October 22, 2014

Tesis Hubungan antara kreativitas dan persepsi peluang kerja dengan minat berwirausaha

Tesis Pendidikan Kewirausahaan – Tesis Hubungan antara kreativitas dan persepsi peluang kerja dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK tahun  diklat 2006/2007

Ide Berwirausaha

BAB I   PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Pendidikan   merupakan   wahana   untuk   mencerdaskan   kehidupan bangsa. Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, pemerintah telah berupaya membangun sektor pendidikan secara terarah, bertahap, dan terpadu dengan keseluruhan pembangunan kehidupan bangsa, baik dalam bidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, sosial, budaya maupun pertahanan dan keamanan.

Tujuan   pendidikan   menurut   Undang-Undang   Sistem   Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 adalah sebagai berikut:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang  bermartabat  dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

 Peranan pendidikan dalam pembangunan adalah mengembangkan pribadi-pribadi yang dibutuhkan oleh negara yang sedang membangun, yang pada gilirannya pribadi tersebut bisa mengubah masyarakat. Pribadi-pribadi yang  dibutuhkan  oleh  pembangunan  adalah  pribadi-pribadi  yang  berjiwa kritis,   jujur,   bertanggung   jawab,   memiliki   motivasi   yang   kuat   untuk berprestasi, memiliki keterampilan, profesional, serta berwawasan luas dan mendalam.  Pendidikan  merupakan  salah  satu  bidang  yang  memberikan  sumbangan yang sangat besar terhadap pembangunan sarana kehidupan, sehingga kehidupan manusia dari waktu kewaktu semakin baik.

Penyelenggaraan  pendidikan  di  Indonesia  dilakukan  melalui pendidikan informal, formal, dan nonformal. Pendidikan informal   adalah pendidikan  yang  diperoleh  seseorang  dari  pengalaman  sehari-hari  dengan sadar atau tidak, sejak anak lahir sampai mati, yang berlangsung dalam pengalaman sehari-hari. Pendidikan formal adalah pendidikan yang dilaksanakan secara teratur, bertingkat atau berjenjang dan mengikuti syarat- syarat  yang  jelas  serta ketat.  Pendidikan  formal,  biasanya dikenal dengan pendidikan sekolah. Pendidikan nonformal ialah pendidikan yang teratur dengan sadar dilakukan tetapi tidak mengikuti syarat atau peraturan yang tetap dan ketat.

Jenjang pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah,  dan  pendidikan  tinggi. Pendidikan  menengah  diselenggarakan untuk  melanjutkan  atau  memperluas  pendidikan  dasar  serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuannya lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi.

Pendidikan menengah terdiri dari :

  • pendidikan umum,
  • pendidikan kejuruan,
  • pendidikan luar biasa,
  • pendidikan kedinasan dan
  • pendidikan agama.

Salah satu bentuk pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 Pasal 15   menyebutkan bahwa “Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu”. Sebagai salah satu sekolah yang menghasilkan lulusan siap kerja dituntut untuk memiliki keterampilan untuk memasuki lapangan kerja, yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan sekolah kejuruan yang terdiri dari kelompok Bisnis dan Manajemen, program studi yang ada di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yaitu Akuntansi, Penjualan, dan Adimistrasi Perkantoran. Masing-masing program studi di   Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki tujuan khusus yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Sesuai dengan tujuan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yaitu menciptakan  tenaga  kerja  tingkat   menengah,   siswa  diharapkan  mampu mengisi  kebutuhan tenaga kerja pada  instansi pemerintah  maupun  swasta. Siswa SMK setelah lulus akan mencari pekerjaan sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Walaupun demikian tidak semua lulusan SMK mendapatkan pekerjaan,  sehingga dapat  menimbulkan pengangguran. Menurut  penelitian Depdikbud tahun 1994 yang dikutip oleh Rustini (2006: 43) :

“Baru 33,33% lulusan  SMK  yang  bekerja  sesuai  dengan  keahliannya,  selebihnya  yaitu 66,66% bekerja tidak sesuai dengan program keahlian yang selama ini ditekuninya atau bahkan masih menganggur”.

