" />

March 31, 2015

Kebijakan Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil

Latar Belakang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara telah menetapkan formasi Calon Pegawai Negeri Sipil tahun 2009 untuk Kabupaten Klaten sebanyak 505 orang yang akan ditempatkan di seluruh wilayah Kabupaten Klaten, yang dituangkan dalam Surat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : 102.PM/M.PAN/9/2009 tanggal 7 September 2009 perihal Persetujuan Rincian Formasi Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah Tahun 2009 untuk Pelamar Umum, Tenaga Honorer dan Sekretaris Desa. Formasi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan PNS dan diutamakan untuk bidang pelayanan seperti pendidikan, kesehatan dan teknis strategis lainnya. Untuk tahun 2009 Kabupaten Klaten mendapat alokasi CPNS sebesar 505 orang yang terdiri dari 70 untuk tenaga honorer, 418 dari pelamar umum dan 17 sekretaris desa.

Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2007 sebagai produk kebijakan publik diharapkan dapat mengakomodir tuntutan semua tenaga honorer untuk dapat diproses menjadi calon pegawai negeri sipil. Akan tetapi fakta di Kabupaten Klaten menunjukkan bahwa implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2007 tersebut justru menimbulkan berbagi permasalahan dan ketidakpuasan dari para tenaga honorer yang belum bisa diproses menjadi calon pegawai negeri sipil.

Perumusan Masalah

  1. Apakah pengangkatan tenaga honorer menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Kabupaten Klaten berdasar PP Nomor 43 Tahun 2007 sudah efektif?
  2. Faktor-faktor penghambat apakah yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Klaten dalam penerapan/implementasi PP Nomor 43 Tahun 2007 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil?

Landasan Teori

  1. Kajian Tentang Kebijakan Publik (Public Policy)
  2. Definisi kebijakan publik
  3. Teori pengambilan kebijakan
  4. Proses Pembuatan kebijakan
  5. Analisis kebijakan
  6. Implementasi Kebijakan (Policy Implementation)
  7. Efektifitas Bekerjanya Hukum
  8. Tinjauan Tentang Pegawai Negeri Sipil
  9. Tinjauan Tentang Tenaga Honorer

Berdasarkan kerangka teori yang telah dipaparkan, dapatlah kemudian dibuat kerangka dasar pemikiran penelitian Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Pengangkatan Tenaga Honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Klaten,  dengan menggunakan teori dari Soerjono Soekanto mengenai lima faktor yang mempengaruhi penegakan hukum, yaitu : faktor hukumnya sendiri, faktor penegak hukum, faktor sarana atau fasilitas, faktor masyarakat, dan faktor kebudayaan.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian hukum sosiologis, karena bertitik tolak dari data primer, yakni diperoleh langsung dari masyarakat sebagai sumber pertama dengan melalui penelitian lapangan, yang dilakukan baik melalui pengamatan (observasi) dan wawancara.

Penelitian hukum sebagai penelitian sosilogis (empiris) dapat direalisasikan terhadap efektifitas hukum yang sedang berlaku ataupun penelitian terhadap identifikasi hukum. Penelitian ini mengambil lokasi di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Klaten untuk lebih memudahkan akses mendapatkan sumber atau informasi mengenai data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dan mendasarkan tempat tinggal peneliti yang berada di wilayah lokasi penelitian sehingga tingkat pengamatan, pengkajian dan analisa terhadap objek penelitian diharapkan lebih cermat.

Kesimpulan

  1. Bahwa pelaksanaan pengangkatan tenaga honorer menjadi calon pegawai negeri sipil di Kabupaten Klaten berdasar Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2007 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil tidak efektif
  2. Faktor-faktor penghambat yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Klaten dalam penerapan/implementasi PP Nomor 43 Tahun 2007 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil adalah sebagai berikut :
  3. Faktor Hukumnya Sendiri
  4. Faktor Penegak Hukum
  5. Faktor Sarana atau Fasilitas
  6. Faktor Masyarakat
  7. Faktor Kebudayaan

Hubungan Kadar Laktat Darah Dan Skor Pelod (Pediatric Logistic Organ Dysfunction)

Latar Belakang Masalah Penyakit Pada Pasien

Hanya satu skor yang dapat mendeskripsikan beratnya sindrom disfungsi multi organ pada anak yaitu skor PELOD. Skor PELOD dibuat berdasarkan pengalaman klinis intensivist anak, penelusuran kepustakaan medis dan skor lain yang digunakan di PICU melalui penelitian konsekutif prospektif di beberapa PICU. Seluruh variabel klinis dan biologis yang digunakan berdasarkan kriteria disfungsi organ pada anak dan dewasa, seluruh variabel skor prediktif (PRISM, PIM dll) (Lacroix dan Cotting,2005). Penelitian kohort multisenter dilakukan di 7 PICU (2 di Perancis, 3 di Kanada dan 2 di Swiss) dengan sampel 1806 pasien telah membuktikan bahwa skor PELOD mempunyai validitas yang baik untuk mengukur beratnya sindrom disfungsi multi organ di PICU (Leteurtre dkk,2003).

