" />

March 1, 2015

Evaluasi Promosi Kesehatan Pada Komunitas Pekerja Seks Komersial

Latar Belakang Evaluasi Promosi Kesehatan

Norma subyektif ini seringkali bertentangan dengan apa yang dikatakan atau di promosikan oleh pihak klinik IMS. Contohnya, para PSK ditakut-takuti oleh petugas penjangkau bahwa mereka akan ditarik biaya yang sangat besar oleh pihak klinik jika tidak datang bersama petugas penjangkau. Padahal, biaya yang harus dikeluarkan tidak berbeda antara PSK datang dengan kesadaran sendiri maupun dengan petugas penjangkau. Hal ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh motif pribadi para penjangkau yaitu ingin menarik uang dari PSK dengan alasan untuk biaya transportasi ke klinik.

Evaluasi Promosi Kesehatan

Evaluasi Promosi Kesehatan

 

Melihat fenomena tersebut, maka teori perubahan perilaku yang akan menjadi referensi penelitian ini adalah Theory of Reasoned Action dari Icek Ajzen dan Martin Fishbein (Littlejohn dan Foss, 2005). Teori ini berasumsi bahwa manusia merupakan “rationale action” yang berarti individu memroses sebuah informasi dan termotivasi untuk bertindak atas dasar proses keyakinan normative dan sikap terhadap perilaku. Teori ini juga menawarkan suatu kerangka kerja untuk mengupas tindakan individu dengan mengidentifikasi, mengukur, dan menghubungkan keyakinan-keyakinan yang relevan pada individu atau kelompok, mengajak kita untuk mengerti alasan-alasan mereka sendiri yang memotivasi perilaku mereka.

Rumusan Masalah

”Sejauh mana keberhasilan promosi kesehatan klinik IMS Puskesmas Baturaden II Kabupaten Banyumas selama ini?”

Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui bagaimanakah perencanaan, implementasi serta hasil yang telah dicapai oleh Klinik IMS Puskesmas Baturraden II Kabupaten Banyumas selama ini dalam melakukan promosi kesehatan pada para PSK.
  2. Untuk mengetahui hal-hal pendukung/penghambat apa saja yang mempengaruhi keberhasilan promosi kesehatan Klinik IMS Puskesmas Baturraden II Kabupaten Banyumas.

Kesimpulan Evaluasi Promosi Kesehatan

  1. Program penyuluhan yang rutin dilakukan ternyata bukan inisiatif dari Klinik IMS Baturraden akan tetapi merupakan permintaan dari Pagertepi Gang Sadar, LSM LPPSLH dan Polsek Baturraden. Akan tetapi klinik menggunakan kesempatan ini sebagai ajang promosi kesehatan. Program ini dianggap kurang berhasil karena beberapa faktor diantaranya kondisi PSK seringkali mengalami relaps atau kambuhan karena teknik komunikasi petugas sangat monoton. Mereka datang pada kegiatan penyuluhan karena ancaman denda dan bukan karena kesadaran sendiri. Walaupun petugas klinik dinilai cukup kompeten dilihat pendidikan dan masa kerjanya akan tetapi tidak menguasai audiens dan teknik komunikasi yang sesuai tahapan perilaku audiens sehingga tidak timbul suasana yang kondusif ketika penyuluhan berlangsung. Selanjutnya, berdasarkan analisis fasilitas, sarana dan prasarana yang mendukung sebenarnya cukup baik. Ruang aula GS yang digunakan penyuluhan cukup menampung dua ratus peserta, gedungnya terbilang baru dan suasananya sejuk, kemudian jarak antara tempat tinggal PSK dengan aula cukup ditempuh dengan berjalan kaki sehingga tidak ada alasan untuk tidak datang karena jauh.
  2. Strategi yang selanjutnya adalah pemanfaatan media baik cetak maupun elektronik. Promosi dengan menggunakan media ini dianggap kurang berhasil karena media yang dimiliki oleh klinik adalah bantuan dari Dinas Kesehatan Banyumas dan KPA sehingga seringkali kurang mengena pada sisi kognitif dan psikologis PSK. Minimnya anggaran menyebabkan klinik ini tidak dapat berkreasi terhadap pembuatan media komunikasi yang sesuai dengan sasaran PSK di Gang Sadar, faktanya karakteristik audiens di satu tempat dengan tempat lain sangat berbeda.

 

Evaluasi Perbandingan Efek Metoprolol Dan Lidokain Pada Respons Hemodinamik Selama Laringoskopi Dan Intubasi Endotrakeal

Latar Belakang Masalah  Efek Metoprolol Dan Lidokain

Respons stres pada pasien yang mendapatkan anestesi umum secara universal dapat kita lihat sebagai suatu fenomena dimana mungkin berhubungan dengan adanya gangguan pada sistem endokrin atau autonom (Morgan, 2006). Frekwensi terjadinya reaksi respons kardiovaskular paling sering saat laringoskopi dan intubasi endotrakea. Peningkatan respons saat laringoskopi dan intubasi endotrakea seperti takikardia,hipertensi dan kejadian aritmia dapat mengancam jiwa. Peningkatan denyut jantung mungkin berhubungan dengan perubahan segmen ST dimana terindikasi sebagai adanya iskemia miokardial (Mastracci, 2010).