Sekolah Menengah Kejuruan sebagai lembaga kejuruan, juga diharapkan mampu menghasilkan individu yang mampu mengembangkan diri. Siswa diharapkan mampu menciptakan pekerjaan sendiri, apabila tidak mendapatkan  pekerjaan  di  instansi  pemerintah  maupun  swasta.  Kenyataan yang ada sekolah kejuruan belum mampu mewujudkan harapan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Wasty Soemanto (2002: 182)

“Pada saat-saat ini, kebanyakan  sekolah  kejuruan  kita  masih  berupaya  untuk  melatih  siswa menjadi tenaga-tenaga yang siap pakai bagi lapangan kerja tertentu.

Masalah utama dunia ketenagakerjaan adalah tidak sesuainya laju angkatan kerja dengan lapangan kerja yang tersedia. Dampaknya angka pengangguran  tiap  tahun  melonjak.  Dalam  20  tahun  terakhir  penyerapan tenaga kerja terus menurun. Tahun 2006 dari 106,28 juta jiwa angkatan kerja, yang terserap di bursa kerja hanya 95,18 juta jiwa, dan sisanya menganggur. Menurut litbang kompas Mei 2007 sebanyak 82,5% responden menilai pemerintah tidak memadai dalam menyediakan lapangan pekerjaan, dan hanya 1,5% responden yang menilai pemerintah memadai dalam menyediakan lapangan pekerjaan. (Kompas, 7 Mei 2007)

Menghadapi peluang kerja yang semakin sempit, mengharuskan individu  untuk  mampu  berpikir  kreatif.  Kreativitas sangat  diperlukan agar mampu mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi tanpa menggantungkan pada orang lain. Individu  yang kreatif akan tetap optimis untuk maju dan berhasil dalam hidup, walaupun dihadapkan dengan berbagai permasalahan. Pemikiran  yang  kreatif tidak  akan  takut  untuk  mencoba  hal-hal  baru  dan mengembangkannya, dan akhirnya bermanfaat bagi orang lain.

Kreativitas siswa dapat dikembangkan pada saat proses belajar berlangsung. Guru harus melibatkan kreativitas siswa, sehingga siswa tidak hanya menerima apa yang diberikan oleh guru. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya, dan siswa diberi permasalahan untuk diselesaikan. Kebiasaan yang ada pada pengajaran saat ini yaitu  guru  masih  mendominasi  pembelajaran,  sehingga  kreativitas  siswa kurang kurang berkembang. Hal ini sesuai dengan pendapat Wasty Soemanto (2002: 138) “Kebiasaan rutin yang masih dapat kita saksikan pada sekolah kita   adalah   guru   di   muka   kelas   berbicara,   menerngkan,   mendiktekan informasi, dan bertanya sedangkan murid memperhatikan, mendengarkan, dan mencatat”.

Kreativitas yang dimiliki siswa dapat dijadikan dasar untuk berwirausaha. Seorang wirausaha harus memiliki kreativitas dan keberanian tidak  bergantung  pada  oranng  lain,  keberanian  menghadapi  kondisi  dan sistuasi disekitarnya, percaya diri akan keberhasilan ide yang diciptakannya.

SMK juga membekali siswanya dengan pengetahuan kewirausahaan, yang berarti siswa diharapkan mampu mengembangkan usaha yang  bersifat  mandiri.  Keinginan untuk  mengembangkan wirausaha dikalangan siswa terus didorong agar siswa mempunyai keyakinan dan kepercayaan diri sehingga dapat membuka usaha sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Keinginan siswa untuk menekuni kewirausahaan mungkin timbul setelah dihadapkan dengan sedikitnya peluang kerja, sehingga siswa terdorong untuk mengembangkan usaha sendiri.

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas maka hubungan antara kreativitas dan persepsi peluang kerja dengan minat berwirausaha dipandang perlu diteliti dan dikaji lebih lanjut. Oleh karena itu, peneliti mengambil judul “HUBUNGAN  ANTARA KREATIVITAS DAN PERSEPSI PELUANG  KERJA  DENGAN  MINAT  BERWIRAUSAHA PADA  SISWA  KELAS   XI  SMK  TAHUN DIKLAT 2006/2007”.