Tingginya kadar laktat darah pada awal pemeriksaan dan kadar yang tetap tinggi, berhubungan dengan outcome yang buruk. Duke dkk melakukan penelitian secara prospektif pada 31 anak sepsis berat di PICU, ia menemukan bahwa laktat darah adalah prediktor mortalitas paling awal yang diketahui saat pengukuran sedini dininya 12 jam setelah masuk perawatan intensif. Kadar laktat darah > 3 mmol/L pada 12 jam setelah masuk PICU mempunyai nilai duga positif untuk kematian sebesar 56% (Agraval,2004). Belum pernah dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan kadar laktat darah yang menilai beratnya keadaan awal pasien saat masuk perawatan intensif dengan skor PELOD yang menilai disfungsi organ secara keseluruhan terhadap mortalitas pasien di PICU.

Rumusan masalah

  1. Apakah ada hubungan kadar laktat darah dengan skor PELOD?
  2. Adakah hubungan kadar laktat darah dan skor PELOD dengan mortalitas pasien di PICU RSDM?

Tinjauan Pustaka

  1. Pengertian Hiperlaktatmia

Hiperlaktatemia merupakan peningkatan kadar laktat darah diatas nilai normal, biasanya ada pada kondisi perfusi jaringan yang terpelihara dan sistem bufer yang cukup, yang mengkompensasi turunnya pH.

  1. Skor PELOD (Pediatric Logistic Organ Dysfunction)

Saat ini telah dilakukan peninjauan tentang kriteria disfungsi organ pada anak dan sistem skor untuk mengukur disfungsi organ pada anak. Tujuan primer yaitu untuk mengetahui penilaian disfungsi organ yang dapat diulang kembali (reproducible) sesuai perubahan fungsi organ.

Metodologi Penelitian

Penelitian kohort di PICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada bulan April-Juni 2009 dan Oktober-Desember 2009 dengan 90 sampel.

Pada 6 jam pertama pasien menjalani pemeriksaan kadar laktat darah dan 10 macam pemeriksaan yang tercakup dalam skor PELOD.

Pasien mendapat perawatan sesuai standar pelayanan di PICU, kemudian dicatat keadaan saat keluar (hidup atau meninggal).

Hubungan antara kadar laktat darah, skor PELOD dan mortalitas dianalisis dengan regresi logistik berganda.

Kesimpulan

Dari penelitian ini terdapat 90 subyek penelitian dengan 42 pasien dengan kadar laktat darah > 3,2 mmol/L, diantaranya 28 pasien meninggal dunia dan 14 pasien hidup. Kadar laktat darah > 3,2 memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan mortalitas (X2=21,24; p < 0,001). Dari 90 pasien yang masuk dalam penelitian, 37 pasien memiliki skor PELOD > 0, diantaranya 33 pasien meninggal dan hanya 4 pasien yang hidup. Skor PELOD > 0 memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan mortalitas (X2=59,98; p < 0,001).

Analisis regresi linier kadar laktat darah dan skor PELOD menghasilkan garis yang mendekati nilai nol, R2 = 0,32, sehingga secara statitik didapatkan hubungan yang lemah.

Analisis regresi logistik berganda antara kadar laktat darah, skor PELOD dan mortalitas didapatkan hasil kadar laktat darah > 3,2 mmol/L memiliki risiko terjadinya mortalitas 1,62 kali dibandingkan kadar laktat darah ≤ 3,2 mmol/L secara statistik tidak signifikan (p = 0,433). Skor PELOD > 0 memiliki risiko terjadinya mortalitas sebesar 19,34 kali dibandingkan skor PELOD ≤ 0 secara statistik signifikan (p < 0,001).

Keefektifan Kompres Tepid Sponge dalam Menurunkan Demam Pada Anak

Latar Belakang Masalah Kecerdasan Ibu Dalam Penyembuhan Penyakit Pada Anak

Dalam keperawatan komunitas, penanganan demam secara mandiri oleh orang tua khususnya ibu penting untuk dilakukan. Karena prognosis anak dengan demam dapat menjadi kejang demam yang merupakan salah satu gawat darurat anak apabila tidak segera ditangani. Teknik kompres Tepid Sponge merupakan teknik kompres yang mudah yang dapat dilakukan dengan mudah oleh tenaga kesehatan bahkan oleh orang tua khususnya ibu apabila telah mendapatkan pendidikan kesehatan. Data dari Puskesmas mumbulsari menyebutkan peningkatan pasien anak dengan demam pada bulan Nopember–Desember 2010 masing-masing 15, 17, dan 20 anak pada bulan Desember 2010 dimana 80% dari pasien adalah pasien Askeskin (PKM Mumbulsari, 2010).

Berdasarkan permasalahan diatas, penulis bermaksud melakukan penelitian yang akan menganalisis keefektifan teknik kompres Tepid Sponge yang dilakukan Ibu dalam menurunkan demam pada anak di Puskesmas Mumbulsari.

Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah yang telah dikemukakan tersebut di atas, maka masalah yang dikaji dalam penelitian ini dapat dirumuskan: Apakah teknik kompres Tepid Sponge yang dilakukan ibu efektif dalam menurunkan demam pada anak?

Tinjauan Pustaka

  1. Konsep Pendidikan Kesehatan

Semua petugas kesehatan telah mengakui bahwa pendidikan kesehatan penting untuk menunjang program-program kesehatan yang lain. Akan tetapi pada kenyataannya pengakuan ini tidak didukung oleh kenyataan.

  1. Konsep Anak

Memahami anak-anak dan pertumbuhan serta perkembangan mereka merupakan hal yang esensial untuk meningkatkan kesehatan dan menetapkan pola yang sehat.  Perawtan harus memiliki pemahaman yang jelas tentang pertumbuhan yang normal serta tahap perkembangan untuk membimbing dan meningkatkan kondisi normal dan untuk mendeteksi dan mencegah kondisi abnormal.

Masa prasekolah berkorelasi dengan tingkat prelogikal yang ditandai dengan pemikiran mistik, egosentris, dan pemikiran yang didominasi dengan persepsi bukan abstraksi. Pemikiran mistik meliputi animisme, dan kepercayaan yang tidak realistik tentang kekuatan dan harapan. Anak mungkin percaya bahwa hujan turun karena ada orang yang sedang membawa payung, matahari terbenam karena lelah, dan perasaan kecewa pada sibling yang membuat dia sakit (Kliegman et all., 2007).

Metode Penelitian

Analisis yang digunakan adalah t – test dengan P value perbedaan rerata penurunan suhu masing-masing kelompok pada menit ke-5=0,079, menit ke- 15=0,956, menit ke-30=0,030, menit ke-60=0,000, menit ke-90=0,032 dan menit ke-120=0,010.

Kesimpulan

  1. Penurunan suhu tubuh pada anak dengan perlakukan kompres konvensional maupun kompres hangat tepid sponge terjadi pada pengukuran suhu tubuh menit ke-5 sampai menit ke-90. Setelah itu suhu tubuh anak kembali naik.
  2. Perbedaan rerata penurunan suhu tubuh antara anak yang dilakukan kompres konvensional dan anak dengan kompres hangat tepid sponge terjadi pada mulai menit ke-30 sampai dengan menit ke-120. Pada menit ke-5 dan ke-15 tidak terdapat perbedaan penurunan suhu yang signifikan antara kedua kelompok.
  3. Kompres hangat tepid sponge yang dilakukan Ibu efektif dalam menurunkan suhu tubuh pada anak dengan demam.

Konseling Eklektik Untuk Meningkatkan Fungsi Sosial Dan Kualitas Hidup

Latar Belakang Masalah Kualitas Hidup

Konseling eklektik sebagai salah satu bentuk terapi psikososial yang tidak berorientasi pada satu teori secara eksklusif, tetapi justru mempelajari berbagai teori dan menerapkannya sesuai dengan keadaan dan perkembangan masalah pasien, merupakan pendekatan konseling integratif yang menerapkan strategi penanganan secara cermat dan tepat terhadap permasalahan yang berbeda pada setiap pasien dalam mencapai dan memelihara kemungkinan tertinggi dari level integrasinya yang ditandai oleh adanya aktualisasi diri dan integritas yang memuaskan. Untuk mencapai tujuan yang ideal itu maka pasien perlu dibantu untuk menyadari sepenuhnya situasi masalahnya, mengajari pasien secara sadar dan intensif memiliki latihan pengendalian di atas masalah tingkah laku (Latipun, 2008; Mappiare, 2010; Hayat, 2010).

Dengan konsep pendekatan konseling eklektik tersebut diharapkan dapat membantu pasien skizofrenia dalam memecahkan permasalahannya, memperbaiki perilakunya serta membantu memulihkan kembali kemampuan adaptasi sehingga dapat meningkatkan kapasitas fungsi sosial dan kualitas hidup pasien skizofrenia. Selain itu menurut pengetahuan penulis, belum ada publikasi di Indonesia tentang penelitian konseling eklektik untuk meningkatkan kapasitas fungsi sosial dan kualitas hidup pasien skizofrenia.

Perumusan Masalah

  1. Apakah The Social and Occupational Functioning Assessment Scale (SOFAS) versi Indonesia valid dan reliabel digunakan untuk menilai kapasitas fungsi sosial pasien skizofrenia di Indonesia?
  2. Apakah konseling eklektik efektif meningkatkan kapasitas fungsi sosial pasien skizofrenia?
  3. Apakah konseling eklektik efektif meningkatkan kualitas hidup pasien skizofrenia?

Landasan Teori

  1. Skizofrenia

Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, schizein yang berarti terpisah atau pecah dan phren yang artinya jiwa. Menurut Eugen Bleuler, skizofrenia adalah suatu gambaran jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau ketidak harmonisan antara proses berpikir, perasaan dan perbuatan (Maramis, 2009).

  1. Kapasitas Fungsi sosial

Kapasitas fungsi sosial yaitu kemampuan menjalankan peran sosial seperti mempertahankan pekerjaan, perkawinan, mengurus anak serta adaptif menghadapi masalah dan tidak terisolasi dari lingkungan sosialnya (Surilena, 2005).

  1. Kualitas Hidup

Menurut WHO ( 1991) definisi kualitas hidup adalah persepsi individu terhadap posisinya dalam kehidupan sesuai dengan sistem budaya dan nilai-nilai tempat mereka hidup dalam kaitannya dalam kepentingannya, tujuan hidupnya, harapannya dan standar yang ingin dicapainya. Pada hakekatnya setiap orang memiliki kemampuan namun seringkali kemampuan tersebut kurang berfungsi dengan baik. Tujuan konseling adalah untuk mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki seseorang dengan membantu mengembangkan penguasaannya terhadap lingkungan dan respon-respon di dalam dirinya.

Metode Penelitian

Penelitian Keefektifan Konseling Eklektik untuk Meningkatkan Kapasitas Fungsi Sosial dan Kualitas Hidup Pasien Skizofrenia di rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta adalah penelitian eksperimental dengan rancangan double blind randomized controlled trial yang mengambil lokasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta.

Sampel pada penelitian ini adalah pasien skizofrenia di poliklinik rawat jalan Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta, pengambilan sampel secara purposive sampling, analisis datanya menggunakan uji t tidak berpasangan.

Sedangkan uji validitas The Social and Occupational Functioning Assessment Scale (SOFAS) menggunakan rancangan cross sectional dan pengambilan sampelnya secara quota sampling, analisis datanya menggunakan uji korelasi Pearson product moment.

Kesimpulan

  1. The Social and Occupational Functioning Assessment Scale (SOFAS) valid dan reliabel untuk mengukur kapasitas fungsi sosial pasien skizofrenia.
  2. Konseling eklektik efektif meningkatkan kapasitas fungsi sosial pasien skizofrenia.
  3. Konseling eklektik efektif meningkatkan kualitas hidup pasien skizofrenia. Dengan demikian hipotesis satu diterima.

Hubungan Fungsi Keluarga Dengan Kualitas Hidup Lansia

Latar Belakang Masalah Peran Keluarga Untuk Lansia

Segala potensi yang dimiliki oleh lansia bisa dijaga, dipelihara, dirawat dan dipertahankan bahkan diaktualisasikan untuk mencapai kualitas hidup lansia yang optimal (Optimum Aging). Kualitas hidup lansia yang optimal bisa diartikan sebagai kondisi fungsional lansia berada pada kondisi maksimum atau optimal, sehingga memungkinkan mereka bisa menikmati masa tuanya dengan penuh makna, membahagiakan, berguna dan berkualitas. (Depsos, 2007).

Bila fungsi keluarga menurun dapat menyebabkan kualitas hidup lansia menurun pula dan akhirnya akan mengakibatkan angka kesakitan pada lansia meningkat dan angka kematiannya meningkat juga.  Sehubungan dengan hal tersebut maka kami ingin meneliti lebih jauh tentang hubungan antara fungsi keluarga dengan kualitas hidup lansia yang diharapkan bisa sebagai satu landasan atau dasar untuk sasaran program promosi kesehatan tentang kualitas hidup lansia

Rumusan Masalah

Apakah ada hubungan antara fungsi keluarga dengan kualitas hidup lansia?

Tinjauan Pustaka

  1. Pengertian Keluarga

Menurut UU no. 10 tahun 1992 yang disebut dengan keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dengan anaknya, atau ibu dengan anaknya.

  1. Pengertian Lansia

Lansia adalah kelompok orang yang sedang mengalami suatu proses perubahan yang bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade. Menurut WHO (1989), dikatakan usia lanjut tergantung dari konteks kebutuhan yang tidak dipisah-pisahkan.

Peranan keluarga dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan setiap anggota keluarga serta dalam menjamin keberhasilan pelayanan keluarga amat penting sekali, karena keluarga memang punya arti dan kedudukan tersendiri dalam masalah kesehatan. (Azwar, 2007)

Metodologi Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik-observasional dengan pendekatan cross sectional.

Sampel sebanyak 41 lansia berusia 60 tahun ke atas dipilih dari Kelompok Jantung Sehat Surya Group Kediri.

Variabel dependen yang diteliti kualitas hidup lansia. Variabel independen yang diteliti fungsi keluarga.

Faktor perancu yang dikontrol meliputi umur, jenis kelamin, bentuk keluarga dan status pekerjaan.Variabel diukur dengan kuesioner yang telah dilakukan tes validitas dan reliabilitas.

Data dianalisis dengan uji chi kuadrat dan model regresi logistik ganda, dengan menggunakan SPSS 17.0.

Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada 41 orang lansia yang menjadi anggota Kelompok Jantung sehat Surya Group Kediri dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara fungsi keluarga dengan kualitas hidup lansia, dan lansia yang berasal dari keluarga dengan fungsi keluarga sehat memiliki kemungkinan untuk berkualitas hidup baik 25 kali lebih besar daripada lansia dengan fungsi keluarga tidak sehat.

Efektivitas Hipnoterapi dan Kecemasan serta Gatal Pasien Liken Simpleks

Latar Belakang Masalah Efektivitas Hipnoterapi Pada Penyakit

Intervensi psikiatri telah banyak dilakukan terutama masalah hipnoterapi dengan dermatologi, hal ini telah banyak dilakukan uji klinis baik di Indonesia maupun di Negara Barat (Wyler-Herperet al.,1994; Kaplan&Sadock, 2004). Hipnoterapi merupakan suatu pengobatan komplementer yang dapat memperbaiki atau menyembuhkan suatu gangguan pada kulit (Shenefelt, 2000).

Efektivitas Hipnoterapi

Efektivitas Hipnoterapi

Beberapa kasus Liken Simpleks Kronik dengan Hipnoterapi sebagai suatu terapi alternatif dengan lamanya follow up sampai empat tahun. Hipnosis bisa bermanfaat sebagai suatu ilmu pengobatan komplementer atau bahkan alternatif untuk Liken Simpleks Kronik(Peterfy, 1973;Lehman, 1978; Wyler-Herperet al., 1994).

Rumusan Masalah

Apakah hipnoterapi efektif untuk penurunan derajat kecemasan dan gatal pasien Liken Simpleks Kronik di Poliklinik Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RSDM Surakarta?

Tinjauan Pustaka

  1. Liken Simpleks Kronik

Liken Simpleks Kronik (Dermatitis Garukan Terlokalisir, Neurodermatitis) adalah suatu peradangan menahun pada lapisan kulit paling atas yang menimbulkan rasa gatal. Penyakit ini menyebabkan bercak-bercak penebalan kulit yang kering, bersisik dan berwarna lebih gelap, dengan bentuk lonjong atau tidak beraturan. Biasanya terdapat pada orang dewasa, dan biasa mengakibatkan satu atau berbagai macam lesi kulit.

  1. Gatal Dan Skor Gatal
  2. Klasifikasi Klinis Gatal

Berdasarkan pengertian sumber gatal perifer dan sentral, Twycross dkk mengajukan klasifikasi klinis terdiri dari empat kategori gatal (Yospipovitch et al., 2003).

  • Gatal pruritoseptif
  • Gatal neuropati
  • Gatal neurogenik
  • Gatal psikogenik
  1. Kecemasan

Kecemasan (ansietas/anxiety)adalah gangguan alam perasaan (affective) yang ditandai dengan perasaan takut atau khawatir yang mendalam dan berkelanjutan, tetapi kemampuan dalam menilai realitas (Reality Testing Ability / RTA) tidak terganggu, begitupun kepribadiannya juga masih utuh (tidak mengalami keretakan kepribadian/ splitting of personality), sedangkan perilaku dapat terganggu walaupun masih dalam batas- batas normal (Hawari, 2001).

Hipnoterapi akan diterima oleh Thalamus yang kemudian akan meneruskan sinyal ke Spinal cord, sehingga pelepasan Substansi P dari spinal cord tidak berlebihan(sedikit). Selanjutnya aktifitas sel mast dalam menghasilkan histamin dan sitokin proinflamasi menjadi berkurang yang akan menurunkan atau mengurangi gatal dan kecemasan.

 

Metode Penelitian

Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimental randomized pretestpost-test control group design.

Subjek penelitian adalah pasien liken simpleks kronik yang menjalani pengobatan di poliklinik kulit dan kelamin RS Dr Moewardi, dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian.

Pengambilan sampel dengan tehnik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Lie-Minnesota Multiphasic Personality Inventory (L-MMPI), The Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) dan Skor gatal. Analisis statistik menggunakan program SPSS versi 17.0.

Analisis statistik yang digunakan adalah uji t, chi kuadrat dan korelasi pearson dengan batas kemaknaan 5%.

Simpulan

  1. Hipnoterapi efektif menurunkan derajat kecemasan pada pasien dengan Liken Simpleks Kronik
  2. Hipnoterapi efektif menurunkan derajat gatal pada pasien dengan Liken Simpleks Kronik

Logoterapi Untuk Menurunkan Depresi dan Meningkatkan kualitas Hidup

Latar Belakang Masalah Penurunan Depresi

Kualitas hidup pasien seharusnya menjadi perhatian penting bagi para profesional kesehatan karena dapat menjadi acuan keberhasilan dari suatu tindakan/intervensi atau terapi. Di samping itu, data tentang kualitas hidup juga dapat merupakan data awal untuk pertimbangan merumuskan tindakan/intervensi yang tepat bagi pasien. Kualitas hidup pada dasarnya bersifat istimewa pada masing-masing individu. Kualitas hidup ini dapat mencerminkan perspektif biopsikososial pasien terhadap penyakit mereka dan juga berhubungan secara paralel terhadap intervensi multidisiplin yang dilakukan dalam sebuah pengobatan (Burckhardt dan Anderson, 2003; Gee et al., 2003).

Logoterapi dan Meningkatkan kualitas Hidup

Logoterapi dan Meningkatkan kualitas Hidup

Penerapan metode logoterapi pada pasien lanjut usia, terutama ditujukan untuk membantu para lanjut usia yang mengalami kehilangan makna hidup dan menurunnya kualitas hidup. Psikoterpi logoterapi adalah salah satu bentuk terapi non farmakologik yang diperkenalkan oleh Victor Frankl. Prinsip utama yang terdapat dalam logoterapi mengenai makna hidup manusia dan pengembangan spiritual pada individu ini sesuai untuk diterapkan pada pasien-pasien lanjut usia yang mengalami gangguan somatik maupun psikis, misalnya depresi pasca amputasi (Boschemeyer, 1982; Guttmann, 1996; Bastaman, 2007).

Permasalahan

Apakah logoterapi efektif untuk menurunkan derajat depresi dan meningkatkan kualitas hidup pasien geriatri?

Landasan Teori

Di Indonesia batasan lanjut usia yang tercantum dalam Undang-undang No.13/1998 tentang Kesejahteraan adalah sebagai berikut : Lanjut usia adalah seorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas (Lembaran Negara Republik Indonesia, 1998).

  1. Siklus kehidupan lanjut usia

Masa dewasa akhir dapat merupakan suatu periode kesenangan–suatu waktu untuk bersenang-senang dengan cucu-cucu, untuk mengingat usaha besar seseorang dan kemungkinan untuk melihat buah yang dihasilkan seseorang digunakan secara baik oleh generasi yang lebih muda.

  • Populasi lanjut usia
  • Geriatri dan Psikososial Penuaan
  • Depresi

Gangguan ini sangat dikenal di masyarakat umum dan merupakan salah satu penyebab penyakit global. Word Health Organisation (WHO) memperkirakan bahwa pada tahun 2020 depresi akan naik dari urutan keempat menjadi urutan kedua di bawah penyakit jantung iskemik sebagai penyebab disabilitas.

Wanita memiliki risiko menjadi depresi lebih tinggi dari pada pria. Angka depresi per tahun paling rendah pada mereka yang telah menikah yaitu sebesar 1,5%. Sedangkan mereka yang tidak pernah menikah memiliki angka depresi sebesar 2,4%.

Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental dengan rancangan randomized control trial double blind. Tiga puluh empat pasien geriatri diambil secara acak dibagi dalam kelompok perlakuan dan kontrol secara merata (n =17) dengan diberi psikoterapi Logoterapi pada kelompok perlakuan sebanyak enam sesi. Penilaian derajat depresi dengan instrumen GDS dan tingkat kualitas hidup dinilai dengan instrumen WHOQOLBREF.

Analisis statistik yang digunakan untuk mengukur keefektifan logoterapi untuk menurunkan derajat depresi dan meningkatkan kualitas hidup pasien geriatri adalah Uji t dan Uji Korelasi Pearson.

Simpulan

  1. Dari hasil penelitian ini didapatkan penurunan derajat depresi yang signifikan pada kelompok perlakuan dengan Logoterapi dibandingkan kelompok kontrol.
  2. Ditemukan perbedaan yang bermakna dalam hal perbaikan kualitas hidup secara umum antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.
  3. Ditemukan perbedaan yang bermakna pada perbaikan kualitas hidup pada domain 1 (fisik), domain 2 (psikologis) dan domain 3 (relasi sosial) pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol.
  4. Penurunan derajat depresi berkorelasi langsung dengan peningkatan kualitas hidup pasien lanjut usia.

Dengan hasil tersebut maka hipotesis di atas diterima, yaitu; Logoterapi efektif menurunkan derajat depresi dan meningkatkan kualitas hidup pasien geriatri.

Incoming search terms:

Intensitas dan Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Mahasiswa

Latar Belakang Masalah Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar

Mengingat pentingnya motivasi diharapkan dosen dapat memotivasi belajar mahasiswa dengan cara meningkatkan intensitas belajar mahasiswa dimana mahasiswa tidak hanya belajar dikelas. Melainkan ditambah belajar dilaboratorium yaitu melalui pembimbingan. Sehingga meningkatnya intensitas dan motivasi belajar terhadap mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar.

Peta Sukses Belajar

Peta Sukses Belajar

Terdorong oleh kerangka pemikiran di atas, muncul ketertarikan untuk mengetahui pengaruh intensitas belajar dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa SI Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan. Penelitian yang relevan perlu dilakukan untuk menjawab ketertarikan tersebut. Dengan demikian, proses peningkatan prestasi belajar mahasiswa dapat dilakukan dalam koridor yang tepat

Rumusan Masalah

Masalah yang diharapkan dapat diselesaikan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Adakah hubungan intensitas belajar dengan prestasi belajar mahasiswa SI Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan?
  2. Adakah hubungan motivasi belajar dengan prestasi belajar mahasiswa SI Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan?
  3. Adakah hubungan antara intensitas belajar dan motivasi belajar dengan prestasi belajar mahasiswa SI Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan?

Landasan Teori Intensitas dan Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Mahasiswa

  • Pengertian Intensitas Belajar

Intensitas adalah frekuensi belajar yang dilakukan mahasiswa selama kurun waktu tertentu untuk memperoleh pengalaman/ pengertian secara maksimal. Secara harfiah, arti intensitas belajar adalah kuat lemahnya belajar. Intensitas belajar juga mengacu pada banyaknya kegiatan yang dilakukan mahasiswa, cara belajar secara intensif (Hudoyo. H, 1998:73)

  • Mengikuti Pelajaran

Hadir secara tertib, memperhatikan penjelasan guru dengan seksama, dan membuat catatan pelajaran dengan sebaik-baiknya merupakan cara-cara yang dikemukakan The Liang Gie (198573.

Metode Penelitian

Desain Penelitian ini yang digunakan adalah penelitian korelasional.

Penelitian ini dilakukan di STIKES Muhammadiyah Lamonganpada bulan Januari 2010, populasi seluruh mahasiswa s1 keperawatan angkatan II, populasi seluruhnya adalah 150 mahasiswa, jumlah sampel pada penelitian adalah 105 mahasiswa.

Teknik sampling menggunakan teknik simpel randoom sampling. Uji validitas menggunakan teknik korelasi product moment dengan taraf signifikan α = 0,05 Reliabilitas di hitung dengan menggunakan Alpha Cronbac.

Analisis data yang dilakukan dengan menggunakan program Statistical Program For Social Science (SPSS) for windows.

Kesimpulan Intensitas dan Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Mahasiswa

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Variabel intensitas (X1) memiliki nilai thitung (2,283) > nilai ttabel (1,990), maka keputusannya adalah menerima Ha dan H0 ditolak. Hal ini berarti variabel intensitas berhubungan signifikan terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa S1 Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan
  2. Variabel motivasi (X2) memiliki nilai thitung (4,930) > nilai ttabel (1,990), maka keputusannya adalah menerima Ha dan H0 ditolak. Hal ini berarti variabel motivasi berhubungan signifikan terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa S1 Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan Secara simultan variabel intensitas, dan motivasi berhubungan nyata (significant) terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa S1 Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan. Dikarenakan nilai Fhitung sebesar 23,822. Dengan menggunakan tingkat kepercayaan (confidence interval) 95% atau α = 0,05 maka dari table distribusi F diperoleh nilai 17,411. Dengan membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel, maka Fhitung (17,411) > Ftabel (3,09). Keputusannya adalah H0 ditolak dan Ha diterima artinya

Kadar Vascular Cell Adhesion dan Riwayat Berat Badan Lahir Rendah

Latar Belakang Masalah Riwayat Lahir Pada Anak

Penelitian otopsi dengan 565 subyek yang meninggal saat usia lahir sampai usia 29 tahun, didapatkan sebesar 10 % plak ateroma pada arteri koronaria individu usia 15–17 tahun dan kejadian ateroma sebesar 34 % pada arteri koronaria subyek usia 27 – 29 tahun (Myung, 2008).

Berat Badan Lahir Rendah

Berat Badan Lahir Rendah

 

Berat lahir dipengaruhi oleh lingkungan intrauterin sekitar 62 %, gen yang di turunkan oleh orang tua sekitar 20 %, dan sekitar 18 % ditentukan oleh gen dari fetus sendiri. Aterosklerosis adalah proses dengan risiko multifaktor, salah satunya adalah riwayat berat lahir rendah, dimana proses terjadinya aterosklerosis sudah dimulai sejak di dalam kandungan. Telah banyak penelitian yang berusaha menjelaskan patogenesis aterosklerosis yang berhubungan dengan faktor risiko riwayat berat lahir rendah (Szitanyi, 2003; Banci, 2009). Sehingga peneliti ingin mencari hubungan antara kadar VCAM-1 dengan riwayat berat lahir rendah.

Rumusan Masalah

Apakah terdapat hubungan antara kadar VCAM-1 dengan riwayat berat lahir rendah pada anak usia 15-18 tahun ?

Tinjauan Pustaka

  1. Definisi

VCAM-1 adalah kelompok imunoglobulin molekul adhesi yang merupakan reseptor protein, molekul adhesi vaskuler pada manusia mempunyai berat 100-110 kDa, terdiri dari 715 asam amino (aa) tipe 1 transmembran glikoprotein dengan karakteristik adanya tujuh tipe immunoglobulin C2. VCAM-1 dapat teridentifikasi lewat pemeriksaan darah , cairan sendi atau pun pemeriksaan cairan serebrospinal (lixin, 2003).

  1. Peranan VCAM-1 (Molekul Adhesi)

Dalam Aterogenesis Peranan molekul adhesi pada aterogenesis adalah pada saat terjadi migrasi monosit dari plasma ke dalam dinding pembuluh darah. Hal yang paling utama adalah saat terjadinya perlekatan monosit yang bersirkulasi ke endotel vaskular, kemudian terjadi migrasi transendotelial.

  1. VCAM-1 Sebagai Petanda Awal Aterosklerosis

Kunci awal perkembangan aterosklerosis adalah saat adhesi monosit pada sel-sel endotel, yang kemudian dapat masuk ke dalam lapisan intima vaskuler. Proses ini dipengaruhi oleh molekul adhesi selular seperti VCAM-1, ICAM-1, selektin dan integrin sebagai mediator.

Metodologi Penelitian

Penelitian Historical kohort, di SMUN 1 Surakarta, yang dipilih melalui pencuplikan secara kluster, pada anak-anak usia 15-18 tahun pada bulan Juli 2010. Subyek dipilih secara fixed exposure sampling.