1

Antagonis adrenergik beta selektif meminimalkan terjadinya peningkatan denyut jantung dan kontraksi miokardial (penentu utama dalam meningkatkan konsumsi oksigen jaringan) dengan cara melemahkan efek positif dari kronotropik dan inotropik dari peningkatan aktivitas adrenergik. Hal ini sangat diinginkan pada pasien dengan penyakit jantung iskemia (Zhang, 2006). Perhatian lebih diberikan kepada penggunaan antagonis adrenergik beta selektif untuk mencegah refleks takikardia yang dimediasi oleh simpatoadrenal dan hipertensi yang terjadi selama prosedur laringoskopi dan intubasi endotrakeal, hal ini termasuk penggunaan metoprolol dan lidokain sebagai penumpul aktivitas adrenergik (Zargar ,2002).

Beberapa agen anestesi nonvolatile adalah

Barbiturate (Thiamylal, Secobarbital, Phenobarbital, Thiopental, Methohexital, Pentobarbital), Benzodiazepine (Diazepam, Lorazepam, Flumazenil, Midazolam), Opioid (Morphine, Meperidine, Fentanyl, Sufentanil, Alfentanil, Remifentanil) dapat digunakan sebagai penumpul tindakan intubasi endotrakea.

(Mirekandari et al,2011). Penggunaan opiat sebagai penumpul respons hemodinamik selain mahal juga banyak efek yang kurang disukai seperti efek mual, muntah, adiksi, pruritus, serta alergi terhadap opiat itu sendiri.Penelitian ini dirancang untuk mengevaluasi dan membandingkan efektivitas penggunaan metoprolol dan lidokain untuk menghilangkan gejolak hemodinamik saat dilakukannya laringoskopi dan intubasi endotrakeal.

Perumusan Masalah

Apakah metoprolol lebih efektif daripada lidokain dalam menumpulkan respons hemodinamik pada laringoskopi dan intubasi endotrakeal ?

Tujuan Penelitian

  • Tujuan Umum

Mengevaluasi keefektifan dosis metoprolol dibandingkan dengan lidokain intravena dalam menumpulkan efek hemodinamik saat laringoskopi dan intubasi endotrakeal. Dosis metoprolol yang digunakanadalah injeksi 1 mg intravena pada sesaat sebelum dilakukan intubasi dalam hal menumpulkan gejolak hemodinamik dibandingkan dengan pemberian lidokain intravena 1,5 mg/kg sesaat sebelum intubasi endotrakea.

  • Tujuan Khusus
  1. Mengetahui apakah pemberian intravena metoprolol 1 mg lebihC

efektif dibandingkan lidokain 1,5 mg/kg berat badan dalam menumpulkan respons hemodinamik pada tindakan laringoskopi intubasi.

  1. Deteksi dini iskemia miokardial sehingga dapat mengurangi keterlambatan untuk melakukan intervensi dan meningkatkan kemungkinan mempertahankan jaringan miokardial yang masih baik.

Kesimpulan Efek Metoprolol Dan Lidokain

  1. Respons hemodinamik yang terlihat pada hasil penelitian ini yang memiliki nilai signifikansi adalah nilai sistolik menit pertama dan ketiga serta nilai RPP (rate pressure product), dimana nilai p < 0,05. Sehingga secara statistik dapat dikatakan bahwa metoprolol 1 mg injeksi lebih efektif dibandingkan dengan lidokain 1,5 mg/kg berat badan dalam menumpulkan respons hemodinamik saat laringoskopi dan intubasi endotrakeal.
  2. Analisa secara klinis pasien selama perjalanan operasi terlihat bahwa pasien-pasien dengan gangguan hemodinamik seperti tekanan darah tinggi serta denyut nadi yang cepat dapat di turunkan dengan metoprolol injeksi 1 mg serta memberikan kestabilan hemodinamik selama perjalanan operasi yang dapat dibuktikan dengan catatan medis perjalanan anestesi.

Evaluasi Pemeliharaan Jaringan Irigasi Sungkur Kabupaten Ponorogo Propinsi Jawa Timur

Latar Belakang Pemeliharaan Jaringan Irigasi

Pembangunan infrastruktur bidang irigasi yang telah dilaksanakan tidak bertahan lama tanpa didukung oleh kegiatan pemeliharan yang berkesinambungan dengan alokasi anggaran yang memadai. Kondisi dan fungsi sarana/prasarana pendukung pertanian dari tahun-ketahun semakin menurun. Banyaknya kerusakan pada bangunan dan jaringan irigasi yang tidak tertangani maka kebutuhan air per ha tidak akan terpenuhi.

Pemeliharaan Jaringan Irigasi

Pemeliharaan Jaringan Irigasi

 

Kerusakan bangunan yang terjadi pada jaringan irigasi Sungkur perlu mendapat perhatian yang lebih agar tidak semakin parah. Kerusakan komponen jaringan irigasi yang terjadi dapat menghambat kelancaran aliran air irigasi ke areal persawahan. Kondisi ini diperparah dengan pengalokasian dana anggaran operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi yang sangat minim. Rata-rata anggaran yang dikucurkan pemerintah untuk operasi dan pemeliharaan Jaringan Irigasi Sungkur sebesar empat ratus juta rupiah, sedangkan kebutuhan nyata setiap tahunnya untuk biaya operasi dan pemeliharaan mencapai lebih dari satu milyar rupiah.

Anggaran terbatas menyebabkan pemeliharaan tidak bisa optimal, sehingga kerusakan tidak bisa tertangani semuanya. Kerusakan yang ditangani sebatas pengerukan sedimen pada jaringan irigasi, perbaikan pasangan yang mengalami kerusakan dan pemeliharaan rutin seperti pembersihan rumput, pembersihan saluran. Akibatnya operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi tidak berjalan sesuai harapan.

Perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kerusakan dan upaya pemeliharaan pada Jaringan Irigasi Sungkur dari tahun 2007 sampai tahun 2009. Diharapkan akan diketahui kecenderungan kondisi Jaringan Irigasi Sungkur dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009. Diketahuinya kecenderungan kondisi ini bisa menjadi masukan khususnya bagi Dinas Pekerjaan Umum Kab. Ponorogo untuk menentukan arah kebijakan dimasa yang akan datang.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah kondisi jaringan irigasi Sungkur Kabupaten Ponorogo dari tahun 2007 s/d 2009 ?
  2. Apakah kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan dari tahun 2007 s/d 2009 dapat meningkatkan kondisi jaringan irigasi Sungkur?
  3. Bagaimanakah kecenderungan kondisi jaringan irigasi Sungkur setelah adanya pemeliharaan dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009?

Tujuan Penelitian

  1. Mendapatkan nilai kondisi jaringan irigasi Sungkur Kabupaten Ponorogo dari tahun 2007 s/d 2009.
  2. Mengetahui apakah kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan dari tahun 2007 s/d 2009 dapat meningkatkan kondisi jaringan irigasi Sungkur.
  3. Mengetahui kecenderungan kondisi jaringan irigasi Sungkur setelah adanya pemeliharaan dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 .

Kesimpulan Pemeliharaan Jaringan Irigasi

  • Berdasar hasil analisis kondisi komponen dan sub komponen bangunan Jaringan Irigasi Sungkur dapat diketahui kondisi jaringan irigasi Sungkur dari tahun 2007 s/d tahun 2009 adalah sebagai berikut:
  1. Tahun 2007 kondisi jaringan 70,26% katagori cukup,
  2. Tahun 2008 kondisi jaringan 68,76% katagori cukup,
  3. Tahun 2009 kondisi jaringan 65,40% katagori cukup.
  • Kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan selama tiga tahun dapat meningkatkan kondisi jaringan irigasi Sungkur, akan tetapi peningkatan tersebut tidak mempengarui kecenderungan kondisinya. Meskipun ada pemeliharaan kecenderungan jaringan irigasi Sungkur dari tahun 2007 s/d 2009 tetap menurun. Berdasarkan penelitian nilai pemeliharaan tahun 2007 adalah 1,97% dan tahun 2008 adalah 3,31%.
  • Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi jaringan irigasi Sungkur dari tahun 2007 s/d tahun 2009 mengalami penurunan terus menerus. Penurunan yang terjadi dari tahun 2007 ke tahun 2008 adalah 1,5% sedangkan dari tahun 2008 ke tahun 2009 penurunan kondisi jaringan irigasi Sungkur adalah 3,36%.

Analisis Wacana Tekstual Dan Kontekstual Naskah Lakon Sandosa Sokrasana: Sang Manusia

Latar Belakang Masalah Analisis Wacana pada Naskah Lakon Sandosa Sokrasana

Aspek-aspek yang membentuk kohesi di dalam wacana harus berkesinambungan dan membentuk kesatuan struktur teks agar dapat mendukung koherensi. Konsep kohesi pada dasarnya mengacu kepada hubungan bentuk. Artinya, unsur-unsur wacana (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu wacana memiliki keterkaitan secara padu dan utuh dan dapat pula dikatakan bahwa kohesi itu merupakan aspek internal struktur wacana (Mulyana, 2005:26). Selanjutnya, HG Tarigan (1993:96) mengemukakan bahwa kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam wacana, sedangkan koherensi menurut Brown dan Yule (dalam Mulyana, 2005:30) dapat diartikan kepaduan dan keterpahaman antarsatuan dalam suatu teks atau tuturan.

1

Aspek koherensi ini sangat diperlukan keberadaannya dalam struktur wacana. Sebagaimana dinyatakan oleh Halliday dan Hasan (1992:65) bahwa sumbangan yang penting terhadap koherensi berasal dari kohesi, yaitu perangkat sumber-sumber kebahasaan yang dimiliki setiap bahasa (sebagai bagian dari metafungsi tekstual untuk mengaitkan satu bagian teks dengan bagian lainnya). hal yang mendukung kekoherensian sebuah wacana adalah konteks situasi di luar aspek formal kebahasaan. Halliday dan Hasan (1992:66) menyatakan bahwa setiap bagian teks sekaligus merupakan teks dan konteks. Dalam memusatkan perhatian pada bahasa kita harus sadar akan adanya kedua fungsi itu. Dengan demikian, pemahaman terhadap konteks menjadi penting dalam wacana karena pada hakikatnya teks dan konteks merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam wacana itu sendiri.

Naskah lakon sandosa dipilih sebagai objek penelitian karena naskah lakon sandosa adalah naskah drama yang berisi dialog dan narasi yang tetap mempunyai tingkat kohesi dan koherensi tinggi dalam membentuk wacana yang utuh. Selain itu, alasan dipilihnya naskah lakon sandosa Sokrasana: Sang Manusia adalah, pertama, naskah tersebut menggunakan bahasa Indonesia yang tidak terlalu puitis atau penuh kias, tetapi dengan bahasa yang komunikatif yaitu mudah dipahami pembaca.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah kekohesian alat-alat bahasa secara gramatikal dalam naskah lakon sandosa Sokrasana: Sang Manusia?
  2. Bagaimanakah kekohesian alat-alat bahasa secara leksikal dalam naskah lakon sandosa Sokrasana: SangManusia?
  3. Bagaimanakah konteks dalam naskah lakon sandosa Sokrasana: Sang Manusia?

Tujuan Penelitian

  1. Mendeskripsikan kekohesian alat-alat bahasa secara gramatikal dalam naskah lakon sandosa Sokrasana: Sang Manusia.
  2. Mendeskripsikan kekohesian alat-alat bahasa secara leksikal dalam naskah lakon sandosa Sokrasana: SangManusia.
  3. Menjelaskan aspek konteks dalam naskah lakon sandosa Sokrasana: Sang Manusia.

Simpulan Analisis Wacana Tekstual

  1. Kepaduan bentuk pada naskah lakon tersebut didukung oleh aspek gramatikal, seperti pengacuan (referensi), penyulihan (substitusi), pelesapan (elipsis), dan perangkaian (konjungsi). Pengacuan (referensi) yang berjumlah 293 (73,43%) merupakan salah satu peranti wacana yang cukup dominan dalam naskah lakon Sokrasana: Sang Manusia.
  2. Kohesi leksikal yang dimanfaatkan untuk memperkuat keserasian makna pada naskah lakon sandosa Sokrasana: Sang Manusia adalah repetisi, sinonimi, antonimi, kolokasi, hiponimi, dan ekuivalensi.
  3. Konteks dalam naskah lakon sandosa Sokrasana: Sang Manusia. Dalam analisis kontekstual, konteks situasi dan konteks kultural dalam wacana naskah lakon sandosa Sokrasana: Sang Manusia dapat dipahami melalui prinsip penafsiran personal, lokasional, temporal, analogi, dan analisis inferensi.

Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi Tentang Pilkada Ulang Di Jawa Timur

Latar Belakang  Putusan Mahkamah Konstitusi NOMOR. 41/PHPU.D-VI/2008

Berdasarkan UUD 1945, dalam pasal 24C, Mahkamah Konstitusi yang mempunyai wewenang yang salah satunya adalah menyelesaikan sengketa pemilihan umum. Secara hukum Mahkamah Konstitusi tidak memiliki wewenang yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar dan peraturan perundang-undangan untuk memutus atau memerintahkan pemungutan suara ulang. Wewenang Mahkamah Konstitusi terbatas pada pengambilan keputusan terhadap hasil perhitungan suara sebagai objek perselisihan pemilihan kepala daerah.

Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi

Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi

 

 

Sehingga keputusan Mahkamah Konstitusi NOMOR. 41/PHPU.D-VI/2008 tentang Pemilihan Kepala Daerah ulang di Jawa Timur ditinjau dari pendekatan teori hukum murni Hans Kelsen, maka putusan Mahkamah Konstitusi tersebut mengesampingkan dan atau tidak sesuai dengan UUD 1945 pasal 18, 22E, dan 24C, UU No.24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi pasal 1 dan10, UU No.32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah pasal 74, 75, 77, 104, dan106, dan

UU No.12 Tahun 2008 tentang perubahan atas UU No.32 Tahun 2004 pasal 233 dan 236C. Berdasarkan latar belakang tersebut sehingga penulis tertarik untuk menulis tesis dengan judul “ANALISIS YURIDIS TERHADAP PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR. 41/PHPU.D-VI/2008 TENTANG PILKADA ULANG DI JAWA TIMUR”.

Rumusan Masalah

  1. Apakah Putusan Mahkamah Konstitusi NO.41/PHPU.D-VI/2008 tentang Pemilihan Kepala Daerah ulang di Jawa Timur mengesampingkan UUD 1945 dan UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi?
  2. Bagaimana Putusan Mahkamah Konstitusi NO.41/PHPU.D-VI/2008 tentang Pemilihan Kepala Daerah ulang di Jawa Timur ditinjau dari Undang-Undang Pemerintahan Daerah (UU No. 32 Tahun 2004 yang diperbaruhi dengan UU No. 12 Tahun 2008)?

Tujuan Penelitian

  1. Untuk menganalisa atau mengkaji secara yuridis Putusan Mahkamah Konstitusi NO.41/PHPU.D-VI/2008 tentang Pemilihan Kepala Daerah ulang di Jawa Timur yang dimungkinkan melampaui wewenang dengan mengesampingkan UUD 1945 dan UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.
  2. Menganalisis Putusan Mahkamah Konstitusi NO.41/PHPU.D-VI/2008 tentang Pemilihan Kepala Daerah ulang di Jawa Timur dikaji dari Undang-Undang Pemerintahan Daerah No.32 Tahun 2004 yang diperbaruhi dengan UU No.12 Tahun 2008.

Kesimpulan

  1. Putusan Mahkamah Konstitusi NO.41/PHPU.D-VI/2008 tentang pemilihan kepala daerah ulang di Jawa Timur mengesampingkan UUD 1945 pasal 18, 22E, 24C, dan UU No.24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi pasal 1, 10, 74, 75, 77.
  2. Putusan Mahkamah Konstitusi NO.41/PHPU.D-VI/2008 tentang pemilihan kepala daerah ulang di Jawa Timur tidak sesuai dengan undang-undang Pemerintahan Daerah (UU No.32 Tahun 2004 pasal 57, 78, 81, 103, 104, 106 dan UU No.12 Tahun 2008 tentang perubahan kedua atas UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pasal 233 dan 236), dimana peraturan tersebut sebenarnya yang mengatur tentang pemilihan kepala daerah.

Saran

  1. Sebagai Negara yang berdasarkan atas hukum, maka semua yang dilakukan harus berdasarkan atas hukum.
  2. UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemeritahan Daerah dan UU No.12 Tahun 2008 atas perubahan kedua UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang secara khusus mengatur pemilihan kepala daerah dan penyelesaian perselisihan tentang hasil pemilihan kepala daerah harus dilaksanakan dengan konsisten terkait masalah perselisihan hasil pemilihan kepala daerah.

.

Ante Natal Care (Anc) Meningkatkan Risiko Persalinan Patologis

Latar Belakang Masalah Terjadinya Persalinan Patologis

Sebagai upaya untuk mengurangi komplikasi yang terjadi pada kehamilan dan persalinan, maka WHO menetapkan metode ANC dengan jumlah kunjungan hanya 4 kali. Diharapkan dengan jumlah kunjungan yang lebih sedikit, maka waktu dan biaya yang harus dikeluarkan oleh ibu hamil akan menjadi lebih sedikit sehingga ibu hamil dapat tetap memeriksakan kehamilannya dengan lengkap (Husin M, et all, 1997).

Persalinan Patologis

Persalinan Patologis

 

Tujuan ANC yaitu : memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi, meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu dan bayi, mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan, mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin, sekaligus mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal (Saifuddin, et all, 2000).

Selain itu usaha preventif dapat dilakukan pada janin dengan kelainan letak seperti knee chest position, dan versi luar. Asuhan antenatal penting untuk menjamin bahwa proses alamiah dari kehamilan sekaligus persalinan berjalan normal. Sekarang ini sudah dapat diterima bahwa setiap kehamilan membawa risiko bagi ibu.

Secara nasional cakupan K1 (kunjungan pertama kali) ke fasilitas kesehatan adalah 84,54% sedang cakupan K4 adalah 64,06% ini berarti masih terdapat 15,46% ibu hamil yang tidak melakukan kunjungan ulang ke fasilitas kesehatan (Depkes, 1997). Cakupan pelayanan ANC dapat dipantau melalui kunjungan baru ibu hamil (K1) atau disebut juga akses dan pelayanan ibu hamil sesuai standar paling sedikit empat kali dengan distribusi sekali pada triwulan pertama, sekali pada triwulan dua dan dua kali pada triwulan ketiga (K4) untuk melihat kualitas.

Pelayanan K1 adalah pelayanan/pemeriksaan kesehatan bagi ibu hamil sesuai standar pada masa kehamilan oleh tenaga kesehatan terampil (Dokter, Bidan, dan Perawat). Akan tetapi terdapat laporan dari WHO bahwa di China dengan adanya ANC terdapat peningkatan persalinan patologis dari 7,3% menjadi 12,5% dari tahun 1999 ke 2001. Hal ini kemungkinan dicurigai oleh karena cakupan ANC yang tidak memenuhi dan tempat fasilitas pemeriksaan ANC. (WHO,2002) Berdasarkan alasan ini penulis ingin mempelajari apakah ANC kurang dari 4 kali meningkatkan risiko terjadinya persalinan patologis.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ANC kurang dari 4 kali meningkatkan risiko terjadinya persalinan patologis ?

Tujuan Penelitian

  1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui apakah ANC kurang dari 4 kali meningkatkan risiko terjadinya persalinan patologis.

  1. Tujuan Khusus
  • Mengetahui data tentang frekuensi ANC ibu hamil.
  • Mengetahui data tindakan persalinan.
  • Membuktikan ANC kurang dari 4 kali meningkatkan risiko terjadinya persalinan patologis.

Kesimpulan Persalinan Patologis

  1. Pada ibu yang melakukan ANC kurang dari 4 kali mempunyai risiko persalinan patologis sebesar 111 kasus (67,3%), sedangkan ibu yang melakukan ANC 4 kali mempunyai risiko sebesar 37 kasus (22,8%).
  2. ANC kurang dari 4 kali meningkatkan risiko terjadinya persalinan patologis sebesar 5 kali yang secara statistik signifikan . (RR : 5,2 ; (P: 0,0))

Antecedent Repurchase Intention Pelanggan Pada Penggunaan M-Comerce Dalam Transaksinya

Latar Belakang Masalah Pengaruh Penggunaan M-Comerce

Lee dan Jun (2007) melakukan pengujian faktor-faktor yang berpengaruh terhadap niat pembelian ulang dalam produk atau jasa yang menggunakan m-commerce di korea selatan. Hasilnya menunjukan bahwa variabel perceived value dan cutomer satisfaction berpengaruh secara positif terhadap niat pembelian ulang. Variabel perceived value dan perceived ease of use berpengaruh positif terhadap perceived usefulness. Sedangkan variabel perceived value, perceived usefulness, dan perceived ease of use berpengaruh secara positif terhadap customer satisfaction.

Proses Pengambilan Keputusan Pembelian

Proses Pengambilan Keputusan Pembelian

 

Berdasar latar belakang masalah di atas, maka penelitian ini berusaha mengetahui faktor- faktor apa saja yang mempengaruhi minat beli konsumen terhadap produk dan jasa yang ditawarkan melalui m-commerce yang meliputi perceived value, Perceived usefulness, perceived ease of use, customer satisfaction dan repurchase intention yang kemudian  diharapkan dapat menjawab dan memenuhi persyaratan konsumen. Untuk itu, peneliti mengambil judul penelitian : ANTECEDENT REPURCHASE INTENTION PELANGGAN PADA PENGGUNAAN M-COMMERCE DALAM TRANSAKSINYA

Rumusan Masalah

  1. Adakah pengaruh contextual perceived value terhadap repurchase intention pada produk dan jasa yang dijual menggunakan m-commerce?
  2. Adakah pengaruh contextual perceived value terhadap customer satisfaction pada produk dan jasa yang dijual menggunakan m-commerce?
  3. Adakah pengaruh perceived usefulness terhadap repurchase intention pada produk dan jasa yang dijual menggunakan m-commerce?
  4. Adakah pengaruh perceived usefulness terhadap customer satisfaction pada produk dan jasa yang dijual menggunakan m-commerce?
  5. Adakah pengaruh perceived ease of use terhadap customer satisfaction pada produk dan jasa yang dijual menggunakan m-commerce?
  6. Adakah pengaruh perceived ease of use terhadap repurchase intention pada produk dan jasa yang dijual menggunakan m-commerce?
  7. Adakah pengaruh trust terhadap repurchase intention pada produk dan jasa yang dijual menggunakan m-commerce?
  8. Adakah pengaruh customer satisfaction terhadap repurchase intention pada produk dan jasa yang dijual menggunakan m-commerce?

Tujuan Penelitian

  1. Pengaruh contextual perceived value terhadap repurchase intention pada produk dan jasa yang dijual menggunakan m-commerce.
  2. Pengaruh contextual perceived value terhadap customer satisfaction pada produk dan jasa yang dijual menggunakan m-commerce.
  3. Pengaruh perceived usefulness terhadap repurchase intention pada produk dan jasa yang dijual menggunakan m-commerce.
  4. Pengaruh perceived usefulness terhadap customer satisfaction pada produk dan jasa yang dijual menggunakan m-commerce.
  5. Pengaruh perceived ease of use terhadap customer satisfaction pada produk dan jasa yang dijual menggunakan m-commerce.
  6. Pengaruh perceived ease of use terhadap repurchase intention pada produk dan jasa yang dijual menggunakan m-commerce.
  7. Pengaruh trust terhadap repurchase intention pada produk dan jasa yang dijual menggunakan m-commerce.
  8. Pengaruh customer satisfaction terhadap repurchase intention pada produk dan jasa yang dijual menggunakan m-commerce.

Kesimpulan

  1. Contextual perceived value berpengaruh signifikan terhadap repurchase intention.
  2. Contextual perceived value berpengaruh signifikan terhadap customer satisfaction.
  3. Perceived usefulness tidak berpengaruh signifikan terhadap repurchase intention.
  4. Perceived usefulness berpengaruh signifikan terhadap customer satisfaction.
  5. Perceived ease of use berpengaruh signifikan terhadap customer satisfaction.
  6. Perceived ease of use berpengaruh signifikan terhadap repurchase intention.
  7. Trust berpengaruh signifikan terhadap repurchase intention.
  8. Customer satisfaction berpengaruh signifikan terhadap repurchase intention.

 

Efektivitas Pembelajaran Open-Ended Dan Konstruktivis Terhadap Prestasi Belajar Matematika

Latar Belakang Masalah Pembelajaran Open-Ended dan Konstruktivis

Pembelajaran tidak akan berjalan dengan baik, jika peserta didik tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah dengan tingkat pengetahuan yang dimilikinya. Pada akhir proses pembelajaran, peserta didik memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda sesuai dengan kemampuannya. Untuk memutuskan (menilai) keputusannya, peserta didik harus bekerja sama dengan peserta didik yang lain.

1

Guru harus mengakui bahwa peserta didik membentuk dan menstruktur pengetahuannya berdasarkan modalitas belajar yang dimilikinya, seperti bahasa, matematika, musik dan lain-lain. Menurut faham konstruktivis, dalam proses belajar mengajar guru tidak serta merta memindahkan pengetahuan kepada peserta didik dalam bentuk yang serba sempurna. Dengan kata lain, pesera didik harus membangun suatu pengetahuan itu berdasarkan pengalamannya masing-masing.

Pembelajaran adalah hasil dari usaha peserta didik itu sendiri dan guru tidak boleh belajar untuk peserta didik. Fikiran peserta didik tidak akan menghadapi kenyataan dalam bentuk yang terasing dalam lingkungan sekitar. Realita yang diketahui peserta didik adalah realita yang dia bina sendiri, peserta didik sebenarnya telah  mempunyai satu set idea dan pengalaman yang membentuk struktur kognitif terhadap lingkungan.

Perumusan Masalah

  1. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik antara penggunaan pendekatan Open-Ended dengan pendekatan konstruktivis dalam pembelajaran matematika?
  2. Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik antara peserta didik yang memiliki motivasi belajar tinggi dengan motivasi belajar sedang, peserta didik yang memiliki motivasi belajar sedang dengan motivasi belajar rendah, dan peserta didik yang memiliki motivasi belajar tinggi dengan motivasi belajar rendah?

Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui manakah yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik antara penggunaan pendekatan Open-Ended dengan pendekatan konstruktivis dalam pembelajaran matematika.
  2. Untuk mengetahui manakah yang memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik antara peserta didik yang memiliki motivasi belajar tinggi dengan motivasi belajar sedang, peserta didik yang memiliki motivasi belajar sedang dengan motivasi belajar rendah, dan peserta didik yang memiliki motivasi belajar tinggi dengan motivasi belajar rendah.

Kesimpulan

  1. Prestasi belajar peserta didik pada pembelajaran matematika dengan pendekatan Open-Ended lebih baik dari pada penggunaan pendekatan konstruktivis.
  2. Peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi sedang, peserta didik dengan motivasi sedang memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi rendah, dan peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi rendah.

Saran Pembelajaran Open-Ended

  1. Kepada para peserta didik sebaiknya mulai mengaktifkan diri atau berperan aktif dalam setiap proses belajar mengajar serta didukung oleh keaktifan belajar di rumah untuk meningkatkan hasil belajarnya.
  2. Kepada guru kelas hendaknya mulai membiasakan diri menggunakan metode pembelajaran yang dapat menjadikan peserta didik ikut berperan aktif dalam menunjang proses belajar mengajar, salah satunya yaitu dengan pendekatan Open-Ended sehingga prestasi belajar peserta didik dapat dipacu ke arah yang lebih meningkat.

Dampak Privatisasi Telekomunikasi Uganda Terhadap Pembangunan Sosio-Ekonomi

Latar Belakang Dampak Privatisasi Telekomunikasi Uganda

Uganda terus menyentuh masalah yang sangat banyak menyoroti fokus langsung ke dalam sistem ekonominya. Salah satu bidang dominan yang banyak memberikan kontribusi untuk perekonomian Uganda telah menjadi sektor telekomunikasi. Tapi bagaimanapun, ada banyak dampak negatif yang diasumsikan masih berlanjut sebagai hasil dari privatisasi Telekomunikasi Uganda dan yang mencakup peningkatan tingkat kemiskinan akibat kehilangan banyak pekerjaan pada mantan karyawan Telekomunikasi Uganda, di seluruh negara. Hal ini meningkat untuk menekan siklus kemiskinan setelah penjualan saham 51% Telekomunikasi Uganda karena investor swasta tidak ada pada setiap titik serap (kembali dipekerjakan) seluruh mantan karyawan, dengan demikian diperkirakan menyebabkan penurunan pada pendapatan per modal. Meskipun intervensi pemerintah atas biaya atau harga untuk layanan yang sama sebelumnya dibebankan oleh pemerintah, tapi memiliki 49% kepemilikan saham memerlukan sedikit hak tapi tidak akan pernah memberikan jaminan atas setiap perkataan akhir dari pertanyaan monopolis aktual.

Oleh karena itu, masalah monopoli dari biaya tinggi dan pajak antara lain pada peningkatan layanan telekomunikasi dan kekhawatiran warga lokal di desa-desa atas hak mereka untuk layanan telekomunikasi yang tampaknya tidak terjangkau dari para investor swasta seperti Celtel-Uganda, pada saat itu, MTN-Uganda dan Mango-Uganda, dan lain-lain yang bergabung pada awal tahun 2007 sampai sekarang.

Pertanyaan Penelitian

Peneliti memfokuskan pada 3 pertanyaan sebagai berikut: i) Apakah privatisasi telekomunikasi Uganda berdampak pada kesempatan kerja (employment opportunity)? ii) Apakah privatisasi telekomunikasi Uganda berdampak pada pendapatan per kapita (per capita income)? iii) Apakah privatisasi telekomunikasi Uganda berdampak pada manfaat kepribadian (personalitybenefit)?

Tujuan

Tujuan penitian ini yang mencakup sebagai berikut: – i) menangani tinjauan kritis tentang dampak privatisasi Telekomunikasi Uganda untuk pembangunan sosial-ekonomi Uganda, ii) berfokus pada penilaian kebijakan privatisasi yang dianut dan dampaknya terhadap warga Uganda, iii) juga difokuskan pada mendapatkan pemahaman yang jelas dan analisis proses yang terlibat dalam privatisasi telekomunikasi Uganda.

Kesimpulan

Berdasarkan pada hipotesis #1, “ada hubungan antara Privatisasi Telekomunikasi Uganda terhadap Kesempatan Kerja (Employment Opportunity).” Penelitian ini sudah membuktikan bahwa privatisasi telekomunikasi Uganda menaikkan Kesempatan Kerja (Employment Opportunity) di Uganda dari 2 lokasi penelitian, yaitu Distrik Kampala yang merupakan representatif kota besar (metropolitan) dan Distrik Lira yang merupakan representatif kota kecil. Berdasarkan pada hipotesis #2, “ada hubungan antara Privatisasi Telekomunikasi Uganda dengan Pendapatan Per Kapita (Per Capita Income).” Penelitian ini sudah membuktikan bahwa privatisasi Uganda menaikkan Pendapatan Per Kapita (Per Capita Income) di Uganda dari 2 lokasi penelitiaan, yaitu Distrik Kampala yang merupakan representatif kota besar (metropolitan) dan Distrik Lira yang merupakan representatif kota kecil. Berdasarkan pada hipotesis #3, “ada hubungan antara Privatisasi Telekomunikasi Uganda dengan Manfaat Kepribadian (Personality Benefits).” Penelitian ini sudah membuktikan bahwa privatisasi Uganda menaikkan Manfaat Kepribadian (Personality Benefits) di Uganda dari 2 lokasi penelitiaan, yaitu Distrik Kampala yang merupakan representatif kota besar (metropolitan) dan Distrik Lira yang merupakan representatif kota kecil. Berdasarkan pada hipotesis #4, “ada hubungan antara Privatisasi Telekomunikasi Uganda terhadap Pembangunan Sosial-ekonomi Uganda.

 

Analisis Pembelajaran Laboratorium Keperawatan

Latar Belakang Analisis Pembelajaran Laboratorium Keperawatan

Tujuan akhir dari pendidikan diploma III Keperawatan diharapkan nantinya mampu mencetak perawat yang proporsional dan profesional menguasai Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu Pada Bencana dan Pengungsi (SPGDT S – B / P) dan mampu melakukan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD) sehingga mengerti akan arti SPGDT sehari-hari pada bencana dan pengungsi, memahami perlunya koordinasi lintas profesi, disiplin dan sektor, mampu menyelamatkan pasien dengan tepat dan cepat, mampu melakukan komunikasi, dan mampu memindahkan dan merujuk, serta mengerti artikegawatdaruratan dan mampu menilai derajat kegawatan.

Analisis Pembelajaran Laboratorium

Analisis Pembelajaran Laboratorium

 

Namun di dalam kenyataannya di dalam praktek sehari-hari sering ditemui anggapan mahasiswa akper belum mempunyai kemampuan yang cukup dalam menerapkan keterampilan yang diperoleh selama pendidikan, contohnya tindakan keperawatan gawat darurat, tindakan keperawatan pemeriksaan fisik. Penyelenggaraan pendidikan tenaga keperawatan profesional meliputi beberapa variabel antara lain:

  1. input meliputi tenaga pendidik, peserta didik, sarana, prasarana;
  2. proses, meliputi kurikulum dan pelaksanaan program;
  3. output, meliputi lulusan yang berkualitas sesuai dengan tuntutan pelayanan dan masyarakat.

Adanya kendala tersebut di atas akan mempengaruhi pembelajaran kelas dan laboratorium yang kurang optimal dan pada akhirnya kompetensi dasar asuhan keperawatan gawat darurat peserta didik tidak tercapai.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah tersebut dapat dirinci sebagai berikut :

  1. Bagaimana perencanaan pembelajaran laboratorium keperawatan Akper Kosgoro Pandaan untuk mencapai Standar kompetensi dasar asuhan keperawatan gawat darurat?
  2. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran laboratorium keperawatan Akper Kosgoro Pandaan untuk mencapai Standar kompetensi dasar asuhan keperawatan gawat darurat?
  3. Bagaimana evaluasi pembelajaran laboratorium keperawatan Akper Kosgoro Pandaan untuk mencapai Standar kompetensi dasar asuhan keperawatan gawat darurat?

Tujuan Penelitian

  1. Tujuan Umum

Untuk mendeskripsikan proses pembelajaran laboratorium keperawatan di Akper Kosgoro Pandaan untuk mencapai Standar kompetensi dasar asuhan keperawatan gawat darurat.

  1. Tujuan Khusus
    • Mengetahui gambaran mengenai perencanaan pembelajaran laboratorium keperawatan di Akper Kosgoro Pandaan untuk mencapai Standar kompetensi dasar asuhan keperawatan gawat darurat.
    • Mengetahui gambaran mengenai pelaksanaan pembelajaran laboratorium keperawatan di Akper Kosgoro Pandaan untuk mencapai Standar kompetensi dasar asuhan keperawatan gawat darurat

Simpulan Analisis Pembelajaran Laboratorium

Hasil penelitian pembelajaran laboratorium asuhan keperawatan gawat darurat di Akper Kosgoro Pandaan, dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Perencanaan pembelajaran laboratorium asuhan keperawatan gawat darurat di Akper Kosgoro Pandaan sudah terencana dengan baik dan sistematis. Namun demikian masih ada kekurangan karena beberapa langkah dalam desain instruksional untuk perencanaan pembelajaran belum dilaksanakan, yaitu langkah analisis instruksional, identifikasi perilaku dan karakteristik mahasiswa serta revisi kegiatan instruksional. Hal ini disebabkan oleh karena tidak adanya pedoman atau petunjuk khusus dari instansi terkait mengenai model desain instruksional tertentu yang dipakai, serta masih adanya perbedaan pemahaman diantara dosen pengampu dalam aplikasi desain instruksional untuk perencanaan program pembelajaran.
  2. Pelaksanaan pembelajaran laboratorium asuhan keperawatan gawat darurat di Akper Kosgoro Pandaan, dengan mempergunakan metode demonstrasi, roleplay dan diskusi sudah berjalan baik. Namun ditemukan beberapa kendala dalam pelaksana pembelajaran pembelajaran. Diantaranya berasal dari mahasiswa yaitu mahasiswa yang kurang aktif dan kurang motivasi dalam mengikuti pembelajaran laboratorium keperawatan utamanya waktu redemonstrasi.