Diklat Kewirausahaan

B.  Identifikasi Masalah

Berdasarkan masalah yang diuraikan di atas, peneliti mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:

  1. Sekolah  Menengah  Kejuruan  (SMK)  selain  diharapkan  mampu menciptakan tenaga kerja tingkat menengah, juga diharapkan mampu menciptakan individu yang mampu mengembangkan diri sebagi pencipta lapangan  kerja,  akan  tetapi  kenyataan  yang  ada  sekolah  menengah kejuruan belum mampu mewujudkan harapan tersebut.
  2. Siswa SMK setelah lulus akan mencari pekerjaan yang telah disediakan oleh instansi pemerintah maupun swasta, akan tetapi tidak semuanya mendapatkan pekerjaan yang diharapkan.
  3. Peluang kerja khususnya dibidang formal semakin sempit. Hal ini akan mempengaruhi  bermacam-macam  kesan  siswa  terhadap  peluang  kerja yang ada pada saat  ini. Berdasarkan kesan tersebut apakah siswa akan mengambil keputusan yang terbaik ataukah tidak.
  4. Kreativitas siswa dapat dikembangkan pada saat proses belajar mengajar berlangsung, akan tetapi pengajaran yang ada pada saat ini masih bersifat konvensional, sehingga kreativitas siswa kurang berkembang.

C.  Pembatasan Masalah

Dari identifikasi masalah yang disebutkan di atas tidak semuanya dibahas dalam penelitian ini. Masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini dibatasi pada:

  1. Peluang kerja khususnya dibidang formal semakin sempit. Hal ini akan mempengaruhi  bermacam-macam  kesan  siswa  terhadap  peluang  kerja yang ada pada saat  ini. Berdasarkan kesan tersebut apakah siswa akan mengambil keputusan yang terbaik ataukah tidak.
  2. Kreativitas siswa dapat dikembangkan pada saat proses belajar mengajar berlangsung, akan tetapi pengajaran yang ada pada saat ini masih bersifat konvensional, sehingga kreativitas siswa kurang berkembang.

Sedangkan  definisi  operasional  dari  pembatasan  masalah  tersebut adalah:

1.  Kreativitas

Kreativitas yang dimaksudkan disini adalah kemampuan yang baru dan asli, yang belum dikenal maupun suatu cara untuk memecahkan masalah baru yang dihadapi. Perlu dijelaskan bahwa dalam penelitian ini hanya ditekankan pada kemampuan siswa dalam berpikir kreatif.

2.  Persepsi Peluang Kerja

Persepsi peluang kerja yang dimaksudkan disini adalah kesan, tanggapan, atau pendapat siswa tentang peluang kerja yang disediakan oleh instansi pemerintah maupun sawasta.

3.  Minat Berwirausaha

Minat berwirausaha yang dimaksudkan disini adalah tanggapan siswa yang berupa sikap yang diikuti adanya kesadaran untuk memberikan perhatian, perasaan tertarik, dan perasaan senang terhadap wirausaha termasuk di dalamnya usaha-usaha untuk mempelajari dan terjun langsung di bidang tertentu.

D.  Perumusan Masalah

Berdasarkan  latar  belakang  yang  diuraikan  di atas  peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah ada hubungan antara kreativitas dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK  Tahun Diklat 2006/2007?
  2. Apakah ada hubungan antara persepsi   peluang kerja dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK Tahun Diklat 2006/2007?
  3. Apakah  ada  hubungan  antara  kreativitas  dan  persepsi  peluang  kerja dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK  Tahun Diklat 2006/2007?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian mengenai hubungan antara kreativitas dan persepsi peluang kerja dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK  tahun diklat 2006/2007 tersebut di atas adalah:

  1. Mengetahui ada tidaknya hubungan antara kreativitas dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK  Tahun Diklat 2006/2007.
  2. Mengetahui ada tidaknya hubungan antara persepsi peluang kerja dengan minat berwirausaha pada siswa kelas XI SMK  Tahun Diklat 2006/2007.
  3. Mengetahui ada tidaknya hubungan antara kreativitas dan persepsi peluang kerja  dengan  minat  berwirausaha  pada  siswa  kelas  XI  SMK  Tahun Diklat 2006/2007.

Tag : Tesis Pendidikan Kewirausahaan

Incoming search terms: