" />

April 19, 2015

Implementasi Program Sekolah Standar Nasional (SSN) Tingkat Sekolah Menengah Pertama

Latar Belakang Masalah Program Standar Sekolah Untuk Tingkat SMP

Memperhatikan pentingnya upaya-upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui pendidikan dengan dilaksanakan program sekolah standar nasional (SSN), maka penulis tertarik untuk meneliti Program Sekolah Standar Nasional (SSN) yang saat ini sedang diimplementasikan di SMP Negeri 2 Jatisrono Kabupaten Wonogiri.

Berdasarkan hasil Monitoring dan Evaluasi dari Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama menunjukkan bahwa pelaksanaan program SSN di SMP Negeri 2 Jatisrono Kabupaten Wonogiri berhasil dengan kategori amat baik dengan nilai 346,00 Tahun 2008 dan memperoleh nilai 356,58 Tahun 2009. Keberhasilan tersebut tentu dipengaruhi oleh berbagai komponen. Komponen-komponen tersebut perlu diketahui, dipahami, dan dijelaskan dengan harapan dapat memberikan informasi tentang keberhasilan dan masalah-masalah yang dihadapi dalam melaksanakan program SSN. Karena alasan itulah penelitian dilakukan dengan mengambil judul “Implementasi Program Sekolah Standar Nasional (SSN) Tingkat Sekolah Menengah Pertama”.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah implementasi Program Sekolah Standar Nasional (SSN) di SMP Negeri 2 Jatisrono?
  2. Bagaimanakah kendala dan cara mengatasi pelaksanaan Program Sekolah Standar Nasional (SSN) di SMP Negeri 2 Jatisrono ditinjau dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi?
  3. Apakah pelaksanaan Program Sekolah Standar Nasional (SSN) dapat meningkatkan mutu pendidikan di SMP Negeri 2 Jatisrono?

Orientasi Teoritik

Adapun uraian secara rinci diuraikan sebagai berikut:

  1. Sekolah Standar Nasional (SSN)

Kajian teori tentang konsep program SSN ini akan mambahas tentang Landasan Hukum, Standar Nasional Pendidikan (SNP), Tujuan Program SSN, dan Indikator Keberhasilan Program SSN.

  1. Standar Kompetensi Lulusan ( SKL )

Sebagaimana dijelaskan dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 Tentang SNP, bahwa yang dimaksud dengan standar kompetensi lulusan pendidikan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar kompetensi lulusan digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.

  1. Standar Isi Pendidikan

Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu (PP no. 19 Tahun 2005 Bab 1 Pasal 1 Ayat 5).

Kurikulum sekolah standar nasional adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi, bahan dan strategi pembelajaran sebagai acuan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan penyelenggaraan di sekolah standar nasional.

Metode Penelitian

Penelitian dilakukan di SMP Negeri 2 Jatisrono Kabupaten Wonogiri tahun pelajaran 2010/ 2011. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif.

Sumber data didapat dari tiga sumber: peristiwa, informan, dan dokumen. Teknik pengumpulan data: pengamatan berpartisipasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumen.

Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan teknik cuplikan.

Validitas data menggunakan triangulasi dan reviu informan.

Hasil penelitian dianalisis menggunakan teknik analisis model interaktif: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan.

Simpulan

  1. Implementasi Program Sekolah Standar Nasional (SSN) SMP Negeri 2 Jatisrono telah dilaksanakan sesuai dengan program (Hasil Monev Tahun 2008 memperoleh nilai 346.00 dan Hasil Monev Tahun 2009 memeproleh nilai 356.58) dan telah memenuhi delapan standar nasional pendidikan (SNP), yang meliputi : Standar Isi, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Proses, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan, dan Standar Penilaian.
  2. Kendala yang ditemui dalam mengimplementasikan Program Sekolah Standar Nasional (SSN) di SMP Negeri 2 Jatisrono, adalah : sarana dan prasarana sekolah yang belum mencukupi secara ideal (LCD, TV/ Video Kelas, Buku Teks, Buku Perpustakaan, dan Alat Peraga Pembelajaran).
  3. Pelaksanaan Progam SSN SMP Negeri 2 Jatisrono mempunyai dampak positif dalam meningkatkan mutu pendidikan, hal tersebut dapat dilihat dari peringkat sekolah 3 tahun berturut-turut meningkat. Pada tahun 2007/ 2008 peringkat 18 Kabupaten, tahun 2008/ 2009 peringkat 16 Kabupaten, dan tahun 2009/ 2010 peringkat 14 Kabupaten. Kelulusan siswa (output) peserta Ujian Nasional (UN) setiap tahunnya lulus 100%. Selain itu berdasarkan data penelusuran kelulusan, siswa yang diterima di RSBI SMA Negeri Wonogiri dan SMK Negeri di Wonogiri semakin banyak dan sebagian besar diterima di SMA Negeri Jatisrono.

Implementasi Pelaksanaan Pembiayaan Murobahah Di Bank Syariah Mandiri

Latar Belakang Murobahah Di Bank Syariah

Globalisasi yang terjadi di berbagai bidang memberikan dampak yang sangat berarti terhadap perkembangan pola hidup masyarakat seluruh belahan dunia. Termasuk Indonesia juga mengalami dampak dari adanya peroses globalisasi dalam berbagai bidang kehidupan. Perkembangan perekonomian dan perdagangan merupakan salah satu bidang kehidupan yang megalami dampak dari perkembangan globalisasi kehidupan. Tuntutan pasar global yang berdampak pada persaingan yang semakin ketat ini membawa pada perubahan terhadap peningkatan efektifitas dan efisiensi dalam pola produksi.

Perkembangan ini juga memberikan konsekuensi terhadap munculnya alat pembayaran yang lebih efisien dan efektif. Selain perkembangan tersebut memberikan dampak positif terhadap perkembangan system ekonomi di mana pasar keuangan dunia menjadi semakin terintegrasi yang dapat berakibat pada semakin mudahnya pergerakan arus lalu lintas modal, maka akan disertai dengan semakin ketatnya persaingan di dunia internasional. Kondisi ini selain menguntungkan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi juga akan dapat meningkatkan kerentanan perekonomian nasional yang disebabkan karena pergerakan arus modal tersebut. Untuk itu perlu dibutuhkan upaya yang dapat menekankan landasan perekonomian yang kuat melalui strategi pembangunan yang tepat dalam mewujudkan perekonomian nasional melalui perekonomian kerakyatan.

Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di ata, maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan permasalahan yang hendak dibahas dalam penelitian ini yaitu :

  1. Bagaimanakah pelaksanaan pemberian pembiayaan Murobahah oleh Bank Syariah Mandiri Cabang Solo ditinjauan dari Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah?
  2. Bagaimana kendala yang dihadapai dalam pelaksanaan pembiayaan Murabahah yang ada di Bank Syariah Mandiri Cabang Solo sesuai Dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah?

Landasan Teori Murobahah Di Bank Syariah

  1. Bank

Menurut Pasal 1 Undang-Undang No 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan, menerangkan bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/ atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak

  1. Jenis-Jenis Bank

Ada Beberapa jenis-jenis Bank meliputi :

  • Formalitas berdasarkan undang-undang, terdiri dari :
    1. Bank Umum
    2. Bank Perkreditan Rakyat
  • Jenis bank berdasarkan kepemilikannya
  • Jenis bank berdasarkan penekanan kegiatannya

Metode Penelitian

Jenis penelitian ini bersifat deskriptif yang memberikan data yang seteliti mungkin tentang keadaan objek penelitian, keadaan atau gejala-gejala lainnya. Sedangkan berdasarkan dari sudut bentuknya penelitian ini adalah penelitian evaluatif.

Penelitian ini menggunakan konsep hukum kedua, yaitu adalah norma-norma di dalam sistem perundang-undangan.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya konsep pembiayaan murabahah adalah salah satu bentuk jual beli dimana pada saat penjual menyatakan biaya perolehan barang yang akan dijualnya dan menjual kepada orang lain dengan menambahkan tingkat keuntungan yang diinginkan.

Novel Perempuan Berkalung Sorban Karya Abidah El Khalieqy dan Pintu Karya Fira Basuki (Kajian Intertekstualitas dan Nilai Pendidikan)

Latar Belakang Masalah Kajian Dua Novel

Dasar intertekstualitas adalah analisis struktur karya sastra dari unsur intrinsik dan ekstrinsiknya, kemudian menganalisis hubungan struktur karya sastra untuk menemukan persamaan dan perbedaan yang dijumpai di dalam kedua novel di atas. Analisis unsur ekstrinsik berupa nilai-nilai pesan antara lain nilai moral, nilai sosial budaya, nilai religi dan nilai falsafi yang disampaikan oleh pengarangnya (Jakob Sumardjo, 1999: 9).

Pendekatan intertekstualitas dalam penelitian ini untuk memperjelas pemahaman terhadap novel PBS karya Abidah El Khalieqy dan PT karya Fira Basuki yang di dalamnya sarat akan simbolisasi. Sehingga akan memberikan jawaban akan permasalahan-permasalahan yang ada pada kedua novel tersebut.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah struktur naratif novel PBS karya Abidah El Khalieqy dan PT karya Fira Basuki?
  2. Bagaimana unsur-unsur pembentuk struktur novel PBS karya Abidah El Khalieqy dan PT karya Fira Basuki?
  3. Apakah persamaan dan perbedaan unsur-unsur struktur novel PBS karya Abidah El Khalieqy dan PT karya Fira Basuki?

Kajian Teori, Penelitian Yang Relevan, Dan Kerangka Berpikir

  • Pendekatan Kajian Sastra

Pendekatan kajian yang dapat digunakan untuk menelaah novel sangat beragam, namun berikut ini disampaikan beberapa pendekatan kajian sastra. Hal ini dikandung maksud sebagai dasar kajian perlu mengetahui asumsi karya sastra sesuai pendekatan yang digunakan dalam mengkaji karya sastra.

  1. Pendekatan Struktural
  2. Pendekatan Intertekstualitas
  • Nilai Pendidikan dalam Novel
  1. Pengertian Nilai

Pada dasarnya yang maksud dengan nilai adalah sifat-sifat, hal-hal yang penting dan berguna bagi kemanusiaan. Dengan kata lain, nilai adalah aturan yang menentukan sesuatu benda atau perbuatan lebih tinggi, dikehendaki dari yang lain (Atar Semi, 1988:54).

  1. Pengertian Pendidikan

Dalam Undang-Undang Nomor 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I ketentuan umum pasal 1 disebutkan bahwa: ”Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara” (dalam Soedomo Hadi: 2003: 108). Dari beberapa pendapat tentang nilai pendidikan yang terdapat dalam karya sastra dapat disimpulkan bahwa ada beberapa nilai pendidikan yang bisa diperoleh dari sebuah cerita (dalam hal ini novel). Nilai pendidikan itu diantaranya adalah yang berhubungan dengan sosial, budaya, kemanusiaan, religi/agama, dan moral.

Metodelogi Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif–deskriptif.

Teknik pengumpulan data yang digunakan: teknik interaktif meliputi observasi berperan dan focus group discussion. Teknik noninteraktif meliputi mencatat dokumen atau arsip (content analysis), observasi tak berperan, teknik simak dan catat, dan teknik riset pustaka.

Dalam melakukan pengumpulan data, peneliti menyadari bahwa posisi dan peran utamanya adalah sebagai alat pengumpul data (human instrument), sehingga kualitas data yang diperoleh akan bergantung dari kualitas penelitinya.

Data yang sudah terkumpul dianalisis dengan teknik analisis model analisis interaktif dengan tiga alur kegiatan: (1) reduksi data; (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan atau verifikasi.

Simpulan

  1. Struktur Naratif Novel PBS dan Pintu

Struktur naratif PBS mengisahkan kehidupan Annisa. Kisah ini didasarkan pada novel karya Abidah El Khalieqy, Kisah pengorbanan seorang perempuan, anak kyai salafiah sekaligus seorang ibu dan isteri. Annisa (23 tahun), seorang perempuan dengan pendirian kuat, cantik dan cerdas. Annisa hidup dalam lingkungan keluarga kiai di pesantren yang kolot. Struktur naratif Pintu dimulai dari pernikahan tokoh aku (Bowo) dengan Aida mantan kekasihnya.

  1. Unsur-unsur Struktur Pembentuk Novel PBS dan Pintu

Tema dalam novel PBS secara umum pengarang ingin mengungkapkan bahwa perlunya pengakuan eksistensi perempauan. Sedangkan Tema novel Pintu,  menceritakan tentang kehidupan sosial tokoh utama dari masa sekolah dan para wanitanya. Budaya Jawa dalam novel ini sangat kental. Dengan demikian, tema sentral dalam novel ini adalah keluhuran budi pekerti seseorang yang tercabut dari akar budayanya. Alur novel PBS dan Pintu bila dikaji secara cermat menggunakan model alur yang sama, yaitu alur konvensional yang sama. Penokohan tokoh utama dalam novel PBS adalah Annisa Nuhaiyyah. Setting waktu novel PBS dan Pintu tidak ada persamaan, kecuali yang terkait dengan perubahan suasana misalnya penggambaran suasana pagi, siang, dan malam. Dalam novel PBS tidak secara tersirat maupun tersurat dijelaskan kapan peristiwa itu terjadi. Namun novel Pintu secara gamblang disebutkan waktunya. Sehingga dalam Pintu secara terperinci dapat dicermati dengan detail.

  1. Nilai Pendidikan dalam Novel PBS dan Pintu

Nilai pendidikan sosial dalam novel PBS, bahwa pendidikan sosial sebaiknya dan seharusnya ditanamkan sejak kecil seperti yang dilakukan oleh orang tua Nisa. Nilai pendidikan sosial dalam novel Pintu, bahwa pendidikan sosial sebaiknya ditanamkan sejak kecil seperti yang dilakukan oleh Papa-Mama Bowo. Dengan demikian, kedua novel tersebut selalau mengingatkan kepada manusia untuk selalu memiliki jiwa sosial, ingat kepada orang sekeliling kita.

 

Novel Ranah 3 Warna Karya Ahmad Fuadi Analisis Psikologi Sastra dan Nilai Pendidikan

Latar Belakang Masalah Mengkaji Novel Karya Ahmad Fuadi

Sosok Ahmad Fuadi adalah salah satu pengarang dari Sumatra. Ia adalah mantan wartawan TEMPO dan VOA, penerima delapan beasiswa luar negeri, dan penyuka fotografi. Pernah tinggal di Kanada, Singapura, Amerika Serikat, dan Ingris. Alumni pondok moderen Gontor. Novel pertamanya yang berjudul Negeri 5 Menara telah mendapat penghargaan dan pengakuan di hati masyarakat.

Atas dasar uraian di atas dapat di jelaskan alasan dalam pemilihan judul, antara lain:

  1. Penulis novel ini merupakan penulis terfavorit, anugrah pembaca Indonesia 2010
  2.  Novel Ranah 3 Warna banyak menggugah hati pembaca sehingga sebagian royalti trilogi ini untuk membangun komunitas menara, sebuah yayasan sosial untuk membantu pendidikan orang yang tidak mampu, yang berbasiskan sukarelawan
  3.  Novel ini menceritakan seseorang lulusan dari pesantren tetapi juga memiliki kemauan keras untuk merambah kesetaraan pendidikan negri bahkan sampai ke luar negeri

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah struktur novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi?
  2. Bagaimanakah aspek-aspek psikologi watak tokoh dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi?
  3. Bagaimanakah nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi?

Kajian Teori, Penelitian Yang Relevan, Dan Kerangka Berpikir

  • Pengertian Psikologi Sastra

Psikologi sastra adalah model penelitian interdisiplin dengan menetapkan karya sastra sebagai memiliki posisi lebih dominan (Nyoman Kutha Ratna, 2004: 349).

  • Metode Penelitian Psikologi Sastra

Metode atau langkah kerja pada pendekatan psikologis menurut Semi dalam Suwardi Endraswara (1993: 80-81). Langkah kerja yang akan menuntun fokus penelitian psikologi sastra adalah sebagai berikut:

  1. Pendekatan psikologis menekankan analisis terhadap keseluruhan karya sastra, baik segi intrinsik maupun segi ekstrinsik.
  2. Segi ekstrinsik yang dipentingkan untuk dibahas adalah mengenai pengarang yang menyangkut masalah kejiwaannya, cita-cita, keinginan, falsafah hidup, obsesi, dan lain-lain.
  • Hakikat Nilai

Nilai ialah gagasan yang berpegang pada suatu kelompok individu dan menandakan pilihan di dalam situasi. Jenis-jenis yang digolongkan sebagai nilai-nilai, yakni:

  1. Nilai pendidikan
  2. Nilai sosial
  3. Nilai politik
  4. Nilai ekonomi
  5. Nilai biologis

Metodelogi Penelitian

Bentuk penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan strukturalisme dan aspek psikologi watak dengan metode deskriptif kualitatif dan strategi content analysis (analisis isi).

Hasil dari kegiatan tersebut dideskripsikan dalam bentuk kalimat-kalimat. Penelitian dilaksanakan selama lebih kurang lima bulan, yaitu bulan Oktober 2011 sampai dengan bulan Maret 2012.

Sumber data dalam penelitian ini adalah:

  1.  Teks, yaitu novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi yang diterbitkan oleh penerbit PT Gramedia Pustaka Utama pada bulan Januari 2011
  2.  Catatan lapangan yang terdiri dua bagian, yaitu bagian deskripsi dan bagian refleksi. Bagian deskripsi merupakan usaha untuk merumuskan objek yang sedang diteliti, sedangkan bagian refleksi merupakan renungan pada saat penelaahan
  3.  Buku-buku literatur yang relevan.Teknik pengumpulan data dengan metode dokumentasi dan metode telaah

Simpulan

  • Struktur Novel Ranah 3 Warna

Struktur naratif novel Ranah 3 Warna dapat dikaji dari segi tema, peristiwa, plot atau alur, penokohan/ perwatakan, latar, sudut pandang, setting, dan amanat.

  • Aspek Psikologi Watak Tokoh

Aspek psikologi watak yang terdapat dalam novel Ranah 3 Warna meliputi;

  1. Kebutuhan fisiologi
  2. Kebutuhan rasa aman
  3. Kebutuhan dicinta atau disayangi
  4. Kebutuhan harga diri
  5. Kebutuhan aktualisasi diri. Seluruh aspek-aspek watak tersebut merupakan kondisi psikologi normal setiap individu terutama para tokoh yang ada dalam novel.
  • Nilai Pendidikan

Nilai pendidikan yang terkandung dalam novel Ranah 3 Warna setidaknya meliputi empat macam, yaitu nilai pendidikan agama, nilai pendidikan moral, nilai pendidikan sosial, dan nilai pendidikan budaya.

 

Incoming search terms:

Novel Suparto Brata’s Omnibus Karya Suparto Brata (Pendekatan Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan)

Latar Belakang Masalah Kajian Sosiologi dan Nilai Pendidikan dalam Novel

Di setiap novelnya memiliki kekhasan masing-masing. Seperti halnya dalam novel clemang-clemong, terdapat beberapa kata yang bagi sebagian orang dianggap tabu. Dalam novel Astirin Mbalela kita bisa melihat keberanian Astirin dalam menentang tradisi kawin paksa dan petualangannya saat pergi ke Surabaya. Selanjutnya Suparto Brata menyajikan adegan menegangkan dengan gaya khas detektif dalam novel Bekasi Remengremeng. Semuanya dikemas dengan tangan dingin Suparto Brata. Pembaca juga disuguhkan dengan alur cerita yang menawan. Tidak mudah ditebak! Pembaca akan terus dibuat penasaran dan bertanya-tanya tentang peristiwa selanjutnya. Istilah seperti suspense dan surprise juga dihadirkan dalam cerita Astirin Mbalela. Suspense yang membuat pembaca penasaran dan ingin terus membacanya, sedangkan surprise adalah hal yang memberi kejutan bagi pembaca dalam cerita tersebut.

Penelitian ini mengambil judul Novel Suparto Brata‟s Omnibus karya Suparto Brata (Tinjauan Sosiologi Sastra dan Nilai-nilai Pendidikan). Penelitian ini dimulai dengan sebuah kajian struktural yang menganalisis tentang tema, alur, penokohan, setting, dan sudut pandang dilanjutkan dengan kajian sosiologi sastra, dan nilai-nilai pendidikan yang meliputi nilai pendidikan agama, karakter dan sosial budaya.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah unsur-unsur struktural yang meliputi tema, alur, penokohan, latar, dan sudut pandang yang terdapat dalam SBO?
  2. Bagaimanakah aspek sosial dan budaya yang terdapat dalam SBO?
  3. Bagaimanakah nilai-nilai pendidikan dalam SBO?

Landasan Teori, Penelitian Yang Relevan, Kerangka Berpikir

  • Pendekatan Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra adalah suatu telaah obyektif dan ilmu tentang manusia dalam masyarakat dan proses sosialnya (Sapardi Djoko Damono, 1979: 17). Penelitian sastra dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra memperlihatkan kekuatan yakni: sastra dipandang sebagai sesuatu hasil budaya yang amat diperlukan masyarakat. Suatu pendekatan sosiologi sastra mencakup tiga komponen pokok menurut pendapat Warren dan Wellek dalam Djoko Damono (1979: 3) ketiganya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Sosiologi pengarang
  2. Sosiologi karya sastra
  3. Sosiologi sastra
  • Hakikat Nilai Pendidikan

Herman J. Waluyo (2009:27) menyatakan bahwa nilai sastra berarti kebaikan yang ada dalam makna karya sastra bagi kehidupan. Nilai sastra dapat berupa nilai medial (menjadi sarana). Nilai final (yang dikejar seseorang), nilai cultural, nilai kesusilaan, dan nilai agama. Dari pendapat tersebut, peneliti menyimpulkan ada tiga macam nilai yang terdapat dalam Suparto Brata‟s Omnibus. Nilai-nilai pendidikan yang dimaksud yaitu nilai pendidikan agama, pendidikan karakter, dan pendidikan sosial budaya.

Metodelogi Pendidikan

Bentuk penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif.

Sumber data penelitian ini dapat dipilah menjadi dua, yaitu dokumen dan informan. Dokumennya adalah Suparto Brata‟s Omnibus tahun 2007. Informannya adalah pengarang Suparto Brata‟s omnibus.

Berdasarkan sumber data penelitian, maka data penelitiannya adalah teks di dalam Suparto Brata‟s omnibus yang mengandung tema, alur, penokohan, setting, sudut pandang, aspek sosial budaya, dan nilai-nilai pendidikan.

Simpulan

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap Suparto Brata‟s Omnibus, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

  1. Suparto Brata‟s Omnibus meliputi tiga novel, yaitu Astirin Mbalela, Clemang-clemong, dan Bekasi Remeng-remeng. Ditinjau dari analisis struktural, novel Astirin Mbalela merupakan salah satu novel yang bertemakan perjuangan. Aspek penokohan dalam novel Astirin Mbalela menampilkan tokoh-tokoh dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda. Alur yang digunakan dalam novel Astirin Mbalela adalah alur maju, karena menceritakan kejadian dari awal hingga akhir.Setting tempat, setting waktu, dan setting sosial digarap dengan apik dan menarik. Sudut pandang yang digunakan oleh pengarang dalam novel Astirin Mbalela adalah sudut pandang orang ketiga. Aspek penokohan dalam novel tersebut juga menampilkan tokoh-tokoh dengan komplek, dan sebagian tokoh mengalami perubahan nasib.
  2. Bagaimanapun juga aspek sosial budaya tidak bisa dilepaskan dari karya sastra terutama karya rekaan. Segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan, pendidikan, agama, adat-istiadat, bahasa, suku dan tempat tinggal selalu berhubungan dengan karya tersebut. Tidak terkecuali dalam Suparto Brata‟s Omnibus yang meliputi Astirin Mbalela, Clemang-clemong, dan Bekasi Remeng-remeng.
  3. Nilai-nilai pendidikan yang meliputi nilai pendidikan agama, pendidikan karakter, dan pendidikan sosial budaya yang terdapat dalam Suparto Brata‟s Omnibus sangat bermanfaat bagi penikmat karya sastra dimanapun berada.

 

Novel Ular Keempat Karya Gus TF Sakai (Tinjauan Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan)

Latar Belakang Masalah Kajian Sosiologi dan Nilai Pendidikan Pada Novel

Dikembangkan alasan secara rinci dilakukan penelitian ini adalah:

  1. Novel Ular Keempat mempunyai banyak keistimewaan, salah satunya adalah mengajarkan tentang nilai-nilai pendidikan yang kompleks dan menarik untuk dikaji;
  2. Sepanjang pengetahuan penulis novel Ular Keempat belum pernah diteliti dengan pendekatan sosiologi sastra;
  3. Analisis terhadap novel Ular Keempat diperlukan guna menentukan kontribusi pemikiran dalam memahami masalah-masalah nilai pendidikan di masyarakat.

Berdasarkan alasan-alasan di atas, penulis tertarik untuk menganalisis novel Ular Keempat karya Gus TF Sakai dengan judul: ”Novel Ular Keempat Karya Gus TF Sakai (Tinjauan Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan).

Perumusan Masalah

  1. Bagaimanakah relevansi novel Ular Keempat karya Gus TF Sakai dengan situasi sosiologi pengarang dalam unsur sosial karya tersebut?
  2. Bagaimanakah situasi sosiologi yang ditampilkan dalam novel Ular Keempat karya Gus TF Sakai?
  3. Bagaimanakah nilai pendidikan dalam novel Ular Keempat karya Gus TF Sakai?

Landasan Teori

  1. Pengertian Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang hidup dan kehidupan manusia dalam masyarakat yang diwujudkan dalam karya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Wellek dan Austin, 1993: 68).

  1. Nilai-nilai Pendidikan Sosiologi Sastra

Nilai adalah segala sesuatu yang menarik bagi manusia sebagai subjek. Suleman (1995: 40) berpendapat bahwa pendidikan sebagai keseluruhan yang kompleks berhubungan dengan akal budi dalam kehidupan seseorang yang menekankan pada tiga unsur (akal, perasaan, dan kehendak) secara bersamaan sehingga individu dapat membedakan perbuatan baik dan buruk. Berkaitan dengan moral dan macam budaya tersebut, maka macam pendidikan moral dapat masuk dalam 5 kelompok tersebut dengan penjelasannya sebagai berikut.

  • Nilai Pendidikan Bidang Religius atau Agama
  • Nilai Pendidikan Bidang Ilmu Pengetahuan
  • Nilai Pendidikan Bidang Sosial
  • Nilai Pendidikan Bidang Ekonom
  • Nilai Pendidikan Bidang Politik
  • Nilai Pendidikan Budaya

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologis.

Data dalam penelitian ini berupa kata, frasa, dan kalimat yang terdapat dalam novel Ular Keempat karya Gus TF Sakai, diterbitkan oleh Kompas, Jakarta, tahun terbit 2005 dengan tebal 196 halaman.

Teknik pengumpulan data menggunakan metode pustaka.

Uji validasi melalui triangulasi teori.

Analisis data secara heuristik dan hermeneutik dilanjutkan dengan analisis interaktif.

Simpulan

  1. Relevansi Novel Ular Keempat Karya Gus TF Sakai dengan Situasi Sosiologi

Pengarang dalam Unsur Sosial Pandangan Gus TF Sakai terhadap novel Ular Keempat, merupakan gambaran kehidupan yang percaya kepada Tuhan. Keyakinan kepada Tuhan yang terdapat pada seorang individu akan berpengaruh terhadap perilaku individu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Agama sebagai wujud ajaran keyakinan kepada Tuhan memuat ajaran yang penting dilakukan dan ajaran yang dilarang, dengan melakukan tindakan sesuai ajaran agama dapat mempengaruhi perilaku individu pada perbuatan baik dan buruk.

  1. Situasi Sosiologis yang Ditampilkan dalam Novel Ular Keempat Karya Gus Tf Sakai
  • Kesejatian dalam beragama

Novel yang mengangkat fakta sejarah mengenai kisruh perjalanan haji tahun 1970 sebagai latar cerita. Secara konvensional, urutan peristiwa disusun kronologis. Di antara itu, pengarang memanfaatkan tokoh utama untuk memasukkan alam pikiran bawah sadar berjalin kalidah dan dengan mitos, dan halusinasi.

  • Kesejatian hidup orang secara individual

Ular keempat menceriterakan sifat tokoh utama (Janir) yang individualistis, yang tidak ingat siapa pun, hanya ingat kehormatan diri sendiri, kemajuan diri pribadi, kemakmuran sendiri-sendiri. Janir menumpuk uang untuk berhaji dan dilakukan berkali-kali. Janir melupakan induk semangnya, tetangganya yang papa, para fakir, kaum duafa. Sosok Janir merefleksikan mengelabangnya individualitas dan ketamakan mengejar kehormatan diri pribadi

  1. Nilai Pendidikan dengan Tinjauan Sosiologis dalam Novel Ular Keempat Karya Gus TF Sakai
  • Nilai Pendidikan Ilmu Pengetahuan
  • Nilai Pendidikan Religius atau Agama
  • Nilai Pendidikan Sosial
  • Nilai Pendidikan Ekonomi
  • Nilai Pendidikan Politik
  • Nilai Pendidikan Budaya

 

Pembelajaran Model Kooperatif Pada Materi Persamaan Garis Lurus

Latar Belakang Gaya Pembelajaran Pada Matematika

Pembelajaran matematika dengan berkelompok (cooperative learning) adalah pembelajaran yang menitikberatkan pada aktivitas belajar, membantu dan membimbing siswa jika menemui kesulitan, serta membantu mengembangkan kreativitas siswa terhadap prestasi belajarnya. Pembelajaran tersebut dilalui dengan peserta didik membangun sendiri pengetahuannya melalui pengalaman dan interaksinya dengan lingkungan, artinya bagaimana guru membantu dan mengarahkan kepada siswa untuk berpikir dan mampu menyelesaikan masalah (soal) dengan baik.

Faktor lain yang terkadang masih diabaikan dalam berbagai penelitian pendidikan matematika adalah kreativitas belajar siswa. Seiring dengan perkembangan teknologi dan media elektronik, sebagian siswa justru tidak dapat menyikapinya secara bijak. Sebagai contoh adanya tayangan-tayangan menarik di televisi menjadikan siswa kurang bersemangat dalam belajar, sebaliknya lebih semangat untuk mengikuti acara televisi. Oleh karena itu perlu ada upaya meningkatkan kreativitas belajar siswa, khususnya kreativitas berprestasi dalam belajar matematika. Hal tersebut perlu dilakukan sebagai upaya untuk mengungkap informasi secara komprehensif terhadap gejalagejala yang muncul dalam praktik pembelajaran terkait kreativitas berprestasi siswa dalam belajar matematika.

Rumusan Masalah

  1. Manakah yang memberikan pengaruh lebih baik terhadap prestasi belajar matematika siswa, antara pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD, model kooperatif tipe TPS atau pembelajaran konvensional?
  2. Manakah yang mempunyai prestasi belajar lebih baik diantara siswa yang mempunyai tingkat kreativitas tinggi, sedang atau rendah?

Landasan Teori

  • Pengertian Matematika

Berikut beberapa definisi mengenai matematika, diantaranya adalah terdapat di dalam Kamus Bahasa Indonesia (2005: 723),  matematika mempunyai pengertian ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan.

  • Pengertian Prestasi Belajar Matematika

Berdasarkan pengertian prestasi belajar dan matematika yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar matematika adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam proses belajar matematika melalui pendidikan formal yaitu SD, SMP, dan SMA, yang menghasilkan perubahan pada diri siswa yang disebabkan oleh latihan yang terarah dan hasil dari pengalaman serta proses interaksi dari individu, perubahan tersebut berupa pembentukan makna, penguasaan pengetahuan, dan keterampilan yang hasilnya dinyatakan dengan simbol, angka, atau huruf sebagai nilai.

  • Pembelajaran Kooperatif

Menurut Ismail (2003), istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode, atau prosedur.

  • Unsur-unsur Dalam Pembelajaran Kooperatif

Menurut Anita Lie (2005: 36), terdapat lima unsur yang membedakan pembelajaran kooperatif dengan hanya sekedar belajar kelompok, yaitu: saling ketergantungan positif, akuntabilitas individual, interaksi tatap muka, komunikasi antar anggota dan evaluasi proses kelompok.

Metode Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial 3×3. Populasinya adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri di Kota Madiun.

Pengambilan sampel dengan teknik stratified cluster random sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 283 siswa.

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah angket kreativitas dan tes prestasi belajar matematika.

Uji coba instrumen angket meliputi validitas isi, konsistensi internal dan reliabilitas.

Uji coba tes meliputi validitas isi, tingkat kesukaran, daya beda dan reliabilitas.

Teknik analisis data yang dilakukan yaitu: Uji keseimbangan, uji prasyarat analisis (Uji Normalitas dan Uji Homogenitas), Uji Hipotesis penelitian dengan menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama.

Kesimpulan

  1. Penerapan pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD dan TPS memberikan pengaruh yang sama terhadap prestasi belajar matematika siswa, namun keduanya (STAD dan TPS) lebih baik dibanding pembelajaran konvensional.
  2. Siswa yang memiliki tingkat kreativitas tinggi mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki tingkat kreativitas sedang maupun rendah, sedangkan siswa yang memiliki tingkat kreativitas sedang mempunyai prestasi belajar yang sama dengan siswa yang memiliki tingkat kreativitas rendah.

Pandangan Strukturalisme Genetik dan Nilai Pendidikan dalam Novel

Latar Belakang Masalah Pandangan Aspek-aspek dalam Novel

Karya sastra yang dipilih sebagai objek kajian dengan pendekatan strukturalisme genetik adalah novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo dengan alasan:

  1. Kuntowijoyo seorang sastrawan besar pencetus sastra profetik,
  2. Novel-novel tersebut merupakan cermin realitas masyarakat; dan
  3. Kajian strukturalisme genetik dan nilai pendidikan terhadap ketiga karya sastra tersebut belum pernah dilakukan Judul yang diambil dalam penelitian ini adalah “Pandangan Profetik Kuntowijoyo dalam Novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah (Kajian Strukturalisme Genetik dan Nilai Pendidikan)”.

Judul yang diambil dalam penelitian ini adalah “Pandangan Profetik Kuntowijoyo dalam Novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah (Kajian Strukturalisme Genetik dan Nilai Pendidikan)”.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pandangan dunia pengarang yang melatarbelakangi novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo?
  2. Bagaimana struktur sosial budaya masyarakat dalam novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo?
  3. Mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan dalam novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo?

Landasan Teoretis

  • Pengertian Novel

Novel dalam arti umum berarti cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas yaitu cerita dengan plot dan tema yang kompleks, karakter yang banyak dan setting cerita yang beragam.

  • Unsur-unsur Novel

Penelitian terhadap novel bertolak pada unsur yang terdapat di dalam novel itu. Berkenaan dengan unsur intrinsik, Burhan Nurgiyantoro (2002: 23) menyebutkan beberapa unsur, yaitu peristiwa, cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan, dan bahasa atau gaya bahasa.

  • Cara Mengukur Adanya Nilai Pendidikan dalam Novel

Cara mengukur atau menganalisis nilai pendidikan yang ada di dalam novel adalah dengan membaca novel-novel tersebut secara berulangulang, memahami sacara mendalam, dan mencatat kalimat-kalimat mana sajakah yang penting dan dianggap dapat mendukung sebuah nilai pendidikan di dalamnya. Setalah dapat memahami isi teks novel tersebut, kemudian dikaji tema dan amanat yang ada di dalam ketiga novel tersebut. Dengan adanya tema yang dimunculkan di dalamnya, dapat diketahui apakah nilai-nilai yang ada di dalam novel tersebut dapat digunakan sebagai landasan pendidikan atau tidak.

Metodelogi Penelitian

Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode content analysis atau analisis isi.

Sumber data penelitian ini adalah novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah karya Kuntowijoyo, karya-karya Kuntowijoyo yang lain, biografi penulis, komentar pengarang-pengarang lain, dan artikel dari buku, surat kabar, internet yang menunjang permasalahan penelitian.

Teknik analisis cuplikan penelitian ini menggunakan purposive sampling. Validitas data penelitian ini menggunakan metode triangulasi teori.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis jalinan atau mengalir (flow model of analysis) yang meliputi tiga komponen, yaitu:

  1. Reduksi data (data reduction)
  2. Sajian data (data display)
  3. Penarikan simpulan (conclution drawing)

Prosedur penelitian yang peneliti lakukan melalui tiga tahap mencakup:

  1.  Tahap eksplorasi dan memperoleh gambaran umum
  2.  Tahap eksplorasi fokus
  3.  Tahap pengecekan dan keabsahan data

Simpulan

Pandangan dunia Kuntowijoyo adalah pandangan religius profetik. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Kuntowijoyo dalam maklumat sastra profetik. Dikatakannya bahwa sastra adalah sebagai bagian dari ibadah. Ini adalah bukti pandangan religiusnya. Akan tetapi, pandangan religius tersebut bukanlah religius sufistik yang hanya mengedepankan hubungan manusia dengan Tuhan. Pandangannya adalah religius profetik karena ada humanisasi, leiberasi, dan transendensi.

Pak Mantri dideskripsikan sebagai tokoh hero yang dikenal karena interaksi sosialnya yang baik kepada masyarakat baik pedagang maupun pejabat pemerintah. Tokoh Pak Mantri diwujudkan sebagai sosok yang religius, jujur, setia sopan, dan tahu diri. Struktur sosial budaya masyarakat dalam novel Pasar, Mantra Pejinak Ular (MPU), dan Wasripin dan Satinah (WS) berkaitan erat dengan kenyataan sosial budaya masyarakat Jawa.

Analisis nilai-nilai pendidikan dalam novel Pasar, Mantra Pejinak Ular, dan Wasripin dan Satinah meliputi analisis nilai pendidikan:

  1. Agama
  2. Moral
  3. Adat/budaya
  4. Sosial
  5. Kepahlawanan

Incoming search terms:

Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) Sebagai Pembelajaran Matematika

Latar Belakang Masalah Pembelajaran Matematika

Selama waktu pelajaran dalam kelas, semuanya dipenuhi dengan pemberian materi dan latihan saja. Sejak jam pembelajaran dimulai, siswa diharuskan mengkonsumsi materi pembelajaran matematika tanpa adanya kesempatan mengelak. Tak ada kesempatan untuk mempelajari hal-hal lain yang sama penting, atau jauh lebih penting daripada matematika itu sendiri. Bisa jadi inilah yang menyebabkan munculnya persepsi bahwa matematika itu ”menyeramkan”. Terlebih lagi jika cara penyampaian materinya sangat kaku dan membosankan.

Masalah diatas perlu kiranya dicarikan solusinya. Bagaimana seorang pengajar mampu menghilangkan citra buruk matematika di benak siswanya, dan tentu akan lebih baik lagi jika akhirnya nanti, perasaan cinta dan butuh terhadap matematika/ pembelajaran matematika benar-benar telah tumbuh berkembang dalam jiwa setiap siswanya. Erica McWilliam (1997) dalam jurnalnya mengemukakan bahwa,”Kita semua harus menjadi peserta didik sepanjang waktu, dan orang-orang dari kita yang mengajar siswa juga harus memahami diri untuk menjadi fasilitator pembelajaran”.

Perumusan Masalah

  1. Apakah pembelajaran matematika yang diajarkan dengan metode PPR lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran dengan metode konvensional terhadap prestasi belajar siswa pada materi pokok luas segitiga?
  2. Apakah siswa dengan aktivitas belajar tinggi lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa dengan aktivitas belajar sedang dan siswa dengan aktivitas belajar rendah, dan siswa dengan aktivitas belajar sedang lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa dengan aktivitas belajar rendah pada materi pokok luas segitiga?
  3. Apakah perbedaan prestasi belajar matematika dengan menggunakan metode PPR dan dengan metode konvensional konsisten pada tiap kategori aktivitas belajar siswa, dan apakah perbedaan prestasi belajar matematika antara tiaptiap kategori aktivitas belajar konsisten pada pembelajaran menggunakan metode PPR dan metode konvensional?

Landasan Teori

Thulus Hidayat,et al (1995:96) mengemukakan bahwa, “Belajar sebagai suatu proses atau aktivitas dipengaruhi oleh berbagai faktor yang secara garis besar dapat dibagi menjadi 2, yaitu:

Faktor yang berasal dari luar diri pelajar (eksternal) yaitu:

  • Faktor non sosial seperti keadaan suhu, cuaca, waktu dan alat yang digunakan.
  • Faktor sosial yaitu faktor manusia

Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri pelajar (internal)

  • Faktor-faktor fisiologis yaitu keadaan jasmani
  • Faktor-faktor psikologis

Prestasi Belajar Matematika Suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus dapat tercapai. Tujuan instruksional tersebut merupakan hasil belajar yang telah ditetapkan baik menurut aspek isi maupun aspek perilaku.

PPR (Paradigma Paedagogi Reflektif) adalah polapikir dalam menumbuh kembangkan pribadi siswa menjadi pribadi berkemanusiaan. PPR termasuk model pembelajaran inovatif alternatif yaitu kooperatif.

Metodelogi Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode eksperimental semu dengan desain faktorial 2×3.

Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA-SMA se Kabupaten Semarang Semester II tahun pelajaran 2008/2009.

Sampel penelitian ini adalah kelompok eksperimen (dengan metode PPR) terdiri dari SMA N 1 Ambarawa sebanyak 40 siswa dan SMAK Bhakti Awam sebanyak 40 siswa, jumlah kelompok eksperimen sebanyak 80 siswa. Sedangkan kelompok kontrol (metode konvensional) terdiri dari SMAN 1 Ambarawa sebanyak 40 siswa dan SMAK Bhakti Awam sebanyak 40 siswa, jumlah kelompok kontrol sebanyak 80 siswa. Jadi banyaknya sampel 160 siswa. Metode penarikan sampel menggunakan penarikan sampel berkelompok (Cluster Random Sampling) dengan cara undian. Data dikumpulkan dengan metode dokumentasi, angket dan tes.

Metode dokumentasi dari nilai UAN SMP digunakan untuk uji keseimbangan, metode angket digunakan untuk mengukur aktivitas belajar matematika dan metode tes digunakan untuk mengumpulkan data prestasi belajar matematika.

Analisis data dengan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama, dilanjutkan dengan uji komparasi ganda metode Scheffe.

Kesimpulan

  1. Cara penyajian materi menggunakan metode PPR lebih baik daripada menggunakan pembelajaran Konvensional.
  2. Prestasi belajar siswa dengan aktivitas tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa dengan aktivitas belajar sedang, sedangkan siswa dengan aktivitas tinggi lebih baik dari pada prestasi belajar siswa dengan aktivitas rendah, dan prestasi belajar siswa dengan aktivitas sedang lebih baik daripada prestasi siswa dengan aktivitas rendah pada materi pokok luas segitiga.
  3. Prestasi belajar matematika dari masing-masing cara penyajian materi berlaku konsisten/ sama pada masing-masing kategori aktivitas siswa dan prestasi belajar matematika dari masing-masing kategori aktivitas belajar berlaku konsisten/ sama pada masing-masing cara penyajian materi.

 

Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Di Dusun Sukunan

Latar Belakang Masalah Pengolaan Sampah

Salah satu daerah yang telah berhasil melaksanakan pengelolaan sampah yang melibatkan partisipasi masyarakat adalah dusun Sukunan. Atas keberhasilan dusun Sukunan menjadi “Kampung Wisata Lingkungan” maka dusun ini menjadi tempat percontohan untuk pengelolaan sampah mandiri berbasis masyarakat. Banyak kalangan yang telah berkunjung di dusun Sukunan ini, baik dari instansi pemerintah, sekolah,kelompok masyarakat lain, bahkan dari luar negeri.

Latar belakang profesi masyarakat di Sukunan ini sebagian besar adalah buruh tani, petani, buruh bangunan, pedagang, usaha kecil rumahan (tempe, tahu,  sujen, emping mlinjo, bakpia, dll.) hanya sebagian kecil yang menjadi karyawan swasta, PNS dan TNI. Melalui pengelolaan sampah mandiri diharapkan masyarakat di daerah ini dapat memperoleh manfaat sampah secara ekonomi, peningkatan motivasi dan pengetahuan terhadap pelestarian lingkungan serta termotivasi mengembangkan sistem pengelolaan sampah mandiri dan produktif yang berbasis masyarakat (Tim Paguyuban Sukunan Bersemi, 2008 : 9).

Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk partisipasi masyarakat Sukunan dalam pengelolaan sampah. Partisipasi ini akan dilihat dari tiga aspek, yaitu: persepsi masyarakat Sukunan terhadap pengelolaan sampah, motivasi masyarakat Sukunan untuk ikut serta dalam pengelolaan sampah dan kegiatan partisipasi masyarakat Sukunan dalam pengelolaan sampah.

Kajian Teoretis

  • Sampah dan Pengelolaan Sampah

Menurut UU No.18 th 2008 Pasal 1 ayat (1) definisi sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.  Sampah, baik kuantitas maupun kualitasnya sangat dipengaruhi oleh berbagai kegiatan dan taraf hidup masyarakat. Beberapa faktor yang penting antara lain adalah :

  1. Jumlah penduduk
  2. Keadaan sosial ekonomi
  3. Kemajuan teknologi
  4. Pengelolaan Sistem Sentralisasi

Kebanyakan pemukiman masih menerapkan pola pengelolaan sampah secara sentralistik. Sistem sentralisasi pengolahan sampah adalah pengolahan sampah yang terpusat dari daerah yang cakupannya luas. Pengolahan sampah yang dilakukan di tingkat TPA.

  • Pengelolaan Sistem Desentralisasi

Berbeda dengan sistem sentralisasi, sistem desentralisasi mensyaratkan pengolahan sampah pada daerah hulu atau penghasil sampah pertama. Pada sistem ini, di setiap di setiap sub-area tidak hanya aktivitas pengumpulan sampah, tetapi juga pengolahannya sampai menjadi produk yang bisa dimanfaatkan lagi.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif.

Teknik pengumpulan data yang digunakan observasi, wawancara mendalam, dan diskusi.

Untuk menjamin validitas data digunakan teknik triangulasi sumber data. Teknik sampling menggunakan purposive sampling dan snowball dan data dianalisis dengan menggunakan metode interaktif.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bentuk partisipasi masyarakat Sukunan dalam pengelolaan sampah adalah fasilitasi, yaitu suatu bentuk partisipasi masyarakat yang disengaja, yang dirancang dan didorong sebagai proses belajar dan berbuat oleh masyarakat untuk menyelesaikan suatu kegiatan bersama-sama. Dengan fasilitasi, masyarakat diposisikan sebagai dirinya, sehingga dia termotivasi untuk berpartisipasi dan berbuat sebaik-baiknya. Hasil wawancara dan observasi menunjukkan persepsi positif masyarakat Sukunan terhadap kegiatan pengelolaan sampah terlihat dari tumbuhnya kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk mengelola sampah. Motivasi masyarakat untuk ikut berpartisipasi, antara lain : motivasi dari diri sendiri untuk mendapatkan ilmu dan wawasan, alasan ekonomi, faktor kebersihan lingkungan, keterbatasan lahan dan pelestarian lingkungan. Kegiatan partisipasi masyarakat Sukunan dalam pengelolaan sampah yaitu: memilah, mengangkut, mengolah, mengembangkan serta turut berperan dalam pelestarian lingkungan hidup.