teki silang dengan tingkat kreativitas siswa terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas IX SMP N 2 Batangan?

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui  pengaruh pembelajaran  remidial menggunakan peta konsep dan teka-teki silang terhadap prestasi belajar siswa.
  2. Untuk mengetahui pengaruh tingkat kreativitas siswa dalam meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas IX SMP N 2 Batangan.
  3. Untuk mengetahui pengaruh   tingkat aktivitas siswa dalam meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas IX SMP N 2 Batangan.
  4. Untuk mengetahui  interaksi antara pembelajaran remidial menggunakan peta konsep dan teka teki silang dengan tingkat kreativitas siswa terhadap  prestasi belajar fisika siswa kelas IX SMP N 2 Batangan.

Kesimpulan

Berdasarkan  kajian teori dan didukung adanya hasil analisis serta mengacu pada perumusan masalah yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. 1.  Terdapat pengaruh penggunaan  pembelajaran remidial  menggunakan   peta konsep dan menggunakan metode  teka-teki silang  terhadap prestasi belajar siswa pada materi kemagnetan kelas  IX semester 2 SMP Negeri 2 Batangan Kabupaten Pati  tahun pelajaran 2008/2009, yaitu prestasi belajar menggunakan metode peta konsep lebih baik daripada prestasi belajar menggunakan  teka-teki silang  dengan nilai rataan prestasi belajar berturut-turut 76,97 dan 73,5.
  2. Terdapat pengaruh kreativitas kategori tinggi dan kreativitas kategori rendah pada  pembelajaran  remidial  menggunakan  peta konsep dan teka-teki silang terhadap prestasi  pada materi  kemagnetan siswa kelas  IX semester 2 SMP Negeri 2 Batangan Kabupaten Pati tahun pelajaran 2008/2009. Siswa yang memiliki  kreativitas tinggi mempunyai prestasi belajar  yang lebih tinggi daripada siswa yang memiliki  kreativitas rendah. Nilai  kreativitas kelas  peta konsep dan kelas teka-teki silang  secara berurutan adalah 78,41 dan 68,29.
  3. Terdapat pengaruh aktivitas kategori tinggi dan aktivitas kategori rendah pada pembelajaran  Remidial menggunakan  peta konsep dan teka-teki silang  terhadap prestasi belajar  Fisika  pada materi  kemagnetan siswa kelas  IX semester 2 SMP Negeri 2 Batangan Kabupaten Pati tahun pelajaran 2008/2009. Siswa yang memiliki  aktivitas  tinggi mempunyai prestasi belajar yang lebih tinggi daripada siswa yang memiliki aktivitas rendah.
  4. Tidak ada interaksi antara pembelajaran Remidial menggunakan peta konsep dan teka-teki silang serta tinggi rendahnya kreativitas siswa terhadap prestasi belajar  fisika materi  kemagnetan siswa kelas  IX semester 2 SMP Negeri 2 Batangan Kabupaten Pati tahun pelajaran 2008/2009. Artinya tingkat kreativitas dan penggunaan metode pembelajaran mempunyai pengaruh sendiri-sendiri terhadap prestasi belajar fisika kemagnetan.

 

Incoming search terms:

Keuntungan Peternak Penggaduh Sapi Pembibitan Gaduhan

Usaha Ternak SapiContoh Tesis~ Analisa Keuntungan Peternak Penggaduh  Sapi Pembibitan Gaduhan Dinas Pertanian  Kabupaten Sukoharjo

Latar Belakang

Pembangunan  bidang peternakan dihadapkan pada berbagai faktor internal maupun eksternal yang semakin  kompleks. Permintaan akan bahan pangan asal ternak, pakan dan bahan baku industri semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk.  Tantangan yang dihadapi Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo semakin komplek seiring dengan kondisi perekonomian yang belum kondusif dalam pengembangan peternakan yang menimpa hampir seluruh wilayah Indonesia.  Hal ini berpengaruh terhadap populasi dan ketersediaan   produk asal hewan dan pola usaha bidang peternakan  di Kabupaten Sukoharjo.

Dalam menyikapi permasalahan di atas, upaya peningkatan produksi dan produktivitas ternak  dilaksanakan dengan meningkatkan efisiensi usaha dan meningkatkan ketrampilan, sumber daya manusia melalui penerapan teknologi tepat guna yang spesifik, pelatihan dan pembinaan di kelompok/peternak, pemberdayaan kelompok ternak, peningkatan pelayanan kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner serta menjalin kerjasama  dengan  stake holder yang berkompeten di bidang Peternakan dengan pola kemitraan, gaduhan maupun kerjasama.

Rumusan Masalah

  1. Apakah usaha ternak sapi gaduhan pembibitan secara finansial menguntungkan bagi peternak penggaduh ?
  2. Apakah ada perbedaan keuntungan dalam penerapan tehnologi Inseminasi Buatan (IB) dan kawin alam ?
  3. Berapa besar pengaruh  harga input  terhadap keuntungan peternak penggaduh sapi pembibitan gaduhan ?

Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui apakah usaha ternak sapi pembibitan secara finansial menguntungkan bagi peternak  penggaduh sapi gaduhan Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo
  2. Mengetahui perbedaan keuntungan bagi penggaduh yang menerapkan tehnologi Inseminasi Buatan (IB) dengan kawin alami.
  3. Mengetahui besarnya pengaruh faktor  input  terhadap keuntungan peternak penggaduh pada usaha ternak sapi pembibitan  gaduhan pada Dinas Pertanian  Kabupaten Sukoharjo.

Kesimpulan

  1. Hasil penelitian menunjukan bahwa Usaha Gaduhan Ternak Sapi Pembibitan Gaduhan Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo secara finansial menguntungkan, baik yang  menerapkan teknologi IB maupun yang tidak menerapkan teknologi IB.
  2. Keuntungan peternak sapi potong yang menggunakan teknologi Inseminasi Buatan (IB) lebih tinggi dibanding peternak yang tidak menggunakan teknologi IB.
  3. Secara individu variabel nilai induk pertahun, biaya pakan, dan pajak terbukti berpengaruh signifikan terhadap keuntungan usaha ternak sapi potong. Sedangkan biaya insimenasi buatan, dan biaya obat-obatan tidak berpengaruh signifikan terhadap keuntungan usaha ternak sapi potong.