Data di analisis dengan SPSS 17,0. Mann-Whitney dan analisis regresi linier berganda.

Kesimpulan

Anak usia 15-18 tahun dengan riwayat berat badan lahir rendah mempunyai mean kadar VCAM-1 224.6 ng/ml lebih tinggi daripada anak dengan riwayat berat badan lahir normal (b= 224.6; p < 0.001). Kesimpulan ini dibuat setelah memperhitungkan pengaruh obesitas.

Peran Kader Posyandu Dengan Pemantauan Tumbuh Kembang Balita

Latar Belakang Masalah Pelayanan Posyandu 

Dampak kurang dilaksankan peran kader posyandu akan memberikan akibat baik secara langsung maupun tidak langsung. Dampak secara langsung bagi anak, pemantauan tumbuh kembang yang kurang baik menyebabkan tidak termonitornya kesehatan anak.

Tumbuh Kembang Balita

Tumbuh Kembang Balita

 

Dampak tidak langsung:

  1. bagi kader Posyandu, bila informasi pengisian KMS (Kartu Menuju Sehat) kurang jelas, maka penerapan di Posyandu juga kurang tepat. Hasil penelitian yang dilakukan di Posyandu Sraturejo, Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro diperoleh informasi yaitu dari 10 0rang tua balita, 8 orang (80%) di antaranya pengisian KMS kurang lengkap, dan
  2. bagi keluarga, bila informasi yang diterima kurang jelas, maka tindak lanjut kurang sesuai.( Fitri W,2005:20)

Karena peranan kader posyandu sangat pokok maka ada hal-hal yang mempengaruhi praktek kader dalam pelayanannya. Karakteristik sangatberpengaruh pada perilakunya yaitu predisposing factor meliputi umur, pendidikan, pekerjaan dan lama menjadi kader. Enabling factor yaitu pendapatan dan reinforcing factor adalah frekuensi pelatihan yang didapat. Perhatian dokter keluarga terhadap kader kesehatan dalam bentuk penyuluhan dan pelatihan perlu ditingkatkan.

Rumusan Masalah

“Apakah karakteristik dan peran kader posyandu berhubungan dengan pemantauan tumbuh kembang balita di wilayah kerja Puskesmas Kalitidu kabupaten Bojonegoro?”

Tinjauan Pustaka

  1. Pengertian : Posyandu (pos pelayanan terpadu) merupakan bentuk peran serta masyarakat, yang dikelola oleh kader kesehatan, sasarannya adalah seluruh masyarakat.
  2. Definisi Kader posyandu: Kader posyandu adalah pelaksana kegiatan Posyandu dari anggota masyarakat yang telah dilatih dibawah bimbingan Puskesmas.(Budi Rahayu.dkk, 2005:13)

Beberapa teori yang telah dicoba untuk mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, salah satunya adalah teori Lawrance Green,1980. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yakni faktor perilaku dan faktor diluar perilaku. Selanjutnya faktor perilaku ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor:

  1. faktor predisposisi (predisposising factors),
  2. faktor-faktor pendukung (enabling factors) dan
  3. faktor pendorong (reinforcing factors).

Metodologi Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan karakteristik dan peran kader posyandu dengan pemantauan tumbuh kembang balita di Puskesmas Kecamatan Kalitidu. Desain penelitian menggunakan cross sectional Populasi penelitian ini kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Kalitidu berdasarkan hitungan besar sample didapatkan 142 sampel menggunakan tehnik random sampling. Pengolahan data dengan menggunakan analisis uji chi square sedang untuk mencari faktor resiko dengan Odds Ratio.

Kesimpulan

Karakteristik Responden

Umur responden lebih banyak berumur < 33 tahun (51%) dengan umur termuda 20 tahun dan umur tertua 59 tahun, dengan rata-rata umur 33,57 tahun. Lebih dari sebagian responden bekerja di rumah ≤ 8 jam per hari di rumah (81,8%), dengan pendapatan keluarga sebagian besar kurang dari UMR (66,4%) dan memiliki tingkat pendidikan dasar (69,2%), dengan masa kerja di posyandu tergolong baru (53,1%). Lebih banyak yang kurang mengikuti pelatihan (60,1%), mempunyai tingkat pengetahuan yang baik (67,8%).

Peran kader Posyandu

  • Kader Posyandu berperan baik sebagai pelaksana posyandu (51,7%).
  • Kader posyandu sudah berperan baik sebagai pengelola posyandu (51,0%).
  • Kader posyandu baik dalam memantau tumbuh kembang balita (57,7%).

Ada hubungan yang signifikan antara umur dengan Pemantauan tumbuh kembang balita di Puskesmas Kalitidu ( p= 0,015, OR 2,319, 95%CI Lower 1,171 Upper 4,594).

Ada hubungan yang signifikan antara lama bekerja di rumah dengan Pemantauan tumbuh kembang balita di Puskesmas Kalitidu ( p= 0,01,OR 0,218, 95%CI lower 0,084 upper 0,564).