Incoming search terms:

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD – Model Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara hiterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, materi, kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan kelompok.

Slavin (dalam Nur, 2000: 26) menyatakan bahwa pada STAD siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja dalam tim mereka memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Kemudian, seluruh siswa diberikan tes tentang materi tersebut, pada saat tes ini mereka tidak diperbolehkan saling membantu.

Langkah-langkah dalam model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini didasarkan pada langkah-langkah kooperatif yang terdiri atas enam langkah atau fase. Fase-fase dalam pembelajaran ini seperti tersajikan dalam tabel berikut ini.

 

Screen Shot 2013-04-02 at 04.39.18

 

Incoming search terms:

Masalah Tesis Pembelajaran Konvensional

Masalah Tesis Pembelajaran Konvensional – Apabila kita lihat kasus dilapangan ternyata masih banyak guru lebih suka menerapkan model pembelajaran konvensional tersebut, sebab tidak memerlukan alat dan bahan praktek,cukup menjelaskan konsep-konsep yang ada pada buku ajar atau referensi lain.

Dalam hal ini sering muncul masalah dalam pembelajaran konvensional yaitu siswa tidak diajarkan strategi belajar yang dapat memahami bagaimana belajar, berpikir dan memotivasi diri sendiri. Masalah ini banyak dijumpai dalam Kegiatan Proses Belajar Mengajar di kelas, sehingga perlu menerapkan suatu strategi belajar yang dapat membantu siswa untuk memahami materi ajar dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari yang salah satunya adalah dengan mengubah pembelajaran. (Trianto, 2007)

Pembelajaran konvensional yang diterapkan ternyata masih kurang mencapai hasil pembelajaran yang maksimal karena mahasiswa hanya mendengarkan dan situasi ini akan menimbulkan kebosanan yang mana mereka merasa tidak dituntut untuk berfikir dan cenderung santai karena kurang berfikir kritis. Hal ini mengakibatkan rendahnya kemampuan mahasiswa dalam membuat asuhan keperawatan. Padahal pembelajaran Keperawatan Medikal Bedah menuntut kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor. Hal ini akan membawa dampak yang kurang baik jika mereka tidak menguasai betul seperti yang diharapkan, padahal dalam pembelajaran dilapangan yang dihadapi adalah manusia. Mahasiswa harus dapat memutuskan masalah keperawatan dan tindakan apa yang harus dilakukan dengan perawatan bio-psiko-sosial-spiritual yang mana perawatan yang diberikan bersifat holistik untuk pemenuhan kebutuhan dasar manusia. (Nursalam, 2006). Oleh karenanya penelitian yang baik harus bisa menyelesaikan masalah dalam tesis pembelajaran konvensional.

Incoming search terms:

Tesis Pembelajaran Konvensional | Kelebihan dan Kekurangan

Tesis Pembelajaran Konvensional – Ada beberapa kelebihan pendekatan konvensional di antaranya :

  1. menghemat waktu dan biaya karena cukup dengan alat-alat pembelajaran yang sederhana dan siswa dapat mempelajari materi yang cukup banyak,
  2. siswa dapat mengorganisasi pertanyaan- pertanyaan yang lebih baik dan bebas atas materi pelajaran yang diajarkan,
  3. siswa yang mempunyai kemampuan memahami materi lebih cepat dapat membantu temannya yang lambat sehingga tidak perlu menemukan konsep secara mandiri,
  4. guru lebih mudah memahami kemampuan dan karakteristik siswa.

Sedangkan kelemahan tesis pendekatan konvensional adalah :

  1. pengalaman siswa sangat bergantung pada pengetahuan dan pengalaman guru,
  2. guru aktif mentransfer pengetahuannya, sementara siswa hanya menerima pengetahuan dari guru,
  3. penyebaran kawasan intruksional tidak memungkinkan siswa untuk belajar aktif, apalagi mengalami proses pengkajian pada tingkat kebenaran yang mendalam.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran merupakan suatu strategi atau metode yang dipilih oleh guru untuk menyajikan materi pelajaran kepada siswa agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Pendekatan pembelajaran tersebut dapat berupa pendekatan kontekstual maupun pendekatan pembelajaran konvensional. Pendekatan pembelajaran kontekstual yaitu pendekatan pembelajaran memungkinkan guru mengaitkan content atau isi materi pelajaran dengan dunia nyata siswa dan memotivasi siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya di dalam kehidupan siswa baik sebagai anggota keluarga maupun masyarakat. Di samping itu, dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual memungkinkan pula siswa menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademiknya dalam berbagai macam tatanan di sekolah dan luar sekolah agar dapat memecahkan masalah dunia nyata dan masalah-masalah yang disimulasikan. Sedangkan pendekatan pembelajaran konvensional yaitu pendekatan pembelajaran yang mengkobinasikan berbagai metode di antaranya metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas. Pendekatan tesis pembelajaran konvensional ini penerapannya dalam proses pembelajaran senantiasa berpusat pada guru.

Tag : Tesis Pembelajaran Konvensional

Incoming search terms:

Contoh Tesis Manajemen

Contoh Tesis Manajemen – berikut adalah contoh tesis manejemen yang bisa anda jadikan pedoman. Ini salah satu Layanan jasa kami mengenai pembuatan tesis manajemen, terutama tentang pembiayaan.

 

Berikut ini contoh tesis yang berjudul :

Pengaruh Bagi Hasil Pembiayaan Mudharabah Terhadap Laba Bersih

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1              Latar Belakang Penelitian

Bank syariah di Indonesia mulai berkembang tahun 1992, pada awalnya bank syariah diragukan akan sistem operasionalnya, tetapi tidak demikian adanya bank syariah membuktikan eksistensinya dan bank syariah terbukti mengalami kemajuan setelah Indonesia mengalami krisis moneter yang cukup mengkhawatirkan pada tahun 1997 yang berakibat sangat signifikan atas terpuruknya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Indonesia telah berada pada ambang kehancuran ekonomi, hampir semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan negatif. Kondisi terparah ditunjukkan oleh sektor perbankan yang merupakan penyumbang dari krisis moneter di Indonesia. Banyak bank-bank konvensional yang tidak mampu membayar tingkat suku bunga, hal ini berakibat atas terjadinya kredit macet. Bank Mu’amalat Indonesia salah satu dari bank yang dinyatakan sehat oleh pemerintah, karena mampu bertahan dari terpaan krisis ekonomi, yang nyata memiliki sistem tersendiri dari bank-bank lain, yaitu dengan sistem bagi hasil. Bank syariah memiliki keunggulan dalam sistem bagi hasilnya, sistem tersebut memiliki keuntungan bagi kedua belah pihak, karena adanya kesepakatan (akad) yang dibuat, rugi atau untung akan ditanggung bersama baik pihak bank dan nasabah debitur maupun kreditur dengan ketentuan bagi hasil yang telah ditetapkan. Setelah dipelopori Bank Mu’amalat Indonesia, banyak bank-bank konvensional yang membuka cabang syariah. Salah satunya adalah Bank Syariah Mandiri.

Semakin meningkatnya perkembangan usaha kecil dan menengah, menyebabkan semakin meningkatnya taraf kemakmuran perekonomian masyarakat. Namun, perkembangan usaha kecil dan menengah tersebut tidak disertai dengan tingkat modal yang mencukupi, sehinnga untuk menambah modal tersebut banyak perusahaan atau pelaku bisnis meminta bantuan dari pihak perbankan. Bagi nasabah yang memiliki keahlian, skill dan sebagian modal, bank syariah memiliki jenis pembiayaan musyarakah dan pembiayaan mudharabah.

Pembiayaan Mudharabah merupakan kerjasama antara pihak bank dengan nasabah, dimana dana 100% dari pihak bank dan keuntungan dibagi menurut akad/perjanjian. Dengan kata lain modal disediakan oleh pihak bank sedangkan nasabah menjalankan usahanya. Pembiayaan mudharabah dapat dilakukan untuk membiayai suatu proyek bersama antara nasabah dengan bank. Nasabah debitur dapat mengajukan proposal kepada bank syariah untuk mendanai suatu proyek tertentu atau usaha tertentu dan kemudian akan disepakati berapa modal dari bank dan berapa modal dari nasabah kreditur serta akan ditentukan bagi hasilnya bagi masing-masing pihak berdasarkan persentase pendapatan atau keuntungan bersih dari proyek atau usaha tersebut sesuai kesepakatan.

Menurut fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI), untuk kemaslahatan disarankan untuk menggunakan prinsip bagi pendapatan (revenue sharing). Perhitungannya didasarkan pada pembagian nisbah yang telah disepakati sebelumnya antara pihak bank syariah dan pengelola atau nasabah debitur dikalikan dengan penjualan dari laporan laba rugi nasabah debitur pada umumnya. Bank syariah mengikuti fatwa tersebut dengan tujuan untuk menghindari moral hazard yang mungkin dilakukan oleh nasabah debitur, misalnya dengan cara menaikkan biaya operasional yang tidak perlu.

Sistem bagi hasil yang merupakan karakter dari bank syariah adalah sebuah bentuk kesepakatan yang dibuat oleh pihak bank dengan pihak nasabah mengenai bagi hasil keuntungan atau kerugian dari pembiayaan yang diberikan oleh pihak bank, tentunya dengan mengutamakan prinsip keadilan dan hubungan kerjasama investasi yang harmonis (Mutual Investor Relationship) bukan hubungan debitur dengan kreditur (debitor to creditor) yang antagonis, dengan prinsip ini kedua belah pihak dituntut untuk sungguh-sungguh dan bertanggung jawab dalam menjalankan kewajibannya, sehingga tingkat kredit macet atau bermasalah bisa ditekan. Dengan tidak berlakunya system bunga berarti tidak ada pembebanan bunga yang berkesinambungan sebagaimana terjadi pada bank konvensional. Selain itu bank syariah sangat mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential bank) dalam menjalankan fungsinya dan menjunjung tinggi etika bisnis. Sebagaimana diketahui bahwa dngan besarnya tingkat pembiayaan yang disalurkan secara efektif dan efisien akan menambah tingkat pendapatan yang diperoleh.

Laba bersih (net profit) merupakan laba kotor (gross profit) dikurangi biaya distribusi penjualan, administrasi dan keuangan. Pada umumnya dalam praktek, bank syariah mempergunakan Revenue Sharing, hal ini sebagai salah satu upaya untuk mengurangi resiko penyelewengan yang mungkin dilakukan oleh mudharib.

Dengan meningkatnya tingkat pendapatan pada akhirnya akan meningkatkan laba bersih (net income), kemudian dengan laba bersih yang besar bank akan mampu menghadapi persaingan sekaligus melakukan ekspansi pasar dan kontinuitas usaha bank akan lebih terjamin serta meratanya tingkat pendapatan yang diperoleh setiap produk dengan perbandingan tidak terlalu jauh akan membuat posisi bank lebih stabil dan mengoptimalkan peraihan laba, walaupun ada satu produk yang sekiranya bermasalah dan menimbulkan resiko, tetapi resiko itu tentunya tidak secara signifikan mempengaruhi usaha bank dalam menghasilkan laba karena masih terantisipasi oleh pendapatan produk-produk atau lainnya.

Berdasarkan uraian di atas, menunjukkan bahwa besarnya pembiayaan bank mempunyai hubungan dalam menentukan besar kecilnya laba yang diperoleh bank, berdasarkan data dari bank syariah mandiri dapat dilihat data pembiayaan mudharabah dari tahun 2003-2008 :

Tabel 1.1

Bagi Hasil Pembiayaan Mudharabah

Tahun 2003-2008

 

Tahun

Bagi Hasil Pembiayaan Mudharabah

Laba Bersih

2003

Rp   20.471.978

Rp 15.834.669

2004

Rp 110.950.393

Rp 103.446.859

2005

Rp 210.444.043

Rp  83.819.281

2006

Rp 310.064.787

Rp  65.480.398

2007

Rp 464.903.596

Rp 115.455.198

2008

Rp 703.877.398

Rp 196.415.940

     Sumber : Laporan Keuangan Bank Syariah Mandiri tahun 2003-2008

Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa jumlah bagi hasil pembiayaan mudharabah pada Bank Syariah Mandiri setiap tahunnya mengalami peningkatan. Namun hal tersebut belum tentu meningkatkan jumlah laba bersih setiap tahunnya, fakta tersebut dapat dilihat dari laporan laba rugi Bank Syariah Mandiri bahwa laba bersih selama enam tahun yaitu dari tahun 2003-2008. Perkembangan bagi hasil pembiayaan mudharabah dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2008 mengalami kenaikan. Sedangkan laba bersih yang diperoleh Bank Syariah Mandiri mengalami penurunan pada tahun 2005 dan 2006, namun pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2008 mengalami kenaikan kembali. Penurunan laba bersih tersebut diakibatkan oleh adanya beberapa faktor.

Penelitian sebelumnya berjudul “Signifikansi Hubungan Bagi Hasil Pembiayaan Mudharabah Dengan Laba Bersih Yang Diperoleh Bank Syariah”. Penelitian tersebut disusun oleh Irma Rahmawati Hasanah, Universitas Widyatama Bandung yang melakukan penelitian pada Bank JABAR Syariah. Dalam penelitiannya dikatakan bahwa “Bagi hasil pembiayaan mudharabah memiliki hubungan peningkatan laba bersih yang diperoleh, dimana tingkat signifikansi hubungan yang dicapai adalah sebesar 60%, sementara 40% dipengaruhi faktor lain. Adapun tingkat keeratan hubungan tersebut berkorelasi sangat kuat. Sangat kuatnya hubungan tersebut dikarenakan pembiayaan mudharabah merupakan salah satu produk pembiayaan yang mempunyai pendapatan piutang yang tinggi, yang memberikan peningkatan laba bersih pada Bank Jabar Syariah”. Perbedaan dengan peneliti sebelumnya yaitu :

  1. Objek penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya pada PT. Bank Muamalat Indonesia, sedangkan objek penelitian yang saat ini peneliti lakukan pada Bank Syariah Mandiri.
  2. 2.      Dalam penelitian sebelumnya peneliti melakukan penelitian pada bank syariah dengan  mengambil sampel, yaitu data laporan keuangan pada Bank Muamalat Indonesia dengan periode selama empat tahun (2004-2007), sedangkan pada penelitian sekarang penulis mengambil sampel data laporan keuangan Bank Syariah Mandiri dengan periode selama 5 tahun, yaitu data laporan keuangan dari tahun 2004-2008.

Penelitian ini juga didukung oleh Jurnal penelitian Wibowo, M.G., 2003, “Pengaruh Tingkat Bagi Hasil, Suku Bunga dan Pendapatan Mudharabah Terhadap Laba Bersih: Studi Kasus Bank Muamalat Indonesia (BMI),” Jurnal Ekonomi Syariah MUAMALAH, vol. 2, no. 2, hal. 7-23.

Dalam Penelitian ini dikatakan bahwa, In the short term, the pattern of society saving in BMI is heavily influenced by income, the increase of income will be followed by the increase of saving, and vise versa. In the long term, GDP variable will negatively affecting mudharabah. It might happen because in the long term, people want to get high return from the return BMI could give. People’s willingness to save in BMI are not influenced by the motive of profit sharing return, but be influenced by other factor that are not found here. The amount of profit sharing does not effects on people’s willingness to save in BMI, neither does the interest rate of conventional bank. So, this paper will analyses the effects of profit sharing, interest rate, and income to mudharabah in BMI.”

Artinya : “Dalam jangka pendek, pola teladan masyarakat penghematan BMI dengan berat dipengaruhi oleh pendapatan, peningkatan pendapatan akan diikuti oleh peningkatan, dan ragum versa. Ungtuk jangka panjang, GDP variabel akan secara negatif mempengaruhi mudharabah. Itu bisa terjadi sebab ungtuk jangka panjang, orang-orang ingin mendapatkan pengembalian tinggi dari pengembalian itu BMI bisa memberi. Kesediaan masyarakat untuk menabung BMI tidaklah dipengaruhi oleh alasan pengembalian pembagian keuntungan, tetapi dipengaruhi oleh lain faktor yang tidaklah ditemukan di sini. Jumlah pembagian keuntungan tidak mempengaruhi pada kesediaan masyarakat untuk menabung BMI, tidak mengerjakan tingkat bunga bank konvensional. Maka, catatan/kertas ini akan meneliti efek pembagian keuntungan, tingkat bunga, dan pendapatan ke mudharabah di (dalam) BMI.”

Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik untuk  meneliti seberapa besar signifikansi hubungan bagi hasil pembiayaan mudharabah yang merupakan bagian dari pembiayaan bagi hasil pada bank syariah mandiri dengan laba bersih dan penulis mencoba untuk mengungkapkannya dalam skripsi yang berjudul : “Pengaruh Bagi Hasil Pembiayaan Mudharabah Terhadap Laba Bersih”

 

1.2       Identifikasi Dan Rumusan Masalah

1.2.1    Identifikasi Masalah

Semakin meningkatnya pembiayaan mudharabah maka akan semakin meningkatnya pendapatan bagi hasil tetapi belum tentu meningkatkan laba bersih perusahaan dikarenakan adanya faktor seperti adanya pembiayaan bermasalah dan adanya beban-beban operasional yang terlalu besar sehingga menyebabkan laba bersih pada tahun 2005 dan 2006 menurun.

1.2.2    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut :

  1. Bagaimana tingkat bagi hasil pembiayaan mudharabah pada Bank Syariah Mandiri.
  2. Bagaimana tingkat laba bersih yang diperoleh Bank Syariah Mandiri.
  3. Seberapa besar pengaruh bagi hasil pembiayaan mudharabah terhadap laba bersih yang diperoleh Bank Syariah Mandiri.

 

1.3  Maksud Dan Tujuan Penelitian

1.3.1    Maksud Penelitian

Maksud dilakukannya penelitian ini adalah untuk memperoleh data, informasi atau suatu gambaran mengenai pengaruh bagi hasil pembiayaan mudharabah terhadap laba bersih yang diperoleh Bank Syariah Mandiri.

1.3.2    Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui tingkat bagi hasil pembiayaan mudharabah pada Bank Syariah Mandiri.
  2. Untuk mengetahui tingkat laba bersih yang diperoleh Bank Syariah Mandiri.
  3. Untuk mengetahui besarnya pengaruh bagi hasil pembiayaan mudharabah terhadap laba bersih yang diperoleh Bank Syariah Mandiri.

 

1.4       Kegunaan Penelitian

Berdasarkan dari tujuan dilakukannya penelitian ini, penulis berharap bahwa penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan data yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dan membutuhkannya. Adapun penelitian yang dilakukan diharapkan dapat berguna sebagai berikut :

1.4.1    Kegunaan Akademis

  1. Bagi Pengembangan Ilmu Akuntansi

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan di bidang akuntansi dan memberikan referensi tentang keterkaitan antara pengaruh bagi hasil pembiayaan mudharabah terhadap laba bersih yang diperoleh bank syariah.

  1. Bagi Peneliti Lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat member tambahan pengetahuan dan dapat menjadi referensi bagi peneliti lain yang ingin mengkaji dalam bidang yang sama.

  1. Bagi Peneliti

Penelitian ini dapat menambah wawasan pengetahuan dan pemahaman khususnya mengenai pembiayaan mudharabah dengan prinsip bagi hasil yang diberikan serta mengenai perhitungan laba bersih yang diperoleh Bank Syariah Mandiri.

1.4.2    Kegunaan Praktis

  1. Bagi Bank Syariah Mandiri

Diharapkan dapat berguna sebagai bahan masukan atau saran dalam menerapkan kebijakan pengelolaan bagi hasil pembiayaan mudharabah, sehingga dapat tercapainya peningkatan laba bersih yang diperoleh Bank Syariah Mandiri.

  1. Bagi Nasabah

Dapat dijadikan sebagai bahan tambahan informasi mengenai sistem pemberian pembiayaan mudharabah yang berlandaskan prinsip bagi hasil.

 

1.5       Lokasi Dan Waktu Penelitian

1.5.1    Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada  Bank Syariah Mandiri KCP Bandung Jawa Barat yang berlokasi di Jl. Ir. H. Juanda No. 74 Bandung.

1.5.2    Waktu Penelitian

Waktu yang dibutuhkan Peneliti dalam melakukan penelitian adalah mulai dari bulan Oktober 2009 sampai dengan bulan Januari 2010. Untuk mempermudah kegiatan penelitian dan penyusunan skripsi, peneliti membuat jadwal penelitian sebagai berikut :

 

Tabel 1.2

Jadwal Penelitian

 

No

Bulan

Oktober

November

Desember

Januari

Februari

Minggu ke / Kegiatan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 5
1 Persiapan UP                                          
2 Penyusunan UP                                          
3 Seminar UP                                          
4 Pengumpulan Data                                          
5 Pengolahan Data dan Analisis Data                                          
6 Penyusunan skripsi                                          
7 Sidang Skripsi                                          

 

Ada banyak kata yang mengarah pada manajemen, antara lain manage, management, arrange, arragement. Demikian pula dengan pengertian dan pemahaman tentang manajemen. Akan tetapi yang sangat populer adalah manajemen berasal dari kata ‘to manage’ yang berarti mengatur. Manajemen juga biasa kita kenal sebagai suatu proses merencana, mengorganisasi, melaksanakan dan mengontrol atau mengawasi. Senada dengan hal tersebut, Hasibun memaparkan pengertian manajemen sebagai suatu proses  merencana, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien.

Bagi anda yang saat ini tengah menghadapi tugas penyusunan tesis manajemen, ada baiknya anda melihat-lihat contoh judul-judul tesis untuk memperluas ide penelitian apa yang akan anda pilih dan lakukan nanti sebagai bahan tesis anda. Berikut ini adalah contoh-contoh judul tesis manajemen:

  1. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN KONSUMEN MEMILIH JASA PENGIRIMAN PADA JASA PENGIRIMAN “TIKI” BANDUNG
  2. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN MEMILIH POLIS ASURANSI UNIT LINK SYARIAH PADA PERUSAHAAN ASURANSI “PRUDENTIAL” CABANG YOGYAKARTA
  3. PENGARUH VARIABEL KEUANGAN DAN NON KEUANGAN TERHADAP UNDERPRICING PADA PERUSAHAAN YANG MELAKUKAN INITIAL PUBLIC OFFERING (IPO) DI BURSA EFEK INDONESIA
  4. PENGARUH BAURAN PROMOSI PEMASARAN TERHADAP KEPUTUSAN PELANGGAN MEMILIH SEPEDA MOTOR YAMAHA MIO DI KABUPATEN CILACAP
  5. PENGARUH PELATIHAN DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PT SARI HUSADA YOGYAKARTA
  6. PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE PERCEPTION INDEX TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTA
  7. STUDI MENGENAI PENGARUH KINERJA PEREKONOMIAN MAKRO DAN KINERJA FUNDAMENTAL PERUSAHAAN TERHADAP RETURN SAHAM PERUSAHAAN INDUSTRI MANUFAKTUR DAN KEUANGAN DI BEJ
  8. ANALISIS PENGARUH KINERJA FUNDAMENTAL EMITEN TERHADAP HARGA SAHAN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BEJ TAHUN 2007-2009
  9. PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI
  10. DAMPAK IMPLEMENTASI STANDARDISED APPROACH PADA RISIKO KREDIT TERHADAP RASIO KECUKUPAN MODAL DAN PORTOFOLIO KREDIT (STUDI KASUS PADA BANK X)

Tag : Contoh Tesis Manajemen

Incoming search terms:

Contoh Proposal Tesis Pendidikan

Contoh Proposal Tesis Pendidikan – Proposal tesis pendidikan merupakan suatu usulan penelitian untuk melakukan suatu rangkaian kegiatan dalam proses penyusunan tugas akhir mahasiswa yang menempuh Strata 2 Pendidikan. Proses penelitian biasanya dilakukan di lingkungan lembaga pendidikan baik formal maupun informal seperti sekolah, pesantren, atau lembaga pendidikan lainnya.

Salah satu contoh Proposal Tesis Pendidikan adalah sebagai berikut:

Judul : EFEKTIVITAS PENGGUNAKAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMPUTER SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN TERHADAP PROSES PEMBELAJARAN BIOLOGI DI SMA NEGERI X KABUPATEN BOJONEGORO

Latar Belakang Masalah

Tak bisa disangkal lagi, pendidikan adalah salah satu jalur utama dalam upaya mempersiapkan generasi muda untuk menyambut dan menghadapi perkembangan jaman yang semakin kompetitif ini. Sebagai salah satu upaya pokok, pendidikan ini harus dilaksanakan sebaik mungkin. Pelaksanaan pendidikan yang berkualitas adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Di Indonesia, kewajiban pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas ini sudah diamanatkan secara jelas di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, dan dipertegas lagi di dalam Batang Tubuh, yaitu di dalam pasal 31 tentang Sistim Pendidikan Nasional. Tujuan akhir pendidikan nasional secara umum adalah peningkatan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas seperti tercantum dalam pasal 3 UU No. 3 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

Dalam era globalisasi yang semakin mendunia ini, setiap bangsa perlu meningkatkan daya saingnya di dalam berbagai bidang, termasuk sumber daya manusianya. Agar mampu bersaing di bidang sumber daya manusia, setiap orang dituntut untuk secara terus menerus belajar mengikuti dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Proses belajar ini dapat dilakukan sepanjang hayat dan di mana saja ketika kesempatan belajar memungkinkan. Sungguhpun demikian, sampai sekarang jalur pendidikan formal masih dianggap sebagai andalan di dalam penyelenggaraan pendidikan pada umumnya dan pembelajaran pada khususnya. Tidak jarang pula pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan serta mutu pendidikan di jalur pendidikan formal dijadikan indikator mutu sumber daya manusia di suatu negara. Dilihat dari kedua indikator itu (pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan mutu relevansi pendidikan) maka mutu pendidikan di Indonesia masih belum menggembirakan. Berdasarkan data tahun 2006 masih ada sejumlah anak usia pendidikan dasar yang masih di luar jalur.

Dilihat dari mutu pendidikan, angka pengangguran masih memprihatinkan dan menunjukkan bahwa Indonesia belum  mampu menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi yang dapat bersaing dan tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Untuk itulah maka perlu penyempurnaan di dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Pendidikan merupakan sebuah system yang di dalamnya terdapat komponen-komponen yang saling berkaitan erat. Banyak hal yang menjadi permasalahan dan tantangan dalam dunia pendidikan, misalnya tantangan bagi lembaga pendidikan untuk dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, adanya beberapa mata pelajaran yang dianggap sulit sehingga menjadi momok bagi sebagian siswa, kurang efektifnya metode pembelajaran yang selama ini dipakai oleh guru, kurang tersedianya media dan sarana yang cukup memadai untuk mendukung proses pembelajaran, serta gaya belajar dan tipe-tipe yang berbeda dari setiap peserta didik. Semua tantangan dan permasalahan yang dihadapi ini menuntut pemecahan agar dapat menghasilkan pembelajaran yang bermutu dan memberi dampak yang efektif dan efisien. Untuk itulah diperlukan adanya inovasi dalam dunia pembelajaran, yang dapat memberikan jawaban bagi permasalahan yang ada.

Seiring dengan upaya peningkatan mutu pendidikan, inovasi pembelajaran merupakan salah satu hal yang mendapat perhatian, di samping sarana penunjang pembelajaran. Berbagai forum diadakan untuk menyemaikan dan mensosialisasikan gagasan tentang inovasi pembelajaran dengan partisipan atau subjek sasaran para guru. Bahkan, dalam Diklat Sertifikasi Guru, sebagai tindak lanjut penanganan para peserta sertifikasi yang tidak lolos lewat jalur porto folio, inovasi pembelajaran merupakan salah satu mata diklat.

Kata “innovation“ dalam bahasa Inggris, sering diterjemahkan sebagai segala hal yang baru atau pembaharuan. Inovasi adalah segala sesuatu (berupa gagasan, praktek, barang, atau objek) perubahan yang dilaksanakan dengan perencanaan yang sistematis untuk memberi perubahan yang positif serta dianggap baru bagi seseorang atau sekelompok orang yang menggunakannya. Inovasi digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah. Pengertian inovasi dalam bidang pendidikan ialah suatu ide/gagasan, strategi.metode, atau barang, yang dirtasakan dan diamati sebagai hal yangbaru bagi seseorang atau sekelompok orang dan akan digunakan ubntuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan.

Banyak faktor yang berpengaruh atau berperan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Salah satu di antaranya adalah teknologi yang digunakan dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Teknologi pembelajaran yang dewasa ini aplikasinya berupa pemanfaatan proses dan produk teknologi komunikasi dan informasi (Information and communication technology/ICT) untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan memiliki banyak manfaat atau keuntungan. Dengan memperhatikan keunggulan teknologi pembelajaran, dapat disusun strategi pemanfaatan yang tepat dan optimal untuk meningkatkan kualitas, efisiensi, dan efektifitas pendidikan dan pembelajaran pada berbagai tingkatan satuan pendidikan termasuk di SMA.

Beradsarkan latar belakang permasalahan di atas, penulis tertarik untuk meneliti pengaruh pemanfaatan teknologi informasi dan komputer terhadap efektivitas pembelajaran di SMA Negeri X Kabupaten Bojonegoro dengan judul “EFEKTIVITAS PENGGUNAKAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMPUTER SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN TERHADAP PROSES PEMBELAJARAN BIOLOGI DI SMA NEGERI X KABUPATEN BOJONEGORO”

Rumusan Masalah

Sehubungan dengan latar belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:

“Apakah ada pengaruh penggunaan Teknologi Informasi dan Komputer sebagai media pembelajaran terhadap Efektivitas Pembelajaran Biologi di SMA Negeri X Kabupaten Bojonegoro?

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang signifikan atas penggunaan teknologi informasi dan komputer sebagai media pembelajaran terhadap efektivitas pembelajaran Biologi di SMA Negeri X Kabupaten Bojonegoro.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini pada dasarnya merupakan upaya untuk pembelajaran yang diharapkan dapat menambah khasanah ilmu khususnya ilmu kependidikan, terutama yang menyangkut pemilihan metode pembelajaran dalam kaitannya dengan efektifitas program pembelajaran pendidikan. Secara khusus hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat:

Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dalam hal:

  1. Efektifitas pembelajaran dengan penggunaan teknologi informasi dan komputer dalam proses pembelajaran di sekolah.
  2. Efektifitas pembelajaran dengan penggunaan teknologi informasi dan komputer kususnya dalam pembelajaran mata pelajaran biologi.
  3. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan masukan pada pemerintah dalam hal:

  1. Hasil penelitian ini untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana  Strata Dua (S2)  Pasca Sarjana.
  2. Diharapkan dari hasil penelitian ini nantinya bisa sebagai acuan bagi tenaga pendidik terutama guru mata pelajaran biologi mengenai efektifitas pembelajaran dengan teknologi informasi dan komputer dalam meningkatkan minat belajar siswa.
  3. Sistematika Penulisan

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas dan terarah, maka penulis mengemukakan sistematika penulisan sebagai berikut :

BAB I : Pendahuluan

Berisi tentang latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, anggapan dasar serta sistematika penulisan.

BAB II : Tinjauan Pustaka

Dalam bab ini berisi tentang teori-teori yang dapat digunakan atau relevan sebagai landasan atas kerangka berpikir untuk menyelesaikan masalah.

BAB III : Metodologi Penelitian

Pada bab ini akan diuraikan tentang rancangan penelitian dan Variabel, penentuan populasu dan sampel, teknik pengumpulan data, metode analisis data.

Bab IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan

Pada bab hasil penelitian dan pembahasan akan menyajikan data-data yang dibutuhkan serta analisa data seperti distribusi variabel, uji instrumen, uji normalitas, uji hipotesis serta besar hubungan antar variabel.

Bab V : Kesimpulan dan Saran

Merupakan bagian terakhir dari penulisan tesis ini yang membahas tentang kesimpulan dan saran-saran sesuai dengan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini.

 

Tema yang bisa diangkat dalam penyusunan proposal tesis pendidikan beragam, tergantung dari minat peneliti, dan juga objek yang akan dikaji, yang tentu saja tidak jauh-jauh amat dari permasalahan dunia pendidikan. Beberapa permasalahan yang sering diangkat dalam proposal tesis pendidikan di antaranya adalah pengukuran kinerja guru, efektivitas kepemimpinan kepala sekolah, efektivitas program pembelajaran, inovasi pembelajaran, dan lain-lain.

Berikut ini beberapa contoh judul proposal tesis pendidikan.

  1. HUBUNGAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN SIKAP GURU TERHADAP PEKERJAAN DENGAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU MATEMATIKA SMA NEGERI X DI KABUPATEN KULONPROGO
  2. PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN GROUP INVESTIGATION MELALUI HANDS ON ACTIVITIES DAN E-LEARNING DITINJAU DARI KREATIVITAS DAN GAYA BELAJAR SISWA (Studi Kasus Pada Siswa Kelas X SMA N X Kabupaten Banjarnegara T.P 2010/2011 Materi Tata Surya)
  3. PENGARUH PENDEKATAN QUANTUM LEARNING DAN EKSPOSITORI TERHADAP PRESTASI BELAJAR DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN TAHUN PELAJARAN 2010/2011 ( Sebuah Penelitian SMP Negeri di Kabupaten Wonosobo)
  4. PRESTASI BELAJAR IPA PADA MATERI POKOK BIDANG MIRING MENGGUNAKAN METODE PEMBELAJARAN STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS) DITINJAU DARI KEMAMPUAN PROBLEM SOLVING SISWA (Studi Kasus Pembelajaran IPA Menggunakan Buku Teks Terprogram dan Alat Peraga Bidang Miring  pada Materi Bidang Miring Siswa Kelas VIII  SMP N X Karanganyar Tahun Pelajaran 2009/2010)
  5. PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN EKSPOSITORI TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SISWA SMA NEGERI X TAHUN PELAJARAN 2010/2011)

Tag : Contoh Proposal Tesis Pendidikan

Incoming search terms:

Pengaruh Kemampuan Numerik, Logika Abstrak Dan Aktivitas Belajar Terhadap Prestasi

Contoh Tesis Pendidikan Matematika Pengaruh Kemampuan Numerik, Kemampuan Logika Abstrak Dan Aktivitas Belajar Matematika
Terhadap Prestasi Belajar Matematika
Siswa Kelas XI

Latar Belakang Masalah

Ide manusia tentang matematika berbeda-beda, tergantung pada pengetahuan dan pengalaman masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa matematika hanya perhitungan yang mencakup tambah, kurang, kali dan bagi, tetapi ada pula yang melibatkan topik-topik seperti aljabar, geometri dan trigonometri. Banyak pula yang beranggapan bahwa matematika mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan berfikir logis. Salah satu kecenderungan yang menyebabkan sejumlah siswa gagal menguasai dengan baik pokok-pokok bahasan dalam matematika yaitu siswa kurang menggunakan logika dalam menyelesaikan soal atau persoalan matematika yang diberikan. Kesulitan siswa biasanya terletak pada aspek imajinasi, artinya siswa kurang bisa mengekspresikan imajinasi ke dalam bentuk nyata. Dari sini terlihat bahwa kemampuan logika abtrak itu diperlukan guna mencapai hasil yang lebih baik di dalam menyelesaikan suatu persoalan. Stephivan Goe dalam Filosofi Pendidikan mengatakan bahwa yang menjadi masalah besar dalam pendidikan matematika adalah membangkitkan rasa percaya diri siswa terhadap kemampuan numerik dan logika dan daya kreativitas siswa dalam memecahkan soal.

Prestasi belajar matematika dipengaruhi oleh banyak faktor. Secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Salah satu faktor internal selain kemampuan numerik dan kemampuan logika abstrak yaitu aktivitas. Pada proses belajar mengajar yang berlangsung di kelas, siswa dituntut aktivitasnya untuk mendengarkan, memperhatikan dan mencerna pelajaran yang diberikan oleh guru. Dalam perkembangannya kegiatan belajar mengajar saat ini berorientasi pada siswa (student center), jika siswa tidak terlibat aktif maka siswa akan mengalami kesulitan dalam proses belajar mengajar.

 

B. Identifikasi Masalah

Dari uraian latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, masalah- masalah yang timbul dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Rendahnya prestasi belajar matematika siswa, ada kemungkinan disebabkan 
adanya kekeliruan dalam pemahaman dan penerapan konsep.

2. Masih rendahnya prestasi belajar matematika, ada kemungkinan disebabkan masih rendahnya kemampuan numerik siswa, sehingga perlu diketahui apakah 
kemampuan numerik mempengaruhi prestasi belajar matematika siswa.

3. Masih rendahnya prestasi belajar matematika, ada kemungkinan disebabkan masih rendahnya kemampuan logika abstrak siswa, sehingga diketahui apakah 
kemampuan logika abstrak mempengaruhi prestasi belajar matematika siswa.

4. Ada kemungkinan perbedaan aktivitas belajar siswa dapat menyebabkan perbedaan prestasi belajar matematika siswa.

 

E. Perumusan Masalah

Berpijak pada identifikasi masalah dan pembatasan masalah maka untuk memperjelas permasalahan yang akan diteliti maka dirumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah kemampuan numerik yang lebih tinggi dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan numerik yang lebih rendah?
  2. Apakah kemampuan logika abstrak yang lebih tinggi dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan logika abstrak yang lebih rendah?
  3. Apakah aktivitas belajar matematika yang mendukung dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada Aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung?
  4. Adakah interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik dan kemampuan logika abstrak terhadap prestasi belajar matematika?
  5. Adakah interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik dan aktivitas belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika?
  6. Adakah interaksi yang signifikan antara kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika?
  7. Adakah interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik, kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika?

 

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui

  1. Apakah kemampuan numerik yang lebih tinggi dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan numerik yang lebih rendah
  2. Apakah kemampuan logika abstrak yang lebih tinggi dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan logika abstrak yang lebih rendah
  3. Apakah aktivitas belajar matematika yang mendukung dapat menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung
  4. Ada atau tidak adanya interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik dan kemampuan logika abstrak terhadap prestasi belajar matematika
  5. Ada atau tidak adanya interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik dan aktivitas belajar mateamtika terhadap prestasi belajar matematika
  6. Ada atau tidak adanya interaksi yang signifikan antara kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika
  7. Ada atau tidak adanya interaksi yang signifikan antara kemampuan numerik, kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika.

Metode Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian kausal komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IS SMA Negeri 1 Jepon tahun pelajaran 2006/2007, yang terdiri dari tiga kelas dengan jumlah siswa sebanyak 128 siswa. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari dua kelas yaitu kelas XI IS 1 dan XI IS 2 yang berjumlah 80 siswa dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan angket, yaitu tes kemampuan numerik dan tes kemampuan logika abstrak serta angket untuk aktivitas belajar matematika siswa.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama. Sebagai persyaratan analisis data dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas dengan menggunakan metode Lilliefors, diperoleh sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal karena harga semua Lobs bukan merupakan anggota daerah kritik. Uji homogenitas dengan menggunakan metode Bartlett, diperoleh sampel berasal dari populasi yang homogen karena semua harga c2obs bukan merupakan anggota daerah kritik.

Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:

  1. Terdapat pengaruh yang signifikan kemampuan numerik terhadap prestasi belajar matematika (FA = 5.18 > 3.15=F0.05,2,62),
  2. Terdapat pengaruh yang signifikan kemampuan logika abstrak terhadap prestasi belajar matematika (FB = 12.45 > 3.15=F0.05,2,62),
  3. Terdapat pengaruh yang signifikan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika (FC = 35.05 > 4.00=F0.05,1,62),
  4. Tidak terdapat interaksi antara kemampuan numerik dan kemampuan logika abstrak terhadap prestasi belajar matematika (FAB = 0.73 < 2.52=F0.05,4,62),
  5. Tidak terdapat interaksi antara kemampuan numerik dan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika (FAC = 0.89 < 3.15=F0.05,2,62),
  6. Terdapat interaksi antara kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika (FBC = 5.28 > 3.15=F0.05,2,62),
  7. Tidak terdapat interaksi antara kemampuan numerik, kemampuan logika abstrak dan aktivitas belajar matematika terhadap prestasi belajar matematika (FABC = 0.29 < 2.52=F0.05,4,62).

Dari hasil uji komparasi ganda dapat disimpulkan bahwa:

  1. kemampuan numerik tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan numerik rendah (F1..-3..=7.34 > 6.30=2F0.05,2,62) dan kemampuan numerik sedang menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan numerik rendah (F2..-3..=6.86 > 6.30=2F0.05,2,62 ),
  2. kemampuan logika abstrak tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada kemampuan logika abstrak rendah (F.1.-.3.=17.53 > 6.30 = 2F0.05,2,62)
  3. aktivitas belajar matematika yang mendukung menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung
  4. untuk siswa yang mempunyai aktivitas belajar matematika yang mendukung: siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampua logika abstrak sedang (F11-21=19.04 > 11.837=5F0.05,5,62) dan siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak tinggi menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampua logika abstrak rendah (F11-31=19.68 > 11.837 = 5F0.05,5,62);
  5. untuk siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak tinggi, siswa yang memiliki aktivitas belajar matematika yang mendukung menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung (F11-12=32.87 > 11.837=5F0.05,5,62);
  6. untuk siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak tinggi dan aktivitas belajar matematika yang mendukung menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak sedang dan aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung (F11-22=27.61 > 11.837=5F0.05,5,62) dan juga menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak rendah dan aktivitas belajar matematika tidak mendukung (F11-32=55.92 > 11.837=5F0.05,5,62);
  7. untuk siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak sedang dan aktivitas belajar matematika yang mendukung menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan logika abstrak rendah dan aktivitas belajar matematika yang tidak mendukung (F21-32=13.15 > 11.837=5F0.05,5,